Ketika Istriku Menjadi Budak Seks Bos-ku 2

Posted May 17, 2010 by sigadisseksi
Categories: kisah seks

Bagian I: Pendahuluan

Audrey

Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak. Selama tiga minggu itu tidak ada apapun yang terjadi. Aku dan istriku Audrey masih menuruti instruksi yang diberikan Wen sebelum kami pulang dari puncak, namun tidak ada tanda-tanda Wen akan meneruskan aksinya terhadap Audrey. Di kantor tempatku bekerja Wen tidak pernah membicarakan kejadian di puncak itu, dia bertindak seolah-olah kejadian di puncak tidak pernah terjadi dan akupun bekerja seperti biasa yaitu membantu Wen dalam manajemen kantor sehari-hari, meskipun semenjak kejadian 3 minggu lalu itu aku dan Wen menjadi tidak akrab seperti biasanya. Kami jarang mengobrol satu sama lain, adapun apabila harus berbicara dengan Wen hanyalah sebatas pembicaraan yang terkait dengan pekerjaan. Selama tiga minggu itu, Audrey tidak pernah keluar rumah. Bel kecil di bibir atas vaginanya dan larangan memakai BH dan celana dalam membuatnya risih untuk keluar rumah. Setiap Audrey melangkah pasti terdengar bel kecil itu berbunyi pelan. Mungkin pembantu-pembantu dan supir di rumah sebenarnya mendengar dentingan bel kecil itu, hal itu terlihat di raut wajah mereka ketika Audrey ada di sekitar mereka. Raut wajah mereka menampakkan kebingungan dan kecurigaan karena mendengar bunyi bel kecil dari dalam rok majikan perempuannya, namun mereka tidak ada yang berani bertanya ataupun berkata apa-apa.

Di rumahku aku dan Audrey mempekerjakan 2 pembantu wanita, 1 pembantu pria dan seorang supir. Salah satu pembantu wanita kami yang biasa kami panggil bi Minah seorang wanita tua yang bertugas memasak dan mencuci pakaian. Satu pembantu wanita kami yang lain bernama panggilan Mar seorang wanita muda berumur 18 tahunan yang bertugas membersihkan rumah, sedangkan pembantu pria dan supir kami masing-masing bernama Sudin dan Amir. Keduanya berumur sekitar 50 tahunan dan berkulit sangat hitam tanda seringnya terkena terik sinar matahari. Pembantu-pembantu dan supir di rumah terlihat menyadari perubahan pada diri Audrey, terutama Sudin dan Amir. Mereka sering terlihat memandangi istriku di rumah, meskipun setiap kali aku melihatnya mereka memalingkan muka dan pura-pura sedang tidak memandangi Audrey. Audrey di rumah tidak pernah lagi memakai BH dan celana dalam, hal itu sesuai dengan instruksi Wen. Ada rasa kekuatiran bahwa pembantu dan supir di rumah mengetahui hal itu, apalagi setelah melihat akhir-akhir ini Sudin dan Amir sering memandangi istriku dengan tatapan yang lain, sedikit mesum terpancar di muka mereka yang hitam itu. Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak…, ketika pada suatu malam telepon kami berdering. Audrey mengangkat telepon dan terlihat berbicara dengan serius dengan orang di seberang telepon itu. Setelah 10 menit berbicara, Audrey menutup telepon dan dengan muka pucat menghampiriku. Audrey menceritakan bahwa yang menelepon barusan adalah Wen. Wen akan datang ke rumah besok siang dan memerintahkan istriku untuk mempersiapkan diri…

*******************************

Bagian II: Pelecehan di Rumah

Mr. Wen

Keesokan harinya, aku ke kantor seperti biasanya, karena ketika Wen menelepon Audrey tadi malam, Wen tidak menginstruksikan apa-apa yang berkaitan dengan diriku. Hari itu di kantor Wen memberikanku banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Terus terang aku tidak bisa konsentrasi di kantor. Perasaanku campur aduk mengingat telepon Wen pada istriku tadi malam, namun Wen tidak mengatakan apapun kepadaku tentang janjinya dengan Audrey siang ini. Wen memperlakukanku seolah-olah aku tidak mengetahui rencananya siang ini dengan Audrey. Menjelang istirahat makan siang, aku melihat Wen meninggalkan kantor. Melihat itu hatiku semakin campur aduk. Aku bisa menebak Wen akan pergi kemana, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor. Aku semakin tidak bisa konsentrasi dan pikiranku semakin kacau ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan belum ada tanda-tanda Wen kembali ke kantor. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Hp Audrey. “Tuut…tuut…tuut…” bunyi nada panggil di Hp Audrey tidak ada yang mengangkat. Setelah beberapa detik kemudian baru ada yang mengangkat, dan yang mengangkat adalah Wen.

“Tom, tenang saja, Audrey tidak apa-apa, kamu tidak perlu kuatir” suara Wen terdengar seakan-akan dia tahu kekuatiranku.

“Kamu tolong selesaikan dulu pekerjaan-pekerjaan yang saya kasih hari ini” perintah Wen kemudian lalu menutup Hp itu.

Perasaanku semakin kacau balau karena mengetahui ternyata Wen masih berada di rumahku, apalagi secara sayup-sayup aku mendengar erangan-erangan istriku di latar belakang suara Wen di HP. Dengan perasaan kalut akupun berusaha dengan cepat mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan Wen kepadaku. Namun karena banyaknya pekerjaan yang diberikan Wen, aku baru bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut kurang lebih pukul 7 malam. Begitu semua pekerjaan selesai, akupun segera pulang ke rumah. Di jalan, Amir supirku aku suruh mengendarai mobil dengan cepat sehingga aku dapat sampai ke rumah dengan segera.

Sesampainya di rumah, aku melihat mobil Wen masih berada di drive way rumahku. Aku sempat mendengar Amir supirku mengatakan “Kok ada mobil Pak Wen?”, namun aku tidak menjawab atau memperhatikan kata-kata supirku lagi, aku langsung keluar mobil dan masuk rumah dari pintu samping. Di dalam rumah, aku tidak melihat istriku atau Wen di ruang tamu maupun di ruang tengah. Akupun langsung naik ke lantai atas menuju kamar tidur utama rumahku. Pintu kamar utama ternyata terkunci dari dalam. Aku mengetuknya pelan beberapa kali sambil memanggil-manggil nama Audrey. Setelah beberapa menit, pintu kamar itu terbuka. Ternyata yang membukakan pintu adalah Wen. Kemudian Wen mempersilahkan aku masuk ke dalam kamarku sendiri tersebut. Ternyata di dalam kamar sudah ada satu lagi pria yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Wen memperkenalkan aku dengan pria tersebut yang ternyata adalah anaknya Wen. Namanya Peter, umurnya kurang lebih 20 tahun, badannya kekar tanda dia sering pergi ke fitness center dan matanya sipit seperti bapaknya. Aku belum pernah melihat Peter sebelumnya, karena Wen memang selalu tidak pernah mengajak keluarganya dalam acara-acara kantor. Aku hanya pernah mendengar bahwa Wen adalah seorang duda dengan satu orang anak. Aku mengira bahwa selama ini anaknya Wen berada di Cina, ternyata dugaanku meleset, karena sekarang berdiri di hadapanku, Peter anaknya Wen yang nampak sekali sudah cukup lama berada di Jakarta bersama bapaknya, hal itu dapat dilihat dari betapa fasihnya Peter dalam berbahasa Indonesia. Baik Wen dan Peter sudah berpakaian lengkap, hanya kaus kaki dan sepatu saja yang belum mereka kenakan. Pertama kali melihatku, Peter terlihat canggung dan merasa tidak enak.

“Ter, seperti sudah papa katakan kepadamu, Audrey itu sudah mempunyai suami, dan suaminya telah setuju bahwa kita boleh melakukan apa saja terhadap istrinya. Terbukti kan papa tidak bohong” kata Wen tiba-tiba kepada Peter karena melihat kecanggungan Peter di hadapanku.

Peter

“Sekarang kamu nikmati saja malam ini. Papa ada tontonan menarik buatmu” sambung Wen kepada Peter yang membuat jantungku semakin berdegup kencang. Peter yang diajak bicara tidak menjawab, dia hanya mengangguk-angguk pelan.

“Tontonan? Apalagi ini yang akan diperbuat Wen kepada istriku” pikirku kalut dalam hati.

Setelah beberapa menit baru aku bisa menenangkan diri, dan aku baru menyadari bahwa Audrey tidak berada di kamar itu. Rupanya Audrey sedang di kamar mandi untuk membersihkan diri, hal itu aku ketahui dari bunyi shower di kamar mandi yang memang berada di kamar itu. Aku, Peter dan Wen tidak berbicara apapun lagi, kami hanya menunggu Audrey di kamar mandi. Aku merasa canggung berada dengan 2 pria lain di kamarku sendiri. Peter juga terlihat canggung, dia hanya terlihat beberapa kali berbisik kepada Wen. Setelah beberapa menit, Audrey keluar dari kamar mandi. Audrey hanya menggunakan handuk melilit di tubuhnya. Audrey terlihat sedikit terkejut ketika dia mengetahui aku sudah berada di kamar. Mukanya terlihat malu.

“Audrey segera siap-siap sesuai perintahku” kata Wen kepada Audrey memecah keheningan kamar. Audrey hanya menggangguk menurut.

Melihat anggukan Audrey, Wen kemudian melangkah keluar kamar sambil menyuruhku dan Peter mengikutinya. Kami pun keluar dari kamar tidur utama meninggalkan Audrey sendiri dan kami menuju ruang TV di lantai bawah. Sesampainya di ruang TV, Wen menyuruh Peter dan aku meminggirkan meja di ruang TV sehingga hanya tinggal sofa dan karpet di ruang TV itu. Wen dan Peter duduk di sofa panjang sedangkan aku diminta duduk di sofa kecil di ruang TV. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, nampak Audrey turun dari lantai atas. Audrey sudah mengenakan make-up dengan rambut tertata rapi, namun Audrey tidak mengenakan pakaian apapun juga. Audrey turun ke ruang TV dalam keadaan telanjang bulat, di vaginanya yang bersih terlihat cincin emas dan bel kecil masih tergantung. Terus terang Audrey terlihat sangat cantik sekali dengan kepolosannya itu yang membuat penisku segera mengencang.

Sesampainya di ruang TV, Audrey langsung berdiri di tengah ruangan menghadap ke arah Wen dan Peter. Terlihat Audrey sedikit malu karena melihat kehadiranku diruang TV itu.

“Nah, Audrey, setelah saya dan anakku ini menikmati tubuhmu dari siang, sekarang saya ingin melihat apakah kamu sudah siap untuk benar-benar menjadi budak seksku” kata Wen tiba-tiba kepada Audrey.

Audrey yang ditanya hanya mengangguk pelan.

“Sekarang kamu panggil pembantu laki-laki dan supirmu kesini” perintah Wen kepada Audrey.

“Ter, kamu juga panggil si Kisno kesini” perintah Wen kepada Peter sambil menunjuk ke arah luar rumah menandakan Peter harus memanggil Kisno supir pribadi Wen yang menunggu diluar.

Mendengar apa yang dikatakan Wen, Audrey dan aku sangat kaget. Kami tidak percaya dengan apa yang baru kami dengar.

“Maaf Pak Wen, kelihatannya jangan sejauh itu” kataku kepada Wen.

“Ya terserah kamu Tom, tapi jangan salahkan saya kalau dvd rekaman persetubuhan Audrey tersiar luas di internet atau bahkan sampai ke tangan orang tua Audrey” jawab Wen kalem.

Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa memandang Audrey untuk menanyakan pendapatnya. Audrey hanya diam saja, air mata menetes di kedua pipinya.

“Bagaimana? Ini terserah kalian” sahut Wen kepadaku dan Audrey sambil memberi isyarat kepada Peter untuk bangkit dari sofa.

Melihat Wen dan Peter bangkit dari sofa, Audrey segera berlutut dan meraih paha Wen.

“Ampuun Pak Wen, saya akan lakukan apa saja, asal jangan dengan pembantu atau supir…malu saya…” tangis Audrey mengiba kepada Wen.

Sudin

“Aaahh…kamu itu budak seksku, kamu harus menurut apapun yang saya suruh tahu! Lagian pembantu-pembantumu pasti sudah curiga, dari tadi siang saya ada di dalam kamarmu. Apa lagi yang kamu harus sembunyikan” hardik Wen kepada Audrey.

“Saya hitung sampai 10, apabila tetap tidak mau, saya akan pergi dari rumahmu sekarang juga, tapi jangan salahkan saya kalau rekaman persetubuhanmu sampai ke tangan orang tuamu” lanjut Wen tegas.

“1…..2……3……4…….5…….6……7…..” hitungan Wen dimulai.

Pada hitungan ke delapan, Audrey bangkit dari posisi berlutut. Dengan gemetar dan isak tangis Audrey menuju interkom yang berada di dinding ruang TV.

“Pak Sudin….Pak Amir…” suara Audrey bergetar memanggil pembantu laki-laki dan supirku.

“Ya bu..” terdengar jawaban Sudin dari seberang interkom.

“Tolong Pak Sudin dan Pak Amir ke ruang TV” lanjut Audrey masih dengan suara bergetar menahan tangis.

“Baik bu” jawab Sudin kemudian.

Mendengar itu, Wen segera meyuruh Peter untuk memanggil Kisno supir pribadinya yang menunggu diluar. Peter yang sudah dapat menebak apa yang diinginkan bapaknya dengan sedikit berlari segera keluar rumah.

“Jangan lupa bilang si Kisno bawa videocamnya” sahut Wen kepada anaknya.

Audrey telah kembali berdiri di tengah ruang TV sambil menangis ketika Sudin dan Amir tiba di ruang TV.

“Ada……aaapppaaaaaa…” Amir tidak dapat melanjutkan kata-katanya, nampak sekali dia kaget ketika tiba di ruang TV dan melihat majikan perempuannya dalam keadaan telanjang bulat di tengah ruang TV.

Baik Amir maupun Sudin hanya berdiri terpana melihat keadaan Audrey. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Meskipun raut muka mereka nampak kaget, namun mata mereka tidak bisa lepas dari pemandangan indah yang ada di hadapan mereka.

Amir

“Naahh, Sudin dan Amir, malam ini majikanmu mau memberimu hadiah atas kesetian kalian selama ini” kata Wen tiba-tiba memecah keheningan di ruang TV itu.

Mendengar kata-kata Wen, Sudin dan Amir diam saja. Mereka mengerti apa maksud kata-kata Wen, namun mereka berdua langsung menatapku seakan minta kepastian dariku. Karena masih kaget dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat, aku hanya diam saja dan malah memandang ke arah Audrey seakan-akan menyuruh Sudin dan Amir menanyakannya langsung ke Audrey.

“Audrey, hentikan tangismu! Cepat katakan apa yang saya telah ajarkan kepadamu sepanjang siang” sahut Wen dengan keras kepada Audrey.

“Tuan-tuan, sa..saya..si..siap melayani tuan-tuan…silahkan pa..pakai se..seluruh lubang yang ada pada diri saya untuk ke…kenikmatan tuan-tuan” kata Audrey terbata-bata sambil menahan tangisnya.

“Nah, Sudin dan Amir, kalian sudah dengar sendiri kan. Silahkan langsung saja jangan malu-malu. Majikanmu sudah memperbolehkan. Saya hanya minta boleh direkam ya….” kata Wen terkekeh sambil mengambil video kamera dari tangan Kisno yang ternyata juga bersama Peter telah tiba di ruang TV.

“Kisno, kamu ajari Sudin dan Amir supaya tidak malu-malu” perintah Wen kemudian kepada Kisno supirnya.

“Siaap boss” jawab Kisno cepat sambil menghampiri Audrey.

Kemudian Kisno menjambak rambut Audrey dengan tangan kirinya dan menariknya ke belakang sehingga wajah Audrey terdongak ke atas.

“Mir, Din. Majikanku ini selalu membagi budak seksnya kepadaku. Sekarang majikanmu ini sudah jadi budak seksnya, sehingga beruntunglah kalian bisa ikutan menikmatinya. Ayo jangan malu-malu, kapan lagi bisa menikmati dan memperbudak majikan sendiri…haa..haa….haa..” kata Kisno kepada Sudin dan Amir sambil tertawa dan tangan kanannya mulai meraba-raba kedua payudara dan vagina Audrey.

Dengan ragu-ragu, Sudin dan Amir menghampiri Audrey. Tangan-tangan mereka mulai menggerayangi tubuh dan paha mulus Audrey. Melihat Audrey hanya diam saja, tangan-tangan Sudin dan Amir semakin berani menggerayangi tubuh Audrey. Tangan-tangan mereka mulai ikut-ikutan meraba-raba kedua payudara dan vagina Audrey.

Kisno

“Senyum! Jangan mewek aja kalau lagi ngelayanin tuan-tuanmu ini!” bentak Kisno keras kepada Audrey.

Audrey yang mendengar bentakan Kisno berusaha tersenyum dengan terpaksa.

“Cium kedua majikan kamu ini dengan mesra” perintah Kisno selanjutnya kepada Audrey sambil melepaskan jambakannya pada rambut Audrey.

Audrey meskipun terlihat terpaksa kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Amir dan mulai mencium bibir Amir dengan mesra. Ciuman Audrey pada supirku itu tidak bertepuk sebelah tangan. Amir langsung membalas ciuman Audrey dengan ganas. Lidahnya langsung masuk ke mulut Audrey dan mengobok-obok mulut Audrey sampai-sampai Audrey kesulitan bernapas dan tersedak. Kemudian Audrey beralih kepada Sudin. Kembali kedua tangannya dilingkarkan di leher pembantuku itu, dan bibirnya mulai menciumi bibir Sudin. Tidak seperti Amir, Sudin membalas ciuman Audrey dengan mesra. Sudin sedikit menarik Audrey dari Kisno dan Amir, sehingga Audrey dan Sudin dapat berciuman dengan mesra berdua tanpa gangguan Amir dan Kisno. Sambil tetap berciuman dengan Audrey, Sudin melingkarkan tangan kirinya di pinggul Audrey dan tangan kanannya digunakan untuk meraba-raba dan mempermainkan klitoris Audrey. Setelah berciuman beberapa menit sambil mempermainkan klitoris Audrey, Sudin menurunkan tangan kirinya ke bongkahan pantat Audrey. Diraba-rabanya kedua bongkahan pantat Audrey itu, dan kemudian dengan sedikit menahan pantat Audrey dengan telapak tangan kirinya, Sudin memasukan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya ke dalam vagina Audrey dengan jempol tangan kanan Sudin tetap mempermainkan klitoris Audrey.

“Eegghhh…” terdengar erangan kecil Audrey ketika kedua jari Sudin memasuki vaginanya.

“Suka?” tanya Sudin kepada Audrey sambil melepaskan ciumannya pada Audrey. Audrey tidak menjawab, dia hanya diam saja.

Melihat Audrey hanya diam saja, Sudin menekan kedua jarinya di dalam vagina Audrey dengan sedikit keras.

“Egghh….” terdengar erangan Audrey sedikit mengeras.

“Suka?” tanya Sudin lagi kepada Audrey dengan sedikit tegas.

Mendengar pertanyaan Sudin untuk kedua kalinya, Audrey mengangguk pelan untuk menjawab dan menyenangkan hati Sudin.

“Eh..sini Din, jangan dipakai sendiri aja, kita juga mau” kata Kisno tiba-tiba sambil menarik Audrey dari Sudin.

“Ayo sini, layani kita bertiga sekaligus” kata Kisno sambil menarik Audrey kembali ke tengah ruang TV yang segera diikuti oleh Amir dan Sudin.

“Ayo pelacur, kamu kan sudah diajari Pak Wen dari tadi siang, tunjukkan keahlianmu” perintah Kisno kepada Audrey.

Kini Audrey yang telanjang bulat dikelilingi oleh Kisno, Sudin dan Amir di tengah ruang TV. Tanpa perlu diperintah lebih lanjut, Audrey mulai melepaskan pakaian Kisno, Sudin dan Amir. Setelah seluruh pakaian ketiganya lepas, Audrey kemudian berlutut dan mulai melepaskan celana dan celana dalam Kisno, Sudin dan Amir sehingga Kisno, Sudin dan Amir menjadi telanjang bulat. Terlihat sedikit kaget Audrey melihat selangkangan dan penis-penis Kisno, Sudin dan Amir. Selangkangan Kisno, Sudin dan Amir ditumbuhi bulu-bulu yang sangat lebat tidak terurus, ketiga penis mereka semuanya berwarna hitam, berukuran besar-besar dan sudah mengeras. Nampak penis Kisno sedikit berbeda dari yang lainnya. Di penis Kisno terlihat mempunyai tonjolan-tonjolan bulat, sepertinya di dalam kulit penis Kisno seakan-akan ada beberapa kelereng kecil yang dapat bergerak-gerak dan membuat kulit penis Kisno menjadi tidak rata dan bergelombang. Selain daripada keanehan itu, terlihat kedua sisi penis kisno juga ditindik dengan beberapa cincin emas seperti yang ada pada bibir atas vagina Audrey, namun yang membedakannya adalah di cincin-cincin pada penis Kisno itu di beberapa bagiannya tertutup dengan bulu-bulu kasar seperti sabuk kelapa. Melihat penis Kisno yang sangat aneh itu, terlihat wajah Audrey menjadi panik dan ketakutan. Air mata kembali meleleh di kedua pipinya.

“Hehehehe….jangan takut” kata Kisno tiba-tiba kepada Audrey.

“Penis ini akan membawa kenikmatan untukmu pelacur! Pak Wen khusus membawaku ke Cina untuk menjadikan penisku ini sumber kenikmatan wanita yang tidak ada taranya. Jadi kamu harus merasa beruntung dapat mencicipi penisku ini. Kamu pasti akan ketagihan seks setelah merasakan penisku ini” kata Kisno dengan sedikit tertawa.

Setelah mengatakan hal itu, tanpa menunggu apa-apa lagi, Kisno langsung menarik muka Audrey ke arah selangkangannya. Dan dengan sedikit memaksa tangan Kisno membuka mulut Audrey dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Audrey. Audrey dengan sedikit gelagapan berusaha membuka mulutnya lebar-lebar agar dapat menerima penis Kisno yang besar itu. Kisno langsung memompa penisnya pada mulut Audrey dengan cepat sampai Audrey tersedak-sedak. Setelah beberapa menit memompa mulut Audrey dengan penisnya, Kisno kemudian memalingkan wajah Audrey ke arah penis Amir. Audrey mengerti apa yang diminta, dia langsung membuka mulutnya dan mulai melakukan oral service pada penis Amir. Raut muka Amir menampakkan kegembiraan yang amat sangat ketika penisnya mulai dioral oleh mulut Audrey. Dia kelihatannya tidak mempercayai apa yang sedang terjadi, dia tidak pernah menyangka bahwa majikan perempuannya yang muda dan cantik mau mengulum-ngulum, menghisap-hisap dan menjilati penis tuanya. Selagi mengoral service penis Amir, Kisno meraih tangan kiri Audrey dan mengarahkan ke penisnya. Audrey seperti wanita yang sudah terlatih langsung mengerti kemauan Kisno dan mulai mengocok-ngocok penis Kisno dengan tangan kirinya. Melihat itu Sudin juga tidak mau kalah dan meraih tangan kanan Audrey dan mengarahkannya ke penisnya. Tanpa diperintah lagi Audrey juga langsung mengocok-ngocok penis Sudin. Terlihat pemandangan yang sangat menakjubkan di hadapanku. Audrey yang cantik jelita, berkulit mulus dan putih sedang melayani 3 laki-laki yang buruk rupa sekaligus.

2 laki-laki itu yang sedang dilayani Audrey adalah pembantu dan supirnya sendiri yang sudah berusia 50 tahunan, sedangkan pria satu lagi, si Kisno, meskipun umurnya kira-kira seumuranku, namun mukanya dapat dikatakan yang paling buruk jika dibandingkan dengan yang lain, dan dengan tubuh gempalnya Kisno terlihat seakan-akan seperti raksasa jika dibandingkan dengan tubuh Audrey. Setelah beberapa menit mengoral penis Amir, wajah Audrey kembali dipalingkan oleh Kisno. Kali ini ke penis Sudin. Audrey langsung menurut dan mulai menjilati dan menghisap-hisap penis Sudin sedangkan tangan kanannya beralih ke penis Amir. Setelah beberapa menit melayani penis Sudin dengan mulutnya, wajah Audrey kembali dipalingkan ke penis Kisno dan tangannyapun beralih ke penis yang lain yang sedang tidak dioralnya. Kemudian beberapa menit kemudian beralih lagi ke penis Amir dan kemudian ke penis Sudin dan begitu seterusnya sehingga ketiga penis hitam raksasa itu diservicenya bergantian. Selain menjilati dan menghisap ketiga penis itu, Wen yang sedari tadi asyik merekam adegan Audrey dengan Kisno, Sudin dan Amir memerintahkan Audrey untuk mengulum-ngulum biji-biji kemaluan Kisno, Sudin dan Amir serta juga menjilati paha dalam ketiganya. Audrey juga diperintahkan Wen, untuk melakukan deep throat pada ketiga penis itu, hal mana dipenuhi oleh Audrey dengan susah payah karena begitu besarnya penis-penis itu. Audrey menuruti semua instruksi Wen meskipun terlihat beberapa kali Audrey merasa tidak nyaman karena bau dari penis-penis dan selangkangan-selangkangan Kisno, Sudin dan Amir, namun dengan pasrah Audrey terpaksa menurutinya. Sedangkan Kisno, Sudin dan Amir terlihat keenakan dioral dan dijilati oleh Audrey, muka-muka mereka sudah nampak mesum keenakan. Setelah hampir satu jam memberikan oral service kepada Kisno, Sudin dan Amir, nampak peluh mulai sedikit membasahi tubuh Audrey. AC di ruang TV sedikit banyak membantu Audrey sehingga peluh tidak membanjiri tubuhnya. Audrey yang sedang mengulum penis Sudin mempercepat gerakannya, kelihatannya Audrey mengetahui bahwa Sudin hampir mencapai klimaksnya.

“Good…good….telan semua ya….” perintah Wen seakan-akan tahu apa yang akan terjadi.

Audrey tidak menjawab, dia malah makin mempercepat gerakannya mengoral service penis Sudin. Dan tidak beberapa lama kemudian Sudin memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey yang langsung ditelan semuanya oleh Audrey, hal mana terlihat dari tenggorokan Audrey yang bergerak-gerak menelan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Setelah menelan seluruh sperma Sudin, Audrey berpindah ke penis Amir. Dihisap-hisapnya penis Amir dengan mulutnya sambil tangan kanannya yang kini bebas mengelus-elus biji kemaluan Amir. Tidak beberapa lama kemudian, Amirpun memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey dan seluruh sperma itupun ditelan habis oleh Audrey. Terakhir adalah giliran Kisno. Audrey menghisap-hisap dan menjilati penis Kisno dan kedua tangan Audrey mengelus-elus biji kemaluan dan paha dalam Kisno. Terlihat sekali Audrey berusaha memberikan rangsangan yang hebat untuk Kisno agar Kisno cepat mengalami orgasme dan penderitaan Audrey dalam memberikan oral service dapat segera berakhir. Namun rupanya Kisno mempunyai stamina yang cukup bagus, sehingga perlu waktu yang cukup lama bagi Audrey untuk membuat Kisno orgasme dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey. Ketika seluruh sperma Kisno telah ditelan habis oleh Audrey, Kisno kembali menjambak rambut Audrey dan menariknya ke atas dengan kasar sehingga Audrey terpaksa berdiri. Kemudian Kisno meraih cincin emas dan bel kecil di bibir atas vagina Audrey dengan kasar.

“Oooucchh….” terdengar jeritan kecil kesakitan keluar dari mulut Audrey.

Kemudian Kisno dengan menarik cincin emas dan bel kecil itu menuntun Audrey ke sofa tunggal yang menghadap TV LCD 42’ di ruang TV rumahku. Suatu pemandangan yang juga sangat menakjubkan, Kisno yang bertubuh besar dan gempal itu menarik cincin dan bel kecil itu dan dengan terpaksa dan sambil menahan sakit Audrey yang cantik mengikutinya. Kisno dengan seenaknya menarik cincin dan bel keci itu seakan-akan dia sedang menarik cincin dihidung seekor sapi, namun bukan sapi yang ditarik melainkan istriku Audrey di vaginanya.

Audrey didudukan oleh Kisno di sofa tunggal itu, masing-masing kedua kakinya dibuka lebar diletakkan di lengan-lengan sofa tersebut sehingga posisi Audrey sekarang duduk di sofa dengan kedua kaki mengangkang lebar. Wen memberi isyarat kepada Audrey untuk tidak bergerak dalam posisi itu. Kemudian Wen menyambungkan sebuah kabel panjang ke TV LCD 42’ yang berada di hadapan Audrey. Dan setelah kabel tersambung, nampaklah gambar Audrey di TV itu sedang mengangkang lebar di sofa.

“Nah, sekarang baru asyik. Kamu bisa melihat secara live persetubuhanmu sendiri” kata Wen kepada Audrey.

Audrey tidak menjawab apa-apa. Kemudian Wen memerintahkan Audrey untuk membuka vaginanya dengan jari-jari tangannya sendiri. Audrey dengan sedikit ragu menurutinya. Audrey membuka vaginanya sendiri dengan lebar-lebar. Lalu Wen memerintahkan Audrey untuk mengatakan hal-hal yang tidak senonoh, seperti “saya pelacur yang siap melayani”, “vagina saya sudah ingin sekali dimasuki penis yang besar” dan lain-lain. Audrey pada awalnya tidak mau menuruti perintah Wen, namun setelah diancam oleh Wen bahwa rekaman persetubuhannya akan tersebar di internet, Audreypun menuruti dengan sedikit isak tangis dan air mata yang meleleh di kedua pipinya. Setelah puas mempermalukan Audrey, Wen memberikan isyarat kepada Kisno, dan Kisnopun langsung berlutut didepan selangkangan Audrey dan mulai menjilati paha dalam Audrey dan terus ke vagina Audrey. Ketika lidah Kisno yang ternyata ditindik dengan besi kecil itu mulai menyapu bagian dalam vagina Audrey, terlihat tubuh Audrey sedikit menegang menerima rangsangan di vaginanya. Kedua tangan Audrey meremas-remas pegangan tangan sofa dan kadang-kadang memegang paha dalamnya sendiri agar kedua kakinya tetap mengangkang lebar. Mata Audrey tertuju pada selangkangannya sendiri untuk melihat kegiatan lidah Kisno di vaginanya.

“Audrey, ngapain kamu melihat ke bawah, di TV sudah ada gambarmu sendiri, kalau kamu mau melihat dengan jelas vaginamu tanpa terhalang kepala Kisno, akan saya zoom dan kamu bisa melihatnya secara jelas di TV” kata Wen sambil menzoom kameranya dan mengarahkannya pada posisi yang tepat sehingga di TV terlihat jelas sekali vagina Audrey yang sedang dijilati oleh Kisno dengan rakus.

Audrey menuruti apa yang dikatakan oleh Wen. Audrey mulai memandang ke arah TV dan melihat vaginanya sedang dijilati oleh Kisno di TV. Dengan tanpa menghentikan jilatan-jilatannya pada vagina dan klitoris Audrey, Kisno memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ke dalam vagina Audrey. Audrey dengan mata tetap memandang ke TV mengeluarkan erangan kecil, badannya bergoyang-goyang mengikuti irama permainan jari-jari Kisno di vaginanya. Adegan itu direkam dengan lihainya oleh Wen. Wen kadang-kadang menzoom in dan zoom out kameranya sehingga kadang-kadang hanya gambar vagina Audrey yang sedang dipermainkan Kisno nampak di layar TV dan kadang-kadang gambar keseluruhan Audrey sedang duduk mengangkang di sofa dengan badan yang bergoyang-goyang dan meliuk-liuk dengan kepala Kisno terbenam diselangkangannya nampak di layar TV. Erangan-erangan makin jelas keluar dari mulut Audrey, nampaknya Kisno dengan lihainya telah membuat Audrey terangsang hebat. Tubuh Audrey makin bergoyang mengikuti irama jilatan-jilatan lidah Kisno di vaginanya. Kadang-kadang terlihat Audrey menggigit kecil bibir bawahnya sendiri menahan rangsangan hebat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Cukup kira-kira 10 menit permainan Kisno di vagina Audrey sudah membuat Audrey mulai lupa pada keadaan sekelilingnya. Mata Audrey tetap menatap TV yang menanyangkan dirinya sedang dirangsang oleh Kisno, namun kedua tangannya mulai mengelus-elus dan menjambak-jambak kecil rambut di kepala Kisno. Audrey mulai berani memajukan pinggulnya ke depan agar lidah dan jari-jari tangan Kisno dapat makin menekan masuk ke dalam vaginanya.

“Iyaaa…teerruss…iyaa….teeerusss” mulai terdengar rintihan-rintihan Audrey tanda dia menyukai apa yang diperbuat Kisno di vaginanya.

Mendengar itu Wen tertawa kecil dan menzoom kamera ke wajah Audrey yang cantik. Audrey yang melihat wajahnya di close-up di TV tersenyum kecil. Rangsangan yang diberikan Kisno pada vaginanya mulai menghilangkan rasa malu dan rasa jijiknya terhadap pasangan persetubuhannya.

Tidak lama setelah itu mulai nampak tanda-tanda Audrey akan mengalami orgasmenya. Pinggulnya makin ditekannya ke depan kearah mulut Kisno. Jambakan-jambakan tangannya pada rambut Kisno mulai semakin liar dan kedua kakinya semakin dibukanya lebar-lebar. Detik-detik akhir mendekati orgasme makin terlihat pada diri Audrey, gerakan pinggulnya semakin liar, erangan-erangannya semakin keras, namun ketika saat-saat orgasme tinggal selangkah lagi, tiba-tiba dengan mulutnya, Kisno menarik cincin emas yang ada di bibir atas vagina Audrey dengan keras.

“Aoouuuccch……..!!!” teriak Audrey keras karena kesakitan. Mukanya meringis menahan sakit, bibirnya menggigit tangan kanannya yang dikepal. Orgasme yang tinggal selangkah lagi dicapainya hilang karena rasa sakit itu.

Muka sedikit kecewa nampak diraut wajah Audrey, namun Kisno tidak mempedulikannya. Kisno kembali pada kegiatannya merangsang vagina Audrey kembali, dan bagi Audrey setelah beberapa menit rasa sakit itu hilang, Audreypun kembali hanyut pada permainan Kisno di vaginanya. Beberapa kali kejadian seperti itu berulang, rupanya Kisno dengan sengaja membuat Audrey ke titik hampir klimaks namun kemudian menurunkannya kembali dengan cara menarik cincin emas yang berada di bibir atas vagina Audrey, sehingga Audrey hanya mengalami rangsangan yang sangat hebat namun tidak bisa orgasme. Diperlakukan seperti itu membuat Audrey penasaran, goyangan pinggulnya semakin hebat, sedangkan kedua tangannya berusaha melindungi cincin emas dan bel kecil yang berada di bibir atas vaginanya agar tidak bisa ditarik oleh mulut Kisno. Melihat itu Wen segera menyuruh Peter untuk memegang kedua tangan Audrey dan menariknya ke atas dan ke belakang kepala Audrey, sehingga dengan kedua tangan yang dipegang Peter itu, Audrey tidak bisa mencegah perbuatan Kisno yang menghalanginya mencapai orgasme. Selama setengah jam Audrey diperlakukan demikian oleh Kisno. Audrey nampak sekali sudah tidak tahan untuk meraih orgasmenya yang tidak kunjung juga bisa dicapainya. Tatapan matanya sayu dan pasrah dan kadang-kadang dia memejamkan matanya.

“Tolong….bikin saya orgasme…jangan…ditarik lagi…” desah Audrey pelan kepada Kisno berulang-ulang.

Mendengar itu Wen kembali tertawa lebar dan berkata “Audrey, kamu itu budak seks, bukan kamu yang harus dilayani, tapi kamu harus melayani tahu!”

“Kamu kalau mau orgasme harus minta ijin, apabila diijinkan baru boleh kamu orgasme, mengerti!” lanjut wen kepada Audrey.

Audrey yang sudah tidak tahan untuk mencapai orgasme langsung menjawab “Pak Wen, bolehkah saya orgasme?”

Pertanyaan itu diulangnya berkali-kali sampai tiba-tiba Sudin dan Amir secara hampir bersamaan berkata “Pak Wen, biarkan saya yang membuatnya orgasme”.

Mendengar itu Wen tertawa kecil “Tidak usah rebutan, Audrey bisa melayani kalian berdua sekaligus”

“Audrey, kamu beruntung, ada 2 pejantan ini yang mau memuaskanmu, kamu tahu apa yang harus dilakukan” kata Wen setengah memerintah kepada Audrey.

Mendengar itu, Audrey dengan dibantu oleh Kisno bangkit dari sofa, lalu kemudian langsung merebahkan diri telentang di karpet di tengah ruang TV dengan kaki mengangkang lebar-lebar di hadapan Sudin dan Amir. Sudin dan Amir dengan penis-penisnya yang sudah kembali mengencang malah dengan bodohnya termangu melihat posisi siap disetubuhi yang dipertontonkan Audrey kepada mereka. Kelihatannya mereka tidak percaya apa yang ada di hadapan mereka dan mereka bingung siapa yang akan memulai duluan.

“Pak Amir…sini..” desah Audrey setengah memerintah kepada Amir dan dengan muka yang nampak sudah tidak sabar karena baik Amir maupun Sudin hanya termangu berdiri di hadapannya.

Amir yang mendengar namanya dipanggil dengan setengah cengengesan meledek kearah Sudin langsung memposisikan dirinya di atas tubuh Audrey. Amir segera mengarahkan penisnya yang besar dan hitam kearah vagina Audrey yang mungil dan mulus itu.

“Maaf ya bu….hehehehe…” terdengar bisikan Amir sambil terkekeh kecil kepada Audrey ketika Amir mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey.

Terdengar erangan dan rintihan kecil dari mulut Audrey ketika penis Amir mulai memasuki vaginanya. Audrey berusaha memposisikan dirinya agar penis Amir dapat masuk dengan lancar ke dalam vaginanya. Meskipun vaginanya sudah sangat basah akibat permainan Kisno, namun terlihat Audrey sedikit kesusahan menerima penis Amir yang besar di vaginanya. Setelah beberapa puluh detik, barulah seluruh penis Amir amblas ke dalam vagina Audrey. Mata Audrey memancarkan kebahagiaan dan ketakjuban karena ternyata vaginanya dapat menampung seluruh penis Amir yang sangat besar dan panjang itu. Beberapa menit Amir mendiamkan penisnya dalam vagina Audrey untuk memberikan kesempatan pada Audrey membiasakan diri dengan penisnya yang besar itu. Kemudian tanpa basa-basi lagi Amir langsung menggenjot penisnya pada vagina Audrey dengan keras, cepat dan kasar. Audrey yang sudah terangsang berat karena permainan Kisno sebelumnya, langsung melayani permainan kasar Amir, dilayaninya genjotan-genjotan Amir dengan goyangan-goyangan pinggulnya dengan tak kalah hebat. Terlihat pemandangan yang sangat hebat. Dua manusia berbeda jenis kelamin, yang satu muda dan cantik sedangkan yang satu lagi tua dan jelek bersetubuh hanya untuk mencari kepuasan nafsu hewani masing-masing, tanpa cinta dan tanpa kemesraan tapi hanya berlomba-lomba mencari kepuasan seksnya masing-masing. Audrey dan Amir bersetubuh dengan kasar dan ganas, mereka berdua sudah tidak mempedulikan sekelilingnya. Mereka seakan-akan berlomba untuk lebih dahulu mencapai orgasmenya sebelum pasangan persetubuhannya mencapai orgasme. Hanya perlu sekitar 15 menit ketika Audrey yang memang telah terangsang hebat dengan permainan Kisno mencapai orgasmenya yang hebat dan panjang. Lenguhan keras terdengar keluar dari mulutnya, badannya menegang keras, tanggannya merangkul erat punggung Amir dan kedua kakinya dikaitkan rapat-rapat pada pinggul Amir. Setelah beberapa menit di puncak orgasme, badan Audrey melemas, kedua tangannya melepas pelukannya pada punggung Amir, kedua kakinya tergolek lemas di atas karpet.

Tidak seperti Audrey, Amir yang sebelumnya sudah mencapai orgasme ketika dioral service oleh Audrey, masih membutuhkan waktu lama untuk mencapai orgasme. Genjotan-genjotannya pada vagina Audrey malah semakin kencang, cepat dan kasar. Muka Amir tersenyum lebar karena mengetahui majikan perempuannya sudah mencapai orgasme, seakan-akan menunjukkan bahwa dia adalah pemenang dari pertarungan seks itu. Audrey yang sudah lemas, karena selain sudah orgasme juga karena sedari siang sudah melayani Wen dan anaknya hanya bisa tergoncang-goncang hebat dengan permainan kasar Amir. Kedua tangan Audrey hanya tergolek lemah di atas karpet, kedua kakinya tidak dapat diangkatnya lagi. Audrey hanya bisa tergeletak lemas dengan posisi kaki terbuka lebar di atas karpet. Ketika Amir meraih kedua pergelangan kaki Audrey dengan kedua tangannya dan mengangkatnya ke atas serta membuka kedua kakinya lebar-lebar, Audrey hanya bisa pasrah. Erangan-erangan terdengar setiap kali penis Amir yang besar membobol vaginanya berulang kali dengan kasar. Mata Audrey hanya bisa menatap kosong ke wajah Amir dan sesekali kearah vaginanya seakan-akan menunggu kapan penis Amir yang besar akan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vaginanya. Setelah belasan menit, Amir belum juga tampak akan orgasme. Amir merapatkan kedua kaki Audrey dan menyandarkannya pada salah satu bahunya dan semakin cepat menggenjot vagina Audrey. Audrey secara reflek merapatkan kedua tangannya sejajar di kiri dan kanan tubuhnya. Audrey hanya bisa mengerang-erang dan merintih-rintih ketika penis Amir masuk seluruhnya ke dalam vaginanya. Dengan kaki yang dirapatkan oleh Amir, vagina Audrey makin menyempit karena selangkangannya tertutup rapat. Badan Audrey hanya tergoncang-goncang mengikuti permainan Amir. Audrey sudah tidak sanggup lagi menggoyangkan pinggulnya, dia hanya bisa pasrah sambil merintih-rintih. Telah beberapa belas menit berlalu ketika tiba-tiba Wen berkata “Oooh, kita ada yang lupa nih, si pelacur tadi orgasme tanpa minta ijin terlebih dahulu, berarti dia harus dihukum”.

“Kisno, mana jepitan favorit saya, kamu bawa?” lanjut Wen kepada Kisno.

Kisno yang ditanya langsung merogoh tas kamera dan mengeluarkan dua buah jepitan besi yang berbentuk seperti jepitan jemuran. Kedua jepitan itu dihubungkan dengan sebuah rantai besi.

“Pakaikan ke Audrey” perintah Wen kepada Kisno.

Wajah Audrey nampak ketakutan melihat jepitan besi itu. Kedua tangannya langsung digunakannya untuk menutupi kedua payudaranya. Rupanya Audrey dapat langsung menebak apa kegunaan jepit besi itu.

Peter yang melihat Audrey menutupi kedua payudaranya dengan kedua tangannya langsung mendekati Audrey. Diraihnya kedua tangan Audrey dan dengan paksa ditariknya kedua tangan Audrey itu ke atas dan diletakan di atas karpet sejajar dengan kepala Audrey. Dengan posisi kedua lengan dipegangi oleh Peter dan kedua kaki yang dipegangi oleh Amir. Audrey menjadi tidak berdaya dan kedua payudaranya terekpos bebas. Kemudian Kisno menghampiri Audrey, dan dengan cekatan masing-masing jepitan itu digunakannya untuk menjepit masing-masing puting payudara Audrey. Audrey tidak dapat berkata apa-apa karena begitu cepatnya kejadian itu. Hanya terdengar jeritan keras Audrey dan diikuti dengan air mata yang meleleh di kedua pipinya ketika masing-masing jepitan sudah terpasang dengan sempurna menjepit puting payudaranya. Setelah kedua jepitan sudah terpasang sempurna pada tempatnya, Kisno menyerahkan rantai yang menghubungkan kedua jepitan itu kepada Amir. Amir dengan wajah mesum melepaskan pegangannya pada kedua kaki Audrey dan menerima rantai besi itu dari Kisno. Kemudian Amir tanpa basa basi lagi langsung menarik rantai besi itu ke arahnya sehingga kedua payudara Audrey tertarik ke atas dan ke arah Amir sampai-sampai membuat tubuh Audrey terpaksa mengikuti tarikan Amir pada rantai besi itu sehingga posisi Audrey setengah duduk namun Audrey tidak dapat duduk dengan sempurna karena dalam vaginanya masih tertancap penis Amir yang besar.

“Ngangkang yang lebar dan angkat kakinya atau saya tarik sampai putingnya putus!” sahut Amir tiba-tiba kepada Audrey yang cukup membuatku kaget karena baru pertama kalinya aku mendengar supirku ini berani membentak istriku.

Dengan kedua jepit diputingnya dan rantai yang ditangan Amir, Audrey hanya bisa menurut. Diangkatnya dan dibukanya lebar-lebar kedua kakinya sehingga kini Audrey dalam posisi setengah duduk dengan hanya sedikit pantat yang menumpu tubuhnya dan kedua tapak tangannya yang bertumpu pada karpet agar tubuhnya tidak jatuh ke belakang.

Amir kembali mempercepat genjotannya pada vagina Audrey. Kedua tangan Amir memegang rantai jepit itu dan menarik-nariknya sehingga nampak seperti seperti seseorang yang sedang memegang tali kendali kuda. Sesekali tangan kirinya menampar-nampar paha luar Audrey sehingga Amir seperti seorang joki. Tapi bukan joki yang menunggang kuda tapi joki yang sedang menyetubuhi seorang wanita yang sangat cantik. Payudara Audrey nampak tertarik dengan kencang kedepan, badannya bergoyang hebat karena genjotan ganas Amir pada vaginanya. Audrey nampak kerepotan untuk menjaga keseimbangannya, namun karena jepitan pada kedua payudaranya itu nampak Audrey tetap berusaha tetap pada posisinya. Setelah beberapa menit diperlakukan kasar begitu oleh Amir, nampak perubahan pada diri Audrey. Rupanya diperlakukan kasar oleh supirnya membuat sensasi sendiri pada diri Audrey. Vaginanya nampak mulai banjir dengan cairan kewanitaannya. Bunyi vagina basah yang dimasuki penis mulai terdengar keras setiap kali Amir dengan kasar memasukkan penisnya dalam vagina Audrey. Mata Audrey menjadi berbinar, matanya memandang bergantian kearah Amir, kearah kedua payudaranya dan kearah vaginanya yang sedang digenjot dengan ganas oleh penis Amir yang besar dan hitam itu. Ketika Amir menyodorkan jari tengah dan jari telunjuk tangan kirinya kearah muka Audrey, Audrey langsung menyambutnya dengan mulutnya dan mulai mengulum-ngulum kedua jari Amir itu dengan tatapan yang seksi kearah Amir. Desahan-desahan kenikmatan mulai keluar dari mulut Audrey, rupanya dia sudah benar-benar tunduk pada supirku itu. Audrey menuruti apa saja perintah Amir. Ketika Amir menyuruhnya menjulurkan lidah, Audrey langsung menurutinya. Tangan kiri Amir langsung meraih lidah Audrey itu dan menarik-nariknya, Audrey bukan kesakitan tapi malah membiarkan Amir dan tersenyum dengan mulut yang terbuka. Setiap adegan-adegan itu direkam dengan baik oleh Wen dan nampak dengan jelas dilayar TV. Terlihat Wen sangat puas dengan hasil karyanya. Audrey nampak sekali menikmati persetubuhannya dengan Amir. Audrey nampak sekali berusaha menyenangkan dan melayani Amir dengan sebaik-baiknya, rasa sakit pada puting payudaranya sudah berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa. Setiap genjotan kasar Amir pada vaginanya selalu diiringi dengan jeritan seksi kenikmatan yang tiada tara dari mulut Audrey.

Sudin yang dari tadi hanya menjadi penonton kelihatannya sudah tidak bisa menahan diri untuk ikut menyetubuhi majikan perempuannya. Sudin mendekati Audrey, diambilnya rantai yang menghubungkan kedua jepitan dari tangan Amir dan direbahkannya Audrey telentang di atas karpet. Kemudian Sudin berlutut menghadap kearah Amir dan mengangkangi wajah Audrey sehingga sekarang wajah Audrey berada di bawah selangkangannya. Setelah itu Sudin menarik rantai itu ke atas, sehingga mau tidak mau Audrey harus mengangkat dada dan wajahnya sehingga wajahnya menempel di biji kemaluan dan lubang pantat Sudin. Dengan sekali hentakan pada rantai itu oleh Sudin, kelihatannya Audrey sudah dilanda birahi yang sangat hebat mengerti apa maunya Sudin. Audrey mulai menjilati dan mengulum biji kemaluan Sudin dari bawah. Audrey juga tanpa malu-malu lagi menjilati lubang pantat pembantu prianya itu. Muka Sudin tampak sumringah ketika merasakan jilatan dan kuluman Audrey di selangkangannya, sedangkan Amir sekarang meraih kedua pergelangan kaki Audrey dan mengangkatnya serta membuka lebar-lebar kedua kaki Audrey sambil terus menggenjot vagina Audrey dengan penisnya. Desahan-desahan Audrey semakin menggila, rasa malunya disetubuhi oleh supir dan pembantu prianya telah hilang sama sekali. Rintihan-rintihan nikmat membahana di ruangan itu. Bel kecil di vagina Audrey menambah ramainya suara yang terdengar. Kurang lebih 10 menit kemudian terdengar suara dari bawah selangkangan Sudin.

“Tuan….tuuu…an….boleh sa…saya orgasme?” desah Audrey cukup keras.

“Hahaha….boleh…boleh….” tawa Sudin dan Amir hampir bersamaan.

Beberapa detik setelah itu terlihat tubuh Audrey mengejang hebat, terdengar lenguhan hebat keluar dari mulutnya menggambarkan seakan-akan Audrey melepas suatu kenikmatan yang luar biasa yang telah tertahan lama di tubuhnya. Wen dengan cekatan merekam semua adegan itu, mukanya terlihat puas melihat Audrey sekarang benar-benar tunduk dan menerima semua yang dilakukan terhadap dirinya. Setelah beberapa menit di puncak orgasme, akhirnya tubuh Audrey melemas. Wajahnya terlihat lelah namun senyum kepuasan terlihat di bibirnya.

“Sekarang gentian saya yang dilayani dong” kata Amir kepada Audrey tiba-tiba sambil mencabut penisnya dari vagina Audrey serta merebahkan diri disamping Audrey.

Audrey terlihat berusaha keluar dari bawah selangkangan Sudin, dan Sudinpun mengerti dan membolehkannya. Dengan senyum Audrey kemudian menaiki tubuh Amir sehingga sekarang Audrey dan Amir dalam posisi woman on top. Segera setelah menaiki tubuh Amir, Audrey membimbing penis Amir dengan tangannya ke dalam vaginanya, kemudian ditekannya vaginanya ke bawah sehingga penis Amir amblas seluruhnya ke dalam vagina Audrey. Kemudian Audrey menggerakan pinggulnya naik turun serta memutar, membuat Amir merasakan penisnya diservice oleh vagina Audrey. Tidak itu saja yang dilakukan Audrey, Audrey juga menciumi dan menjilati dada dan leher Amir yang membuat Amir sedikit melenguh kenikmatan.

“Kok Amir saja, saya juga mau” sahut Sudin tiba-tiba dengan nada yang sudah tidak sabar.

Audrey hanya tersenyum kearah Sudin dan merebahkan tubuhnya di dada Amir. Kemudian dengan tanpa mengatakan apa-apa lagi kedua tangan Audrey membuka kedua pantatnya sendiri sehingga lubang anus Audrey terlihat jelas dan menantang untuk dimasuki. Sudin si pria tua itu mengerti apa maksud Audrey. Sudin segera berjongkok dan mengarahkan penisnya ke lubang anus Audrey. Sedikit demi sedikit terlihat penis Sudin memasuki lubang anus Audrey. Lubang anus Audrey masih cukup seret karena hanya keringat dan cairan kewanitaan Audrey yang membasahi anus tersebut. Terlihat wajah Audrey di dada Amir menahan sakit. Mata Audrey terpejam menahan sakit dan Audrey menggigit bibir bawahnya sendiri ketika senti demi senti penis Sudin yang besar mulai menerobos masuk ke dalam lubang anus Audrey. Namun tidak ada keluhan atau jeritan sakit keluar dari mulut Audrey. Audrey dengan tabah menerima penis Sudin di anusnya. Setelah penis Sudin masuk seluruhnya ke dalam lubang anus Audrey, baik Audrey, Amir dan Sudin berdiam diri beberapa menit dalam keadaan penis Amir seluruhnya masuk dalam vagina Audrey dan seluruh penis Sudin seluruhnya masuk dalam lubang anus Audrey.

Beberapa menit berlalu ketika terlihat Audrey mulai dapat membiasakan diri dengan dua penis besar masing-masing di vagina dan anusnya. Kemudian Audrey mengangkat tubuhnya sedikit dan bertumpu dengan kedua tangannya di karpet dan secara bersamaan mulai memutar-mutar pantatnya sendiri. Amir dan Sudin mengerti bahwa majikan perempuannya itu sudah siap melakukan persetubuhan dan keduanya segera menggenjot penis mereka masing-masing dari pelan-pelan makin lama makin cepat. Amir dari bawah dengan buasnya menggenjotkan penisnya ke vagina Audrey, sedangkan Sudin dengan tidak kalah ganasnya menggenjot penisnya ke anus Audrey dari belakang. Menerima serangan dari dua arah pada kedua lubangnya, wajah Audrey menampakkan kepuasan, senyumnya kembali terlihat dan desahan-desahan nikmat mulai keluar dari mulutnya. Amir kemudian dari bawah menyerahkan rantai yang menghubungkan kedua jepitan di payudara Audrey ke mulut Audrey, dan Audreypun langsung menyambutnya dengan menggigit rantai tersebut. Kemudian Audrey sedikit merebahkan tubuhnya ke depan sehingga kedua payudaranya persis di atas wajah Amir yang langsung disambut Amir dengan genggaman kedua tangan Amir di kedua payudara tersebut dan disertai jilatan dan kuluman mulut Amir di payudara Audrey. Sudin yang sedang menggasak anus Audrey dengan penisnya tidak mau kalah, ditariknya rambut Audrey ke belakang sehingga kepala Audrey terdongak ke atas yang menyebabkan kedua payudara Audrey ikut tertarik. Lenguhan kecil terdengar dari mulut Audrey ketika kedua payudaranya tertarik kencang, namun wajah Audrey tetap terlihat kenikmatan. Mendengar itu, Sudin makin menarik-narik rambut Audrey, setiap tarikannya selalu disertai lenguhan nikmat Audrey sehingga membuat Sudin semakin berani menarik-narik rambut Audrey dengan kasar. Setelah 20 menit terlihat Amir mulai akan mencapai orgasmenya. Audrey menyadari hal itu dan semakin menggerak-gerakan pinggulnya dengan liar sehingga dalam waktu tidak beberapa lama kemudian Amir mencapai orgasmenya dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vagina Audrey.

Melihat Amir telah orgasme, Sudin kemudian mencabut penisnya dari anus Audrey dan menarik tubuh Audrey ke belakang dan segera men-doggy style Audrey dengan kasar. Audrey terlihat puas dengan perlakuan pembantu pria dan supirnya. Mulut Audrey yang sekarang tepat diselangkangan Amir tidak tinggal diam, dikulum dan dijilatinya penis Amir sehingga semua sperma dan cairan kewanitaan yang menempel di penis Amir dijilat dan ditelannya sampai bersih. Kedua tangan Audrey mengocok-ngocok penis Amir seakan-akan tidak rela kalau penis Amir sudah melayu.

Kegiatan Audrey pada penis Amir baru terhenti ketika tiba-tiba Sudin meraih kedua pundak Audrey dan menariknya ke belakang sehingga sekarang posisi Audrey dan Sudin dalam keadaan berlutut tegak dengan penis Sudin menggasak vagina Audrey dari belakang. Sudin terus menggasak vagina Audrey dengan penisnya, gerakan-gerakannya sungguh liar, kedua tangan Sudin meraih kedua payudara Audrey dari belakang. Diremas-remasnya kedua payudara Audrey dengan ganas. Audreypun tidak mau kalah, diputar-putarnya pinggulnya dengan disertai tekanan-tekanan ke belakang kearah penis Sudin. Selain menggenjot vagina Audrey dari belakang dan meremas-remas payudara Audrey dengan ganasnya, Sudin juga menciumi dan menjilati leher Audrey yang jenjang itu dan juga mengulum-ngulum kuping Audrey. Sambil terus menjilati leher dan kuping Audrey, Sudin kemudian mengarahkan tangan kanannya ke klitoris Audrey dan mulai menggosok-gosok klitoris Audrey dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.

Diperlakukan demikian, Audrey menggelinjang-gelinjang kenikmatan, kedua tangan Audrey meraih pantat Sudin dan menarik-nariknya ke depan sehingga penis Sudin semakin keras menghujam vaginannya. Kemudian Audrey mendongakkan kepalanya ke belakang ke bahu kanan Sudin dan mulai menciumi bibir Sudin yang langsung disambut Sudin dengan ganas. Audrey dan Sudin berciuman dan saling memainkan lidahnya masing-masing. Terdengar rintihan-rintihan nikmat Audrey dan dengan mata sayu Audrey memandangi mata Sudin sambil terus berciuman dengan Sudin.

“Aaah…ahhh…nikmat pak Sudin….aam..pun….nikmat sekali…” terdengar desahan-desahan kecil keluar dari mulut Audrey.

Benar-benar pemandangan yang hebat, seorang wanita cantik berkulit putih bersetubuh dengan seorang pria tua setengah baya berkulit hitam legam. Keringat mengucur deras dikeduanya sehingga nampak kedua tubuh mereka mengkilap karena keringat itu dan semuanya terekam dengan baik di kamera video Wen.

Setelah sekian puluh menit, kembali Audrey berkata “Tuuaan bolehkah saya orgasme lagi….”

“Tunggu, saya juga hampir orgasme, kita orgasme sama-sama ya” jawab Sudin kepada budak seksnya yang dahulu adalah majikan perempuannya.

Audrey tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala dan terlihat berusaha sekuat tenaga menahan orgasmenya dengan susah payah. Setelah beberapa belas menit kemudian terlihat Sudin akan mencapai orgasmenya, Audrey menyadari hal itu dan raut mukanya terlihat lega. Beberapa detik kemudian kedua manusia berlainan jenis itu mencapai orgasme secara bersama-sama. Kembali tubuh Audrey mengejang hebat, diremas-remasnya rambut kepala Sudin, diciuminya bibir Sudin dan secara bersamaan, Sudin juga memuntahkan sperma di dalam vagina Audrey. Beberapa menit Audrey dan Sudin berada di puncak orgasme, kemudian kedua tubuh mereka rebah bersamaan di atas karpet kelelahan.

************************************

Bagian III: Pengalaman Baru Bersama Kisno

Wen rupanya belum puas dengan Audrey. Segera ditariknya rantai penjepit payudara Audrey sehingga terpaksa membuat Audrey bangkit. Kemudian Wen memerintahkan Audrey untuk duduk di sofa kecil dengan kedua kaki mengangkang bertumpu pada kedua lengan sofa. Kemudian wen memerintahkan Kisno untuk mengikat masing-masing pergelangan kaki Audrey pada kaki-kaki sofa, demikian juga kedua pergelangan tangan Audrey diikat pada kaki-kaki sofa yang lainnya, sehingga kini posisi Audrey menjadi tidak berdaya dengan posisi duduk mengangkang di sofa dan masing-masing kakinya terikat di kaki-kaki depan sofa serta masing-masing tangan terikat di kaki-kaki belakang sofa. Audrey yang masih kelelahan tidak banyak melawan, kelihatannya Audrey sudah benar-benar pasrah dengan apa yang akan dialaminya.

“Nah, Audrey, sekarang pelajaran baru buat kamu” kata Wen tiba-tiba sambil menyerahkan kamera video kepada Kisno.

“Kisno, kamu rekam ya yang bagus” lanjut Wen kepada Kisno.

Kisno yang mendengar perintah majikannya hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum dan mulai merekam Audrey dalam keadaan tidak berdaya itu. Wen kemudian berlutut dihadapan selangkangan Audrey, tangan kanannya kemudaian menggosok-gosok vagina Audrey, dan kemudian jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya mulai memasuki vagina Audrey. Audrey sedikit menggelinjang ketika 2 jari tangan Wen masuk ke dalam vaginanya. Desahan kecil keluar dari mulut Audrey. Setelah beberapa menit memainkan vagina Audrey dengan 2 jarinya, Wen kemudian meraih rantai penjepit payudara Audrey dengan tangan kirinya serta mulai menarik-nariknya pelan-pelan namun panjang sehingga kedua payudara Audrey benar-benar tertarik ke depan. Suara rintihan terdengar lagi dari mulut Audrey ketika rantai tersebut ditarik-tarik oleh Wen. Beberapa menit berlalu ketika Wen mulai menggunakan ibu jari tangan kanannya untuk memainkan klitoris Audrey, dan secara pelan-pelan memasukkan jari manis tangan kanannya ke dalam vagina Audrey sehingga kini 3 jari Wen masuk ke dalam vagina Audrey.

Setelah 3 jari Wen masuk ke vagina Audrey, Wen mulai memompa ketiga jarinya keluar masuk vagina Audrey dengan cepat. Wen secara lihai memainkan vagina Audrey dengan ketiga jarinya ditambah ibu jarinya di klitoris Audrey yang membuat Audrey menggelinjang hebat dan merintih-rintih kenikmatan dengan keras. Terdengar bunyi keciplak kecipluk ketika vagina Audrey yang sudah basah dengan sperma Amir dan Sudin serta ditambah cairan kewanitaannya sendiri dikerjai habis-habisan oleh jari-jari tangan Wen. Setelah beberapa menit, Wen mulai memasukkan jari kelingkingnya ke dalam vagina Audrey, sehingga sekarang 4 jari tangan Wen memompa vagina Audrey. Terlihat raut wajah Audrey menampakkan sedikit kekuatiran, tapi ikatan pada kedua kaki dan kedua tangannya membuat Audrey tidak dapat berbuat banyak serta ditambah lagi kelihaian jari-jari tangan Wen di vaginanya membuat Audrey hanyut dalam birahinya meskipun terdapat sedikit kekuatiran karena vaginanya tidak pernah dimasuki 4 jari tangan sebelumnya. Cukup lama Wen memainkan vagina Audrey dengan keempat jari tangannya sehingga Audrey makin menggelinjang-gelinjang dan mendesah-desah kenikmatan. Kemudian Wen memperlambat genjotan keempat jarinya pada vagina Audrey dan kemudian mulai mencoba memasukkan ibu jari tangan kanannya ke dalam vagina Audrey.

“Jaaa…ngggaan..Pak Wen..ugggghhhh…” terdengar suara kuatir Audrey ketika ibu jari tangan Wen mulai memasuki vaginanya.

“Ini namanya fisting, kamu harus terbiasa dengan ini, kamu sebagai budak seks harus bisa menerima dan menikmati apa saja perlakuan tuanmu” Wen menjawab kekuatiran Audrey dengan tegas.

“Sekarang perhatikan ini! Kamu akan takjub dengan dengan apa yang vaginamu bisa terima” lanjut Wen sambil terus memasukkan ibu jarinya ke dalam vagina Audrey.

Setelah kelima jari tangan kanan Wen masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey, Wen tidak berhenti sampai situ saja, namun telapak tangan kanannya terus mendesak masuk ke dalam vagina Audrey sedangkan tangan kirinya makin menarik rantai penjepit payudara Audrey makin ke depan.

“Ooogghhh…..uuugghh…..aaaggghhhhh….” jerit Audrey keras ketika telapak tangan kanan sampai pergelangan tangan kanan Wen masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey.

“Gigit ini supaya tidak terlalu sakit” kata Wen kemudian sambil menyerahkan rantai penjepit payudara itu ke dalam mulut Audrey yang langsung dituruti oleh Audrey.

Wen tidak langsung memompa lengannya pada vagina Audrey. Didiamkannya telapak tangannya di dalam vagina Audrey. Audrey sambil menggigit rantai itu terlihat meringis-ringis sambil berusaha membenarkan posisinya badannya. Mata Audrey terlihat menatap takjub kearah vaginanya sendiri. Sekali lagi benar-benar pemandangan yang diluar dugaanku, istriku yang cantik jelita duduk mengangkang terikat di atas sofa tidak berdaya dengan telapak tangan Wen tertancap kuat didalam vaginanya. Setelah beberapa waktu, Wen mulai menggerakkan telapak tangannya keluar masuk vagina Audrey secara perlahan-lahan yang disertai rintihan-rintihan Audrey setiap kali telapak tangan Wen memasuki vagina Audrey.

“Uuughhh…..ooogggh……aahhh….” desah Audrey cukup keras sambil menggelinjang-gelinjang serta meringis-ringis antara menahan sakit dan nikmat.

Beberapa menit kemudian Wen mulai mempercepat gerakan tangannya keluar masuk vagina Audrey. Wen juga mengkombinasikan gerakan tangannya dengan gerakan memutar-mutar telapak tangannya di dalam vagina Audrey. Gerakan-gerakan tangan Wen tersebut makin membuat Audrey menggelinjang-gelinjang. Audrey mulai menggerakan pinggulnya maju mundur serta memutar mengikuti irama permainan tangan Wen pada vaginanya. Desahan-desahan yang keluar dari mulut Audrey semakin keras, dan sekarang nampaknya tinggal desahan-sesahan kenikmatan. Wajah Audrey terdongak ke atas sambil sesekali menunduk menatap kearah vaginanya, sedangkan dada Audrey membusung ke depan dan meliuk-liuk tidak karuan. Kedua payudaranya tertarik keras setiap kali Audrey mendongakkan kepalanya ke atas karena rantai yang digigitnya menjadi menarik kedua payudaranya.

“Ooohh…..ohhhh…Pak Wen….Oohhh..ooohhh” terdengar desahan-desahan Audrey telah berubah menjadi lolongan-lolongan panjang kenikmatan.

Beberapa menit kemudian, Audrey sudah benar-benar hanyut dalam kenikmatan birahinya. Mata Audrey berubah menjadi benar-benar sayu dan sesekali Audrey memejamkan matanya. Liukan-liukan pinggul dan badannya memelan seakan-akan sedang bergerak dalam slow motion. Mulut Audrey terbuka sedikit, rantai dimulutnya sudah terlepas dari gigitannya. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan serta memutar dengan pelan, lolongan-lolongannya mejadi semakin panjang dan lambat-lambat. Melihat perubahan pada diri Audrey, Wen tersenyum sinis dan memerintahkan Amir untuk melepaskan seluruh ikatan pada kaki-kaki dan tangan-tangan Audrey. Begitu seluruh ikatan terlepas, Audrey yang kini bebas bergerak, mulai mengeliat-geliat seperti orang yang baru bangun tidur. Kedua tangan Audrey kadang menggeliat ke atas sambil meremas-remas pelan rambutnya sendiri, kadang mengusap-usap perutnya sendiri dan naik ke atas untuk mengelus-ngelus kedua payudaranya sendiri. Audrey semakin membuka lebar kedua kakinya untuk memberikan akses lebih luas bagi tangan Wen, sedangkan bibir Audrey mulai menciumi dan menjilati serta mengigit-gigit kecil lengan atasnya sendiri persis di atas ketiaknya, dan kadangkala digigitnya sendiri bibir bawahnya. Beberapa belas menit kemudian terlihat Audrey sudah siap orgasme. Dengan kedua tangannya Audrey meraih tangan kanan Wen yang sedang mengobok-ngobok vaginanya sehingga Wen tidak dapat lagi memompa tangannya keluar masuk vagina Audrey. Wen mengerti apa yang diinginkan Audrey. Wen menghentikan kegiatannya dan membiarkan telapak tangan kanannya terbenam seluruhnya di vagina Audrey. Sedangkan Audrey dengan kedua tangannya yang masih memegang tangan kanan Wen mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dan memutar, sehingga kini Audrey yang bergerak sendiri untuk memuaskan nafsu birahinya dan mengarahkan tangan Wen agar mengenai titik-titik kenikmatan dalam vaginanya. Tidak lama setelah itu, badan Audrey mengejang hebat. Kedua tangannya menarik kuat-kuat tangan kanan Wen agar semakin dalam tertancap vaginanya.

“Tuuuuaaaan…. bbolehhh..saya orgasme….pleaaaassseeee…..” teriak Audrey keras dengan terbata-bata memohon kepada Wen. Wen yang ditanya hanya mengangguk pelan, dan tak lama kemudian terdengar suara Audrey berteriak keras dengan badan yang mengejang hebat, “Oogggghhh…terimaaa…kassiiihhhh….tuaaaan…eennaakk!!”

Setelah badan Audrey melemas, Wen pun mengeluarkan tangan kanannya dari vagina Audrey. Audrey langsung rubuh ke sofa ketika tangan Wen seluruhnya tercabut dari vaginanya. Nafas Audrey terengah-engah kelelahan, kedua kakinya dirapatkannya kembali, keringat membasahi sekujur tubuhnya.

“Kisno, tuh sekarang ambil bagianmu” kata Wen memecah keheningan ruangan sambil meminta kamera videonya kembali dari Kisno.

Mendengar itu terlihat Kisno kegirangan. Dikembalikannya kamera video yang sedang digenggamnya kepada majikannya. Dengan sedikit melonjak-lonjak kegirangan Kisno mendekati Audrey. Audrey yang masih kelelahan terlihat sedikit ketakutan melihat tingkah laku Kisno. Sesampainya di dekat Audrey, tanpa bicara apapun lagi, Kisno langsung menjambak rambut Audrey dengan keras dan menarik Audrey sehingga Audrey terjerembab ke karpet.

“Aooowwww…..!!!” terdengar terikan Audrey keras ketika tubuhnya terjerembab ke karpet karena tarikan Kisno pada rambutnya.

“Diam kamu pelacur! Sekarang kamu milikku! Nurut aja! Ayo bangun posisi merangkak seperti anjing!” bentak Kisno kepada Audrey sambil menendang-nendang pelan pantat Audrey.

Dengan gerakan menjambak rambut Audrey ke atas, Kisno berhasil membuat Audrey menuruti kemauannya, kini Audrey dalam posisi merangkak seperti anjing dengan Kisno menjambak rambutnya kuat-kuat. Kemudian Kisno dengan tetap menjambak rambut Audrey berjalan mengelilingi ruangan sehingga Audrey harus merangkak-rangkak mengikutinya. Kisno sambil mengelilingi ruangan mengatakan kepada semua yang ada di ruangan itu bahwa dia akan membuat Audrey benar-benar bertekuk lutut padanya dan membuat Audrey benar-benar kecanduan akan penisnya.

Kemudian Kisno menghentikan langkahnya ketika sampai ditempat aku duduk. Diarahkannya Audrey berlutut dihadapan selangkanganku.

“Nah, sebelum kamu merasakan penisku, sebagai perbandingan kamu nikmati dulu penis suamimu, nanti setelah itu kamu akan mengerti apa itu kenikmatan. Buka celana suamimu sekarang” kata Kisno memerintahkan Audrey.

Dengan sekali tarikan pada rambut Audrey, Kisno berhasil membuat Audrey menurut. Audrey mulai membuka dan menurunkan celana dan celana dalamku. Aku yang sudah sangat terangsang karena melihat persetubuhan istriku dengan Amir, Sudin dan tangan Wen hanya berdiam diri saja, malah pada saat itu aku berpikir ini adalah kesempatan karena sudah lama aku tidak bersetubuh dengan istriku mengingat Wen sebelumnya hanya membolehkan Audrey untuk mengoral service penisku saja. Ketika celana dan celana dalamku sudah terlepas, terlihat penisku sudah sangat menegang. Terlihat wajah Audrey sedikit kecewa mengetahui bahwa aku terangsang melihat dirinya dikerjai oleh laki-laki lain.

“Wah, si suami rupanya sudah sangat terangsang nih karena melihat istrinya kita kerjain” kata Kisno kepada semua yang ada di ruangan itu sambil tertawa. Kemudian Kisno memerintahkan Audrey untuk menaiki diriku dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya, sehingga kini Audrey duduk di atasku dengan penisku tertancap di vaginanya.

Seperti mengerti apa yang diinginkan Kisno, Audrey mulai menggerakkan tubuh dan pinggulnya naik turun memompa penisku. Mula-mula gerakan tersebut dilakukan Audrey dengan perlahan namun lama-lama makin cepat. Vagina Audrey yang basah masih terasa rapat di penisku. Hal ini membuat aku sedikit terkejut karena vagina itu sebelumnya baru dimasuki tangan Wen yang besar. Ternyata vagina Audrey tidak melonggar atau rusak karena tangan Wen, vagina Audrey tetap seperti sediakala, namun ada yang beda pada diri Audrey, yaitu dalam melakukan persetubuhannya denganku ini, Audrey tidak mengeluarkan desahan apapun, Audrey melakukannya hanya seperti robot, nampak sekali Audrey tidak menikmatinya. Sedangkan aku yang sudah lama tidak merasakan vagina wanita sangat menikmati persetubuhan tersebut.

Tidak memerlukan waktu terlalu lama bagiku untuk mengalami orgasme. Aku muntahkan seluruh spermaku di dalam vagina Audrey.

“Tuan, Tommy sudah klimaks” kata Audrey tiba-tiba sambil menoleh ke Kisno setelah aku selesai memuntahkan seluruh spermaku di dalam vaginanya.

“Cepat amat…ya sudah sekarang duduk mengangkang disitu” kata Kisno amemerintahkan istriku sambil menujuk sofa panjang.

Audrey menuruti kemauan Kisno. Audrey duduk di sofa panjang dengan kaki mengangkang lebar. Terlihat lelehan spermaku ada yang keluar dari selangkangannya yang dicukur bersih itu. Kemudian Kisno memposisikan dirinya di hadapan Audrey, diarahkannya penisnya yang berbentuk aneh dan dipenuhi tindikan itu kearah vagina Audrey. Audrey nampak ketakutan ketika penis Kisno yang mempunyai tonjolan-tonjolan bulat yang dapat bergerak-gerak dengan tindikan beberapa cincin emas yang sebagiannya tertutup dengan bulu-bulu kasar seperti sabuk kelapa mendekati vaginanya.

“Jangan takut, kamu akan segera tahu enaknya ini penis ini. Ini penis spesial, cuma ada satu di Indonesia. Untuk jadi seperti ini harus dibuat di Cina hehehehehe” tawa Kisno melihat raut muka Audrey yang memperlihatkan kekuatiran.

Secara pelan-pelan, Kisno mulai memasukan penisnya ke dalam vagina Audrey yang langsung disambut dengan teriakan histeris dari Audrey.

“Aaaah…….ugggghhhhhh….jangan tuan….apa ini….” jerit histeris Audrey sambil berusaha melepaskan diri dari Kisno.

Sebelum Audrey bisa berbuat banyak, Kisno dengan cekatan memegang kedua tangan Audrey dan memposisikan Audrey kembali ke posisi semula.

“Jangan banyak bergerak, kamu mau saya sakiti atau mau menerima kenikmatan luar biasa! Pilih! Ini baru kepala penisku yang masuk!” bentak Kisno kepada Audrey sambil memegang kedua tangan Audrey sejajar dengan kepala Audrey.

Audrey hanya mengangguk lemah tanda persetujuannya. Air mata terlihat berlinang dikedua matanya. Kemudian Kisno melanjutkan memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey secara perlahan sekali, senti demi senti masuk pelan-pelan ke dalam vagina Audrey, seakan-akan Kisno memang sengaja agar dinding vagina Audrey merasakan gesekan penis bertindik cincin emas yang dibaluti oleh bulu-bulu seperti sabuk kelapa itu.

“Ooooggghhh…….” desah Audrey panjang sekali ketika Kisno menekan pantatnya ke depan sehingga sebagian kecil batang penis Kisno mulai masuk ke dalam vagina Audrey. Mata Audrey melotot tajam memandangi vaginanya mulai dimasuki penis Kisno. Mulut Audrey terbuka lebar dan pinggulnya bergerak sedikit mengatur posisinya agar lebih nyaman dalam menerima penis Kisno.

“UUggghhhhhh….” teriakan kecil tapi panjang keluar dari mulut Audrey ketika Kisno menekan lagi pantatnya ke depan sehingga batang penis Kisno makin masuk ke dalam vagina Audrey. Badan Audrey bergetar hebat. Audrey membuka kakinya lebar-lebar, matanya masih melotot tajam memandangi vaginanya sendiri.

“Ooogggghhh……” teriakan Audrey semakin panjang ketika untuk ketiga kalinya Kisno menekan pantatnya ke depan sehingga batang penis Kisno semakin dalam lagi memasuki vagina Audrey. Audrey mendongakkan kepalanya ke belakang, matanya tertutup rapat namun mulutnya makin terbuka lebar.

Beberapa saat Kisno menghentikan gerakannya, kemudian terdengar lagi teriakan panjang “Ooogghhh…” keluar dari mulut Audrey ketika Kisno kembali menekan pantatnya ke depan sehingga batang penis Kisno semakin dalam lagi memasuki vagina Audrey. Kepala Audrey yang masih terdongak itu terlihat bergerak ke kiri dan ke kanan. Kedua tangan Audrey yang telah dilepas dari genggaman Kisno terlihat masing-masing memegang bahu Kisno. Badan Audrey semakin bergetar hebat, kakinya yang mengangkang terlihat menendang-nendang kecil ke udara. Sekali lagi Kisno menghentikan gerakannya untuk beberapa saat sebelum untuk kelima kalinya menekan pantatnya kedepan yang membuat batang penisnya semakin dalam lagi masuk ke dalam vagina Audrey. Teriakan Audrey terdengar semakin keras dan liar ketika batang penis Kisno makin dalam masuk ke dalam vaginanya. Badan Audrey yang bergetar hebat sekarang bergoyang-goyang tidak karuan. Kedua kakinya semakin keras menendang-nendang ke udara sedangkan masing-masing tangannya memukul-mukul bahu Kisno.

“Aaaammmppppuuunnnn…..tuaaaannnn…..saya tidak tahan….” Kata Audrey dengan badan yang menggeliat-geliat hebat sambil memandang Kisno.

Kisno kembali menghentikan gerakannya, namun kontras dengan Kisno, justru badan Audrey semakin keras menggeliat-geliat, kakinya semakin keras menendang-nendang ke udara dan kedua tangannya kini menjambak-jambak rambut Kisno. Kemudian Kisno dengan keras menekan pantatnya ke depan sehingga seluruh penisnya amblas ke dalam vagina Audrey yang disertai lolongan sangat panjang dari mulut Audrey. Menerima seluruh penis Kisno di dalam vaginanya membuat badan Audrey menegang dan menggeliat-geliat, kedua kakinya mengangkang lurus ke atas dan bibir Audrey menggigit keras tangan kirinya sendiri yang dikepal sedangkan tangan kanannya tetap menjambak keras rambut Kisno.

“Hehehe…. enak ya?” tanya Kisno kepada Audrey. Audrey tidak menjawab, matanya nanar melihat ke wajah Kisno.

Lalu tiba-tiba Kisno memutar-mutar pinggulnya sehingga seluruh penis Kisno menggesek-gesek dinding dalam vagina Audrey. Masing-masing tangan Audrey meremas keras pegangan sofa, kepalanya kembali terdongak ke belakang, badannya makin menegang hebat, dadanya membusung ke depan sehingga punggung Audrey sampai melengkung ke depan ketika Audrey merasakan penis Kisno bergesekan dengan dinding dalam vaginanya. Beberapa detik kemudian terdengar lolongan panjang Audrey tanda Audrey mencapai orgasmenya. Vagina Audrey memuncratkan cairan kewanitaan dengan cukup banyak dan berulang-ulang sampai-sampai sofa yang didudukinya menjadi sangat basah. Tidak mempedulikan Audrey yang sedang orgasme, Kisno mulai memompa penisnya secara perlahan keluar masuk vagina Audrey. Diperlakukan demikian Audrey menggelinjang-gelinjang hebat seperti cacing kepanasan. Kemudian Kisno mulai mempercepat genjotan penisnya pada vagina Audrey. Badan Audrey makin bergerak tidak karuan, kedua tangannya memukul-mukul lengan sofa. Nafas Audrey tersengal-sengal, rintihan-rintihan nikmatnya makin menjadi-jadi. Terdengar suara kecipak kecipuk yang sangat keras ketika penis Kisno keluar masuk vagina Audrey yang sudah sangat becek.

“Terus….teruuussss….jangaaannn…berhenti……lebih keras…lebih keras…..lebih dalam…lebih dalam….” jeritan Audrey terdengar keras mengiba-ngiba kepada Kisno.

“Jagoanku….jagoanku….hajar terus…vaginaku ini….ini milikmu semua….” Audrey merintih-rintih nikmat sambil masing-masing tangannya memegang pipi Kisno dengan keras dan matanya memandang liar ke mata Kisno.

Hanya perlu kurang lebih lima menit untuk Audrey mencapai orgasmenya kembali. Vagina Audrey kembali memuncratkan cairan kewanitaannya, badan Audrey menegang hebat, mata Audrey tertutup rapat dan lolongan yang panjang membuat semua orang tahu ketika Audrey sedang orgasme. Setelah orgasme, Audrey kembali menggeliat-geliat hebat, matanya kembali terbuka, tangannya menekan-nekan pantat Kisno agar penis Kisno makin dalam masuk ke vaginanya, dan selalu kurang lebih lima menit kemudian, badan Audrey menegang kembali, lolongan panjang terdengar dari mulutnya, badannya seperti kaku ketika Audrey mengalami orgasmenya kembali dan cairan kewanitaan kembali memuncrat hebat dari vaginanya. Kejadian tersebut kembali terjadi berulang-ulang sampai kurang lebih 40 menit. Badan Audrey dan Kisno sudah mandi keringat, namun keduanya nampak menikmati sekali permainan seks mereka, terutama Audrey terlihat sekali sudah tidak dapat mengontrol dirinya, lenguhan-lenguhannya semakin keras. Audrey mulai meracau dan mengeluarkan kata-kata cabul untuk menyemangati Kisno. Sangat berbeda dari Audrey yang pertama kali kukenal dan kunikahi. Audery sekarang telah berubah menjadi wanita yang gila seks, semakin kasar perlakuan Kisno terlihat semakin Audrey menikmatinya. Kemudian secara tiba-tiba, Kisno mencabut penisnya yang besar dari vagina Audrey. Langsung saja terdengar keluhan keras dari mulut Audrey.

“Jangan….dilepaaasss…..ooouuccchh……” terdengar teriakan Audrey ketika Kisno menjambak rambutnya dengan kasar dan menariknya serta memposisikannya berdiri menungging dengan kedua tangan berpangku pinggir meja di ruangan TV itu.

Tanpa mengatakan apapun lagi, Kisno dengan kasar lalu memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey dari belakang. Terdengar jeritan dari mulut Audrey ketika penis Kisno yang berbentuk aneh itu kembali mengoyak vaginanya. Kisno kemudian langsung memompa dengan kasar vagina Audrey dengan gaya doggy style. Tangan kiri Kisno melingkar ke depan kearah klitoris Audrey dan tangan kiri Kisno mulai memainkan, mencubit-cubit dan memilin-milin klitoris Audrey. Diperlakukan demikian langsung badan Audrey bereaksi. Badan Audrey menggelinjang-gelinjang hebat seperti orang kegelian. Terlihat cairan kewanitaan Audrey meleleh dari vaginanya makin membasahi kedua paha dalamnya. Mulut Audrey terbuka lebar, kepalanya bergoyang-goyang tidak beraturan, sedangkan kedua tangannya berusaha dengan susah payah tetap bertumpu pada pinggir meja. Suara lolongan dan rintihan nikmat Audrey membahana di ruangan itu bersahut-sahutan dengan bunyi keciplak kecipluk dari vaginanya yang basah dan bunyi bel kecil yang tersangkut di bibir atas vaginanya. Mata Audrey merem melek dan mendelik-delik karena kenikmatan yang tidak ada taranya, dan setiap kurang lebih lima menit Audrey kembali mencapai orgasmenya yang selalu ditandai dengan badannya yang mengejang hebat dan vaginanya yang memuncratkan cairan kewanitaan dengan cukup banyak. Kurang lebih 30 menit Adrey didoggy style oleh Kisno, keringat Audrey sudah mengucur deras. Cairan kewanitaannya sudah benar-benar membasahi kedua paha dalamnya. Karpet di antara kedua kaki Audrey sudah basah karena cairan kewanitaan Audrey yang mengucur deras ke bawah. Meja kaca tempat kedua tangan Audrey bertumpu sudah juga basah dengan lelehan keringat Audrey dan cairan kewanitaan Audrey yang memuncrat cukup jauh. Kemudian Wen dengan kamera ditangan kanannya menjambak rambut Audrey dengan tangan kirinya dan menarik rambut Audrey ke belakang sehingga wajah Audrey terdongak ke atas. Kamera lalu menclose-up wajah Audrey yang sedang meringis-ringis kenikmatan itu.

“Enak? Jawab ke kamera ini bagaimana rasanya” tanya Wen tegas kepada Audrey.

“Eeen..naaakkk…sekkaaali tuuuaaan” jawab Audrey sambil menggeliat-liat liar karena sodokan-sodokan penis Kisno dari belakang, “Penis tuan Kisno seperti hidup dan mengigit-gigit bagian dalam vagina saya…uuugghhh…aagghhh…..” lanjut Audrey sambil memandang kamera dan merintih-rintih kenikmatan.

“OOoooogggghhh………!!!” kemudian terdengar lolongan panjang Audrey yang disertai dengan vagina yang kembali memuncratkan cairan kewanitaannya tanda Audrey kembali mengalami orgasme yang panjang.

“Cepat sekali kamu orgasme ya. Mulai sekarang kamu harus juga menuruti apa kemauan Kisno, Amir dan Sudin. Kamu harus menyerahkan seluruh tubuhmu pada mereka, mau? Siap?” lanjut Wen sambil menjambak-jambak rambut Audrey ke belakang.

Setelah sedikit reda dari orgasmenya, Audrey menjawab dengan terbata-bata “Mau…tuuuaan…maaauu…, saya siap melayani dan menuruti apa maunya tuan Kisno, Amir dan Sudin”

“Sayaa….sepenuhnya milik mereka…eegghhh…aaaggghhh….ugghhhhh….” lanjut Audrey sambil menggelinjang-gelinjang dan merem melek kenikmatan.

Lalu Wen melepaskan jambakannya pada rambut Audrey dan mundur beberapa langkah untuk memberikan keleluasaan bagi Audrey untuk kembali konsentrasi ke persetubuhannya dengan Kisno. Melihat Wen telah membiarkan Audrey, Amir dan Sudin maju ke depan dan berdiri masing-masing disamping kiri dan kanan wajah Audrey. Kemudian Amir dan Sudin memerintahkan Audrey untuk mengocok masing-masing penis mereka dengan masing-masing tangan Audrey. Audrey segera menuruti meskipun hal tersebut membuat dirinya susah untuk berdiri karena kedua tangannya yang tadinya digunakannya untuk menumpu badannya sekarang harus dipergunakan untuk mengocok-ngocok penis Sudin dan Amir. Melihat Audrey yang kesulitan berdiri sambil menungging, Kisno malah menggunakan kedua tangannya untuk memegang erat pinggul Audrey dan makin memompa dengan keras penisnya pada vagina Audrey yang membuat Audrey makin kesulitan berdiri menungging. Ditambah lagi sekarang Amir dan Sudin dengan tangannya masing-masing mulai meraba-raba dan mempermainkan klitoris dan kedua payudara Audrey sehingga Audrey makin menggelinjang-gelinjang seperti cacing kepanasan yang membuatnya tambah sulit mempertahankan posisi berdirinya. Audrey yang sudah benar-benar kehilangan kontrol atas dirinya sudah benar-benar pasrah. Kenikmatan yang diberikan Kisno pada dirinya telah benar-benar menghilangkan harga dirinya sebagai wanita terhormat. Menyadari Audrey sudah benar-benar hanyut dalam kenikmatan seksual, Amir dan Sudin tidak tahan untuk mengetahui seberapa menurutnya Audrey pada mereka.

“Hayo…menggonggong seperti anjing betina yang sedang dientot” perintah Amir kasar tiba-tiba kepada Audrey.

“Gu…guk…guuk…oghhh…..aghhh..guuuk….” Audrey langsung menuruti perintah Amir yang disambut oleh tawa lebar dari Amir, Sudin dan Kisno.

“Hayo keluarkan lidahmu seperti anjing kehausan” perintah Sudin kemudian yang langsung dituruti oleh Audrey yang cantik sambil menggelinjang-gelinjang kenikmatan sehingga sekarang Audrey dalam posisi berdiri menungging didoggy style Kisno dengan masing-masing tangan sibuk mengocok penis Amir dan penis Sudin serta mulut terbuka dengan lidah menjulur keluar serta nafas terengah-engah seperti anjing kehausan.

“Hahahahaha…” terdengar tawa semua yang ada di ruangan TV itu melihat Audrey menuruti semua perintah Amir dan Sudin. Hanya aku yang tidak ikut tertawa. Aku sekarang melihat istriku yang cantik benar-benar dipermalukan oleh supir dan pembantunya sendiri tapi istriku menikmatinya. Audrey sudah benar-benar takluk pada keperkasaan Kisno sehingga mau dipermalukan oleh Sudin dan Amir.

“OOOggggghhhh…..” terdengar lolongan panjang dari mulut Audrey setiap kali Audrey mencapai orgasmenya. Tubuhnya selalu mengejang hebat dan vaginanya selalu memuncratkan cairan kewanitaan setiap kali Audrey mencapi orgasme namun Audrey tidak melemas setelah mengalami orgasme. Vaginanya langsung siap meneruskan persetubuhannya dengan Kisno.

Setelah berpuluh-puluh menit dan setelah Audrey mengalami orgasme yang sudah tidak terhitung lagi, Amir dan Sudin mencapai orgasmenya. Dimuntahkannya sperma mereka masing-masing ke wajah Audrey, dan mereka memerintahkan Audrey membersihkan sisa-sisa sperma dari penis mereka dengan menggunakan lidah dan mulut Audrey yang langsung dituruti Audrey tanpa ragu-ragu. Sudin dan Amir juga memerintahkan Audrey untuk membersihkan muka Audrey dari sperma dengan tangan Audrey, kemudian mereka meminta Audrey untuk menjilati tangannya sendiri dan menelan seluruh sperma yang ada ditangannya.

Tidak seperti Amir dan Sudin, rupanya Kisno benar-benar seorang pria yang tangguh dalam hal seks. Belum ada tanda-tanda Kisno akan orgasme. Amir dan Sudin yang sudah lemas berejakulasi kemudian hanya menonton persetubuhan Kisno dan Audrey. Demikian juga yang lainnya hanya menonton Audrey dikerjai habis-habisan oleh Kisno. Audrey dan Kisno melanjutkan pertarungan seks yang tidak seimbang itu. Audrey setiap kurang lebih 5 menit menyerah kalah dan mengalami orgasme yang dahsyat sedangkan Kisno dengan perkasanya tetap memompa vagina Audrey dengan cepat dan kasar. Audrey dan Kisno bersetubuh dengan berbagai macam gaya, baik itu dalam posisi Kisno di atas menindih tubuh Audrey maupun gaya woman on top serta gaya lainnya yang aneh-aneh dan belum pernah aku lihat sebelumnya. Audrey dan Kisno juga bersetubuh di berbagai tempat di lantai bawah rumah kami, baik itu di atas karpet, di atas sofa, ditangga maupun di atas meja makan. Kami semua yang menonton mengikuti kemana saja persetubuhan Audrey dan Kisno dilakukan. Setelah beberapa jam, akhirnya terlihat Kisno akan mengalami orgasmenya. Diperintahkannya Audrey berlutut sambil kedua tangannya memegang mangkuk dan menengadahkannya kearah penis Kisno. Dengan sedikit kocokan pada penisnya, Kisno memuntahkan banyak sekali sperma ke mangkuk itu. Kemudian Kisno memerintahkan Audrey untuk meletakkan mangkuk itu di lantai dan memerintahkan Audrey mulai meminum dan menjilat abis sperma yang berada di mangkuk itu sehingga sekarang posisi Audrey seperti anjing yang sedang minum di mangkuknya. Audrey menuruti segala perintah Kisno tanpa melakukan protes apapun. Nampaknya sudah benar-benar habis harga diri istriku ini. Audrey sudah benar-benar menjadi budak seks sejati. Hal itu makin terlihat ketika sedang menjilati mangkuk berisi sperma Kisno dengan posisi menungging seperti anjing yang sedang minum, Amir memasukkan gagang sapu ke vagina Audrey dari belakang dan memerintahkan Audrey untuk menggerakkan pinggul dan badannya sehingga vagina Audrey mengocok-ngocok gagang sapu, dan hal tersebut dipatuhi oleh Audrey tanpa protes sehingga Audrey dengan rela menyetubuhi dirinya sendiri dengan gagang sapu yang dipegang Amir.

“Oke, Tommy….saya dan Peter pulang dulu. Kisno kamu disini dulu saja, kelihatannya Audrey sangat menyukaimu. Biar Peter yang menyetir mobil pulang ke rumah. kata Wen tiba-tiba kepadaku dan Kisno.

Kisno hanya mengangguk riang, sedangkan aku mengantarkan Wen dan Peter ke mobilnya. Ketika aku kembali ke dalam rumah, ternyata Kisno, Amir dan Sudin sudah mulai lagi menyetubuhi Audrey secara bersamaan. Posisi Sudin berbaring di atas karpet ditindih Audrey sedangkan Kisno menindih Audrey dari belakang. Penis Sudin tertancap keras di vagina Audrey dan penis Kisno sedang membobol lubang anus Audrey, sedangkan Amir sibuk memompa penisnya dalam mulut Audrey sehingga kini seluruh lubang Audrey dipenuhi penis-penis yang besar-besar. Jeritan-jeritan dan rintihan-rintihan nikmat terdengar lagi membahana di rumahku. Aku hanya melihat sebentar persetubuhan mereka dan naik ke atas ke kamar tidur utama untuk beristirahat. Aku melihat istriku sangat menikmati persetubuhannya dengan Kisno, Amir dan Sudin sehingga aku membiarkan istriku menikmatinya tanpa gangguan dariku. Di dalam kamar, meskipun pintu kamarku tertutup rapat, masih jelas terdengar jeritan-jeritan dan rintihan-rintihan mereka. Terdengar jelas lolongan istriku tanda dia orgasme yang disertai suara tawa dari Kisno, Amir dan Sudin. Aku merebahkan diriku di kasur sambil membayangkan apa yang kira-kira sedang dilakukan Kisno, Amir dan Sudin terhadap istriku di ruang bawah sampai akhirnya aku terlelap dalam tidur.

********************************

Bagian IV: Penutup

Keesokan harinya, ternyata aku bangun cukup siang. Sudah jelas aku terlambat datang ke kantor. Buru-buru aku mandi dan berpakaian dan setelah siap aku turun ke ruang bawah. Ketika melewati ruang TV aku melihat dari belakang Kisno, Amir dan Sudin duduk di sofa sambil merokok dan menonton TV. Aku tidak melihat istriku, oleh karenanya aku bergegas menghampiri mereka di ruang TV. Ternyata setelah dekat dengan tempat Kisno, Amir dan Sudin duduk, aku melihat istriku sedang duduk bersimpuh setengah berbaring di atas karpet sambil menjilati jari-jari kaki Kisno, Amir dan Sudin. Di vagina istriku tertancap sebuah mentimun besar dan di lubang anusnya tertancap sebuah pisang ambon yang belum dikupas.

Melihat aku datang dan sudah siap dengan pakaian kantor, Kisno berkata “Pak, mau ke kantor ya, saya nebeng ya pak, tadi pak Wen menelepon dan memerintahkan saya segera ke kantor.

Aku hanya mengangguk dan memerintahkan Amir untuk segera menyiapkan mobil dan mengantarku ke kantor. Pada mulanya Amir terlihat tidak mau menuruti perintahku, tapi dengan satu pelototan tajam dari mataku, Amir segera mengerti dan menuruti perintahku. Sudin yang melihat Amir pontang-panting mengenakan bajunya dan lari ke garasi mobil hanya tertawa kecil sambil dengan kaki kirinya mengarahkan kepala istriku untuk menjilati jari-jari kaki kanannya. Melihat tingkah Sudin aku hanya diam saja mengacuhkan karena aku melihat Audrey juga tidak protes dan menerima perlakuan pembantu priaku itu. Setelah mobil selesai dipanaskan oleh Amir, aku dan Kisno masuk ke dalam mobil menuju kantor dengan disupiri oleh Amir. Sepintas aku lihat ketika keluar rumah, Sudin dengan memegang rantai yang menyambungkan kedua jepitan pada kedua payudara Audrey sedang menarik Audrey ke atas menuju kamar tidur utama di lantai atas.

Ketika Istriku Menjadi Budak Seks Bosku

Posted May 17, 2010 by sigadisseksi
Categories: kisah seks

Bagian I: Permulaan

Audrey

Cerita ini bermula ketika aku dan istriku sudah membina rumah tangga selama 2 tahun. Aku bernama Tommy dan Istriku bernama Audrey, umurnya saat ini 27 tahun, berwajah cantik, kulitnya putih, tinggi badan sekitar 165cm, rambutnya sedikit lebih panjang dari bahu. Kehidupan kami berumah tangga sangatlah baik, kami termasuk keluarga yang mapan. Sebagai istri, Audrey adalah istri yang baik, ia adalah seorang wanita yang alim dan sopan. Untuk urusan ranjang, Audrey dapat dikatakan bukanlah seorang ahli, laki-laki pertama yang menidurinya adalah aku yaitu pada saat malam pengantin kami. Dua tahun kehidupan perkawinan kami berjalan baik-baik saja, kami belum mempunyai keturunan, mungkin kekurangannya adalah kehidupan seks kami terlalu biasa-biasa saja. Kami mungkin hanya berhubungan badan sekali dalam 2 minggu dan itupun hanya dengan cara yang sangat konvensional yaitu posisiku di atas dan dia di bawah. Audrey tidak menyukai atau bahkan dapat dikatakan tidak mau dengan gaya lain selain gaya konvensional tersebut. Entah kenapa setelah 2 tahun berumah tangga, pada waktu berhubungan badan dengan Audrey, aku selalu membayangkan Audrey sedang disetubuhi laki-laki lain, dan hal tersebut terus berulang sampai-sampai pada saat sedang tidak berhubungan badanpun dengan Audrey aku selalu memikirkan bagaimana rasanya melihat Audrey disetubuhi laki-laik lain. Aku bekerja di sebuah perusahaan multi-nasional, bossku adalah seorang warga negara China, umurnya sekitar 59 tahun, badannya sangat gemuk dan kepalanya sudah mulai botak, hanya tinggal rambut-rambut tipis menutupi bagian kepala belakangnya. Bossku ini, namanya Wen sangatlah baik kepadaku, dapat dibilang akulah tangan kanannya di Indonesia. Orangnya suka bergurau masalah-masalah seks. Wen sering sekali menanyakan kabar Audrey, memang sudah beberapa kali Wen bertemu dengan Audrey dalam acara-acara kantor, terlihat sekali dia sangat tertarik pada Audrey yang memang sangat cantik dan menggiurkan banyak laki-laki. Suatu ketika Wen menanyakan kehidupan rumah tanggaku, seperti biasa dia menanyakan kabar Audrey dan menanyakan mengapa sampai saat ini kami belum mempunyai keturunan dan apakah hal tersebut disengaja karena memang belum menginginkan keturunan. Mendengar pertanyaan tersebut, akupun menjawab bahwa sebenarnya aku dan Audrey menginginkan keturunan tapi memang belum berhasil mendapatkannya.

“Mungkin cara kamu salah Tom, berapa kali kamu berhubungan badan dengan istrimu dalam seminggu” Tanya Wen kepadaku.

“Yah sekitar sekali dalam 2 minggu dan pada saat istriku dalam keadaan subur” jawabku singkat.

“Waah, mungkin kamu harus periksa ke dokter tuh, dokter ahli kandungan dan dokter ahli jiwa. Kenapa ke dokter ahli jiwa? Karena kamu punya istri cantik tapi hanya ditiduri sekali dalam 2 minggu atau pada saat subur saja. Kalau Audrey itu istriku, pasti aku tiduri dia tiap hari dan berkali-kali” candanya kepadaku.

Mendengar hal tersebut, entah setan apa yang menghinggapi diriku, timbul sebuah ide dalam benakku.

“Mr. Wen mau tidur dengan istriku? Bilang saja terus terang” celotehku.

Mendengar perkataanku muka Wen terlihat kaget dan tidak percaya.

“Kalau saya bilang memang sangat mau bagaimana?” katanya memancingku.

“Ya boleh saja” sahutku.

Kemudian aku menceritakan kepada Wen bahwa akhir-akhir ini aku selalu membayangkan aku menyaksikan Audrey ditiduri laki-laki lain, dan aku juga menjelaskan bahwa mungkin pikiranku ini hanya akan jadi khayalan semata mengingat betapa alimnya Audrey. Ternyata gayung bersambut. Wen menjelaskan dan meyakinkan kepadaku bahwa sebenarnya tidak ada wanita yang alim dalam seks, wanita hanya memerlukan pancingan dan pengaturan “permainan” dari laki-lakinya untuk membangkitkan nafsu yang ada dalam dirinya. Wen kemudian mengatakan bahwa dirinya akan dengan senang hati membantu khayalanku menjadi kenyataan kalau memang aku mempercayainya. Mendengar itu akupun langsung mengiyakan. Wen kemudian memastikan lagi apakah aku tidak akan apa-apa kalau dirinya meniduri Audrey dan menanyakan apakah aku meminta imbalan sesuatu dari dirinya agar dia diperbolehkan meniduri Audrey. Aku menjawab bahwa aku tidak meminta apa-apa, aku hanya minta diperbolehkan untuk melihat dan menonton Wen meniduri Audrey.

“Hahaha…rupanya kamu sudah ingin sekali melihat istrimu ditiduri laki-laki lain ya” candanya kepadaku.

“Ya begitulah”, jawabku singkat.

“Oke, kalau begitu jumat depan bawa istrimu ke villa xxx di puncak pada pukul 8.00 pm” sahut Wen sambil menunjukan ancer-ancer dimana villa itu berada.

Bagian II: Pesta di rumah Wen

Mr. Wen

Pukul 8 malam aku dan Audrey telah berada di depan villa yang dimaksud oleh Wen. Audrey memakai gaun malam panjang. Wajahnya terlihat sangat cantik dengan sapuan make-up tipis. Badannya tetap terlihat menawan meskipun ditutupi oleh gaun malam yang panjang. Seorang pelayan yang rupanya bertugas menyambut tamu mempersilahkan kami masuk ke ruang tengah. Villa tersebut sangatlah besar ditengah perkebunan teh dengan halaman belakang dengan kolam renang dan jacuzzi. Ruang tengah villa tersebut sangatlah besar dan telah disulap menjadi diskotik dengan lagu house music yang berdentum keras. Sudah banyak tamu lain baik wanita maupun laki-laki yang telah datang lebih dahulu daripada kami. Semua tamu kelihatannya adalah teman-teman Wen, mereka adalah sesama pengusaha China daratan yang ada di Indonesia, rata-rata mereka berusia di atas 50 tahun. Aku tidak melihat satupun rekan kerjaku di kantor yang datang, mungkin karena memang tidak diundang. Melihat kami, Wen menyambut aku dan Audrey dengan ramah. Wen kemudian mempersilahkan kami menikmati pesta yang diadakannya dan menjelaskan kepada kami bahwa pesta ini diadakan untuk networking sesama pengusaha China daratan di Indonesia. Kemudian Wen meninggalkan aku dan Audrey dan mempersilahkan kami untuk memesan minuman langsung ke bar di pojok ruang tengah. Kamipun menuju bar untuk memesan minuman. Audrey memesan segelas jus buah dan aku segelas bir, dan kamipun menikmati pesta tersebut dan berbincang-bincang dengan tamu-tamu yang lain. Sekitar satu jam kemudian, yaitu tidak beberapa lama setelah Audrey menghabiskan jus buahnya, aku melihat terjadi perubahan pada diri Audrey. Audrey mulai menikmati lagu house music di ruangan tersebut dan mulai menggerakan badannya mengikuti alunan house music. Wen kemudian mendekati kami dan mengajak Audrey ke dance floor. Audrey tanpa meminta ijin dariku mengikuti Wen ke dance floor dan mulai menari dan berdansa dengan Wen. Aku melihat teman-teman Wen baik wanita dan laki-laki semuanya mendekat kepada Wen dan Audrey dan kemudian menari bersama. Sedangkan aku hanya duduk disofa dan menonton sambil meminum birku. Pesta berlangsung meriah, tidak terasa 3 jam sudah berlalu. Audrey masih menari dan berdansa dengan tamu-tamu lainnya. Aku melihat sudah beberapa gelas minuman yang ditawarkan kepada Audrey dan dihabiskannya. Kemudian 3 tamu wanita mengajak Audrey ke lantai atas villa, aku berusaha mengikuti tapi tiba-tiba tangan Wen mencegahku di kaki tangga menuju lantai atas.

“Biarkan saja, kamu harus mengikuti semua arahan saya kalau mau rencana kita berjalan lancar” kata Wen kepadaku.

2 jam telah berlalu semenjak Audrey naik ke lantai atas villa, tamu-tamu sudah banyak yang pulang, ketika tiba-tiba Wen memanggilku.

“Ayo ke atas” ajak Wen kepadaku. Akupun mengikuti Wen ke lantai atas bersama 4 tamu pria yang lain yang aku tidak tahu namanya.

Di lantai atas, Wen membimbing kami ke dalam sebuah kamar. Kamar tersebut sangatlah besar lengkap dengan segala furniture mewah, dan tepat ditengah kamar terdapat tempat tidur king size dengan sprei berwarna merah marun dengan TV LCD yang sangat besar menempel di dinding dan menghadap ke tempat tidur tersebut. Sebuah connecting door yang tertutup telihat di salah satu sisi ruangan itu menandakan kamar tersebut tersambung dengan kamar yang lain. Audrey dan 3 tamu wanita sudah berada di kamar tersebut, mereka sedang berbincang-bincang dengan akrab.

“Nah, ini kamar buat Tommy dan Audrey, yang lain ayo ikut saya, akan saya tunjukan kamar masing-masing” kata Wen sambil mempersilahkan tamu-tamu yang lain keluar dari kamar itu.

“Selamat malam dan selamat tidur, besok kita pulang ke Jakarta” kata Wen kepadaku dan Audrey sambil meninggalkan kami berdua di kamar tersebut.

Aku tidak tahu apa rencana Wen jadi aku hanya mengikuti saja apa yang diinstruksikannya. Setelah membersihkan badan, aku dan Audreypun naik ke tempat tidur. Beberapa saat kami mencoba tidur namun tidak bisa. Aku masih bingung dengan apa yang akan terjadi, mengapa Wen tidak melakukan apapun juga, sedangkan Audrey terlihat gelisah tidak tahu apa penyebabnya. Tiba-tiba Audrey memalingkan wajahnya kepadaku dan memelukku. Tanpa berkata apa-apa dia menciumku dan aku balas ciumannya.

Beberapa saat kami berciuman, Audrey berkata “Buka bajunya Tom, aku kepengen nih”.

Sedikit kaget aku melihat Audrey menjadi agresif, tidak biasanya Audrey mengajak aku melakukan hubungan badan, biasanya aku yang selalu mengajaknya.

“Mungkin ini akibat minuman yang diberikan Wen di pesta” pikirku.

“Mungkin ini ada kaitannya dengan rencana Wen” pikirku lagi.

Maka akupun menuruti apa yang diinginkan Audrey. Akupun melepaskan seluruh pakaianku dan kemudian aku melepaskan seluruh pakaian Audrey sehingga kami berdua telanjang bulat. Aku dan Audrey berciuman, berpelukan dan melakukan foreplay, namun meskipun telah beberapa saat melakukan foreplay, aku menyadari sesuatu hal yang aneh, kemaluanku tidak dapat berdiri dan mengencang.

“Ini pasti karena bir yang diberi oleh Wen, dia pasti mencampur sesuatu pada birku” pikirku dalam hati.

Kami mencoba segala macam gaya foreplay, namun meskipun sudah lebih dari 1 jam teta kemaluanku tidak dapat berdiri.

Audrey terus mencoba membangunkan kemaluanku, namun tetap tidak berhasil. Raut frustasi nampak di wajahnya. Terlihat sekali Audrey ingin berhubungan badan, gejolak dalam dirinya sudah tidak tertahankan lagi, namun keinginannya tidak dapat terpenuhi karena kemaluanku tidak bisa berdiri dan mengeras. Kami terus mencoba, namun tetap tidak berhasil. Wajah Audrey semakin terlihat frustasi, namun nafsu seksnya masih menggebu-gebu bahkan aku lihat tiap menit semakin bertambah. Tiba-tiba connecting door kamar kami terbuka dan Wen masuk ke dalam kamar kami dengan hanya menggunakan jubah tidur. Aku dan Audrey sangat kaget. Audrey langsung menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut.

“Maaf, mungkin saya bisa membantu kalian” kata Wen tiba-tiba.

“Pak Wen, harap keluar dari kamar kami” sahut Audrey dengan sedikit membentak.

Wen bukannya keluar kamar kami, tapi malah duduk dipinggir tempat tidur kami dan berkata “Saya melihat suamimu sedang dalam masalah, saya hanya ingin membantu”

“Apa maksudnya? Jangan kurang ajar!” sahut Audrey dengan keras.

“Tenang, saya hanya ingin membantu. Kita akan berpesta malam ini” kata Wen tegas.

Aku melihat Audrey sedikit takut mendengar bentakan Wen.

“Coba kita tanya suamimu apa pendapatnya” bentak Wen lagi kepada Audrey.

Aku sekarang menyadari inilah rencana Wen untuk dapat meniduri Audrey. Dan aku ingin sekali melihat Audrey ditiduri pria lain, maka akupun mengikuti permainan Wen.

“Terserah apa maunya Pak Wen, kami akan menuruti” kataku kepada Wen.

“Tom, aku tidak mau, apa-apan in….” Audrey belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Wen menarik selimut yang menutupi tubuh Audrey dan dengan cekatan tangan kanannya memegang kedua tangan Audrey dan menariknya ke atas kepala Audrey, sedangkan tangan kirinya menangkap kedua kaki Audrey.

Wen kemudian memerintahkanku untuk memegang pergelangan kedua kaki Audrey dan membukanya lebar-lebar. Akupun menuruti sehingga posisi Audrey sekarang tiduran dalam dalam bentuk menyerupai Y terbalik.

“Tom, jangan bantu dia tapi bant…..uuggghhh…..” terhenti kata-kata Audrey ketika Wen mulai menciumi kedua payudaranya berukuran pas sesuai dengan ukuran badannya, sedangkan tangan kiri Wen yang bebas sudah menggerayangi vagina Audrey.

“Mmmhh… saya tahu kamu sudah nafsu berat, jangan melawan, nikmati saja” bisik Wen kepada Audrey sambil terus menjilati kedua payudara Audrey.

“Tom, apa yang kamu lakukan” desah Audrey sambil memandang sayu kepadaku.

Aku tidak menjawab atau lebih tepatnya pura-pura tidak mendengar. Terlihat dimuka Audrey bahwa dia sudah sangat terangsang karena ciuman dan jilatan-jilatan Wen dikedua payudaranya serta tangan kiri Wen yang memainkan klitorisnya. 15 menit diperlakukan demikian oleh Wen, Audrey mulai mengeluarkan erangan-erangan dan rintihan-rintihan pelan, perut dan pinggangnya mulai bergerak mengikuti irama permainan jari wen di klitorisnya. Mata Audrey semakin sayu, matanya mulai merem melek. Kemudian Wen menghentikan ciumannya di kedua payudara Audrey dan berkata “Gimana Tom, kamu lihat sendiri istrimu mulai menikmatinya”

“Sebentar lagi dia akan menikmati malam yang paling menakjubkan bagi dirinya” tambah Wen sambil tetap memaikan klitoris Audrey dengan jarinya.

“Coba kamu pangku istrimu di pinggir kasur, pegang dan buka kakinya lebar-lebar. Aku ingin menikmati vagina istrimu yang sudah basah ini” perintah Wen kepadaku kemudian.

Aku menuruti apa yang diperintahkan Wen. Aku angkat Audrey dan aku duduk dipinggir kasur sambil memangku Audrey. Aku pegang dan buka kaki Audrey lebar-lebar sehingga sekarang Audrey posisinya dipangku olehku dan mengangkang lebar sehingga menyerupai huruf “M”. Audrey sudah tidak melawan lagi, tubuhnya yang lemas menuruti apa yang aku lakukan terhadapnya. Audrey hanya memandangku sayu tanpa berkata apa-apa lagi. Kemudian Wen berlutut dilantai dipinggir kasur. Wen memandang Audrey dan berkata

“Wow indah sekali vaginamu Audrey, pasti banyak laki-laki yang ingin memcobanya”.

Audrey hanya memandang Wen dengan sayu dan tidak menjawab. Wen kemudian mulai menjilati vagina Audrey yang disertai erangan dari Audrey. Audrey hanya bisa memandang Wen menjilati vaginanya, Audrey mulai menggigit bibirnya sendiri tanda dia makin terangsang, kadang-kadang dia memandangku seakan-akan untuk memastikan bahwa aku tidak apa-apa kalau dia terangsang oleh pria lain. Kemudian tangan Wen membuka vagina Audrey dengan tangan kirinya. Hal ini membuat Audrey yang sedang memandang sayu kepadaku kaget dan melihat ke bawah kearah vaginanya.

“Jangan…” desah Audrey pelan.

“Tenang cantik… ini akan enak sekali” sahut Wen dengan kasar dan tegas.

Kemudian Wen memasukkan kedua jarinya ke dalam vagina Audrey dan menggerakkannya keluar masuk dan memutar disertai jeritan kecil Audrey. Lalu kembali menjilati vagina Audrey dan memainkan klitoris Audrey dengan lidahnya tanpa menghentikan kegiatan jarinya di vagina Audrey.

Erangan-erangan dan rintihan-rintihan Audrey semakin keras, badan dan pinggulnya bergerak mengikuti permainan Wen di vaginanya. 15-30 menit diperlakukan demikian oleh Wen, Audrey terlihat mulai mendekati orgasmenya, erangannya semakin keras, goyangan badannya juga semakin keras dan tidak beraturan. Sampai pada akhirnya tubuh Audrey mengejang hebat, matanya tertutup rapat dan kepalanya mendongak ke atas.

“UUUGGGHHHHH…….” erang Audrey keras menandakan dia mengalami orgasme yang hebat. Cairan keluar dari vaginanya, cairan tersebut sedikit memuncrat. Tidak pernah kau melihat Audrey mengalami orgasme yang sedemikian hebat, apalagi hanya karena dijilati vaginanya. 3 menit lamanya Audrey dipuncak orgasme. Namun anehnya setelah orgasmenya berlalu Audrey tidak lemas, matanya malah berbinar dan wajahnya tersenyum nakal kepada Wen.

“Istrimu sudah siap disetubuhi. Obat yang saya berikan dalam minumannya bekerja dengan baik dan cocok untuk dirinya. Istrimu siap untuk bersetubuh sepanjang malam. Setiap habis orgasme badannya akan terasa semakin segar dan nafsu seksnya semakin menggila” kata Wen menjelaskan kepadaku karena melihat aku heran dengan keadaan Audrey.

“Sekarang kamu, duduk saja di sofa itu dan menonton istrimu kusetubuhi. Aku lihat kemaluanmu mulai bisa bangun lagi, artinya obat yang kucampur di birmu mulai hilang, sehingga kamu bisa menikmati tontonan yang akan aku dan istrimu berikan spesial untukmu” perintah Wen kepadaku.

Aku menuruti Wen dan pindah ke sofa di samping tempat tidur. Wen mengangkat tubuh Audrey dan menelentangkannya di tengah tempat tidur. Wen kemudian melepaskan baju tidurnya. Ternyata di balik baju tidur tersebut Wen sudah tidak mengenakan apapun lagi, sehingga sekarang Wen dan Audrey berdua telanjang bulat di kasur. Audrey terlihat kaget melihat penis Wen. Penis Wen sangat besar, panjang, tebal dan berurat. Kemudian Wen mendekati kepala Audrey. Wen berlutut mengangkangi muka Audrey. Tangan kirinya mulai meraih vagina Audrey. Audrey yang merasa ada tangan di vaginanya langsung membuka kakinya lebar-lebar. Wen mengarahkan penisnya yang besar ke mulut Audrey, dan Audreypun tanpa diperintah membuka mulutnya lebar-lebar, dan Wen kemudian mulai memasukkan kemaluannya yang besar keluar masuk mulut Audrey yang mungil. Terlihat mulut Audrey kesulitan untuk menerima penis yang besar itu, namun Wen dengan sedikit kasar memaksakan penisnya keluar masuk mulut Audrey. Terlihat mulut Audrey penuh oleh penis Wen. Audrey kelihatan kepayahan namun tetap berusaha mengikuti maunya Wen. Kemudian Wen memerintahkan Audrey menjulurkan lidahnya keluar dengan tetap membuka mulutnya, dan Audrey menuruti apa maunya Wen, sehingga sekarang penis Wen keluar masuk mulut Audrey dan lidah Audrey menjilati batang penis Wen.

Sungguh suatu hal yang menakjubkan yang terjadi di depan mataku. Audrey yang biasanya paling tidak mau melakukan oral seks sekarang menuruti kemauan pria tua gendut yang sebenarnya tidak begitu dikenalnya. 10 menit kemudian penis Wen sudah terlihat sangat kencang, kemudian Wen menurunkan badannya dan mengarahkan penisnya ke vagina Audrey. Mengetahui apa yang akan dilakukan Wen, Audrey membuka makin lebar kedua kakinya. Wen kemudian dengan perlahan memasukkan penisnya yang besar ke dalam vagina Audrey secara perlahan. Audrey terlihat menahan sakit ketika penis Wen mulai memasuki vaginanya, namun raut mukanya segera berubah menjadi raut muka takjub ketika penis Wen telah seluruhnya masuk ke vaginanya. Mungkin Audrey tidak menyangka vaginanya dapat menampung seluruh penis Wen yang sangat besar dan panjang itu. Setelah penis Wen masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey, Wen tidak langsung menggenjotnya, namun Wen menunggu beberapa saat agar Audrey terbiasa dengan penisnya yang besar di dalam vaginanya. Satu menit kemudian Wen mulai menggerakkan penisnya keluar sampai hanya tinggal kepala penisnya di dalam vagina Audrey, kemudian Wen memasukkan seluruh penisnya kembali secara perlahan ke dalam vagina Audrey dan hal tersebut dilakukannya berulang-ulang dengan menambah tempo iramanya makin lama makin cepat. Audrey terlihat sangat menikmati permainan dan gerakan Wen, matanya berbinar, erangan-erangan kecil keluar dari mulutnya yang mungil, pinggulnya bergerak mengikuti irama permainan Wen dan kadang-kadang Audrey menciumi dada Wen yang ditumbuhi bulu sangat lebat itu. Tempo permainan dan genjotan penis Wen di dalam vagina Audrey semakin cepat, racauan Audrey semakin kencang, matanya merem melek menikmati genjotan-genjotan penis Wen di vaginanya. Wen yang mengetahui Audrey sangat menikmati persetubuhannya makin mempercepat gerakannya. Wen menciumi, menjilati dan sedikit menggigit puting kedua payudara Audrey secara bergantian. Audrey diperlakukan demikian semakin hanyut dalam nafsu birahinya, racauannya semakin keras lagi, mulutnya terbuka, matanya terpejam dan kedua tangannya meremas-remas sprei tempat tidur. 20 menit kemudian tubuh Audrey, Audrey, mulai mengejang, tanda dia akan mengalami orgasme yang hebat.

“Terus…terus…jaaanngaan berheen..ti” teriakan kecil keluar dari mulut Audrey.

Kemudian badannya mengejang hebat sampai badannya melengkung ke belakang, kedua kakinya diapitkan di pinggul Wen dan kedua tangannya merangkul leher Wen dengan kencang.

“OOOOhhhhh……” lolong Audrey ketika dia dipuncak orgasmenya, dan kemudian badannya sedikit melemas dan Audrey langsung menciumi bibir Wen dan mereka berdua berciuman dengan ganasnya, lidah Audrey dan lidah wen saling berpautan, hal yang tidak pernah dilakukan Audrey terhadapku.

Melihat adegan live Audrey dan Wen membuat penisku menegang dengan keras. “Akhirnya kahayalanku menjadi kenyataan” pikirku dalam hati.

Setelah beberapa menit berciuman, Wen kemudian memindahkan posisi Audrey sehingga Audrey sekarang tiduran sambil menyamping menghadap ke arah diriku di sofa. Tanpa memgeluarkan penisnya dari vagina Audrey. Wen memindahkan tubuhnya ke belakang Audrey sehingga sekarang mereka berdua tidur menyamping menghadap diriku dengan Audrey didepan dan Wen di belakangnya. Wen kemudian melanjutkan genjotan penisnya yang sangat besar itu di vagina Audrey. Tangan kiri Audrey dilipatnya ke belakang sehingga tangan kiri Wen dapat dengan bebas memijat-mijat kedua payudara Audrey. Wen menggenjot penisnya dalam vagina Audrey dengan cepat, tangan kirinya bergantian memijat kedua payudara Audrey dan klitoris Audrey. Audrey kembali tenggelam dalam nafsu seksnya, matanya terlihat sayu, mulutnya terbuka sedikit dan tanpa sadar Audrey mengangkat kaki kirinya ke atas, sehingga terlihat olehku vaginanya yang mungil penuh sesak oleh penis Wen yang besar dan panjang itu. Sekitar 40 menit Wen telah menyetubuhi Audrey dengan gaya menyamping, gerakan-gerakannya semakin ganas. Audrey tergoncang-goncang dengan hebatnya, racauan-racauan Audrey sudah berubah menjadi terikan-teriakan kenikmatan. Gelombang demi gelombang orgasme melanda Audrey, namun Wen masih dengan semangatnya menyetubuhi Audrey dan belum ada tanda-tanda bahwa Wen akan orgasme, sedangkan aku saja sudah dua kali mengalami orgasme melihat Audrey disetubuhi oleh Wen dengan ganasnya. Wen yang belum puas dengan Audrey kembali mengubah posisi Audrey lagi. Kali ini Audrey dimintanya tengkurap menungging dengan kepala menghadap diriku di sofa, dan kemudian Wen menyetubuhi Audrey dengan gaya doggy style, hal mana yang belum pernah dilakukan oleh diriku dan Audrey karena Audrey selalu menolaknya, namun dengan Wen, Audrey dengan senang hati menurutinya. Wen menggenjot vagina Audrey dari belakang dengan tempo yang berubah-ubah, kadang cepat sekali dan secara tiba-tiba memelankan genjotannya seperti slow motion dan kemudian cepat lagi. Hal ini membuat Audrey semakin tidak bisa mengontrol dirinya, kepalanya tertunduk dan bergerak ke kanan kiri tidak beraturan. Tangan Audrey kembali meremas-remas sprei tempat tidur dengan kencangnya, racauan-racauan dan teriakan-teriakan Audrey semakin membahana di kamar itu.

Kemudian tangan kiri Wen meraih rambut Audrey, menjambaknya dan menariknya ke belakang sehingga kepala Audrey mendongak ke atas. Genjotan penis Wen dalam vagina Audrey masih dalam tempo yang berubah-ubah, tangan kanan Wen kadang-kadang menampar kedua pantat Audrey bergantian. Kepala Audrey terdongak ke atas, kedua matanya terpejam rapat dan mulutnya terbuka lebar. Audrey sudah tidak dapat lagi bergerak mengikuti permainan Wen, tubuhnya hanya tergoncang-goncang keras karena sodokan-sodokan penis Wen ke dalam vaginanya. Gelombang-demi gelombang orgasme kembali melanda Audrey. Setiap mengalami orgasme tubuh Audrey mengejang untuk beberapa menit dan dari vaginanya sedikit memuncratkan cairan kewanitaannya, hal mana tidak pernah terjadi apabila Audrey bersetubuh denganku. Setiap setelah mengalami orgasme, tubuh Audrey terlihat melemas untuk beberapa saat, namun tidak lama kemudian terlihat tubuh Audrey menjadi segar kembali dan siap menerima genjotan-genjotan ganas penis Wen yang besar di dalam vaginanya. “Ini pasti karena obat yang diberikan Wen dalam minuman istriku” pikirku dalam hati melihat stamina Audrey yang sangat kuat malam itu. Kedua tangan Wen kemudian meraih kedua tangan Audrey dan menarikanya ke belakang, sehingga tubuh Audrey sedikit terangkat ke atas dengan kedua lututnya masih bertumpu pada kasur, dan Wen menggerakan penisnya yang besar keluar masuk secara pendek-pendek dan dalam tempo yang sangat cepat pada vagina Audrey. Teriakan-terikan nikmat Audrey semakin gencar karena diperlakukan demikian, mata Audrey masih tertutup rapat dengan mulut terbuka lebar.

“Buka matamu Audrey dan pandang suamimu!” perintah Wen dengan tegas.

Audrey menuruti apa yang diperintahkan Wen sehingga Audrey sekarang melihat diriku duduk di sofa sambil bermastrubasi.

“Lihat Audrey, suamimu sangat menikmati melihat kamu disetubuhi pria lain” sahut Wen kepada Audrey.

“Kamu suka disetubuhi pria lain?” Tanya Wen kepada Audrey.

Audrey tidak menjawab, mungkin dia malu, namun raut wajahnya tidak bisa membohongi diriku. Terlihat sekali dia sangat menyukai dan menikmati persetubuhannya dengan Wen.

“Jawab!!!” hardik Wen dengan tiba-tiba kepada Audrey sambil mempercepat genjotan penisnya dalam vagina Audrey.

“Aaagh….suu…ka….” sahut Audrey dengan terbata-bata karena sambil menikmati penis Wen dalam vaginanya.

“Enakan mana Audrey? suamimu atau saya” tanya Wen lagi sambil penisnya menggenjot dengan kasar vagina Audrey.

“Ee..naa….enak saaamaa pak…uughhh….wen” jawab Audrey sambil mengerang-erang kenikmatan.

“Mau kamu saya setubuhi kapan saja saya mau” tanya Wen lagi dengan kasar.

“Maaa…..uuuuu….ppaak weeen….” jawab Audrey sambil tubuhnya mengejang tanda Audrey mengalami orgasme lagi.

Dengan tetap memegang kedua tangan Audrey ke belakang, Wen menghentikan gerakannya untuk beberapa saat dan membiarkan Audrey menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat Wen kembali menggenjot vagina Audrey dengan kencang, membuat nafsu seks Audrey kembali bergelora. Benar-benar takjub aku melihat adegan demi adegan yang dipertontonkan Audrey dan Wen. Audrey yang cantik dengan kulitnya yang putih mulus dengan setia melayani nafsu binatang seorang tua bangka bermuka jelek dan berperut gendut.

“Audrey, lihat suamimu sangat menikmati kamu disetubuhi olehku. Boleh suamimu menonton setiap kali kamu saya setubuhi?” tanya Wen dengan sedikit nada memerintah kepada Audrey.

“Boo…leehhh….aaagghh….paak…uggghhh…wen” jawab Audrey sambil meracau kenikmatan.

Melihat Audrey menurut dan tunduk sepenuhnya pada Wen membuat penisku kembali memuncratkan sperma untuk kesekian kalinya dan sedikit mengenai bibir atas Audrey. Melihat hal itu Wen memerintahkan Audrey menjilat dan menelan spermaku yang menempel dibibir atasnya, dan yang menakjubkan adalah tanpa pikir panjang Audrey menuruti apa yang diperintahkan Wen padahal aku tahu Audrey biasanya paling jijik dengan sperma apalagi harus menjilat dan menelannya. 20 menit sudah semenjak aku mencapai orgasmeku. Aku sudah terlalu capek untuk bermastrubasi lagi, namun Audrey masih dihajar vaginanya dengan ganas dari belakang oleh Wen dan Audrey sudah mengalami orgasme-orgasme yang sangat dahsyat. Beberapa saat kemudian Wen terlihat mulai akan orgasme. Rupanya Audrey menyadarinya.

“Uugh…aaghhh…pak wen…jaaa…ngaaan…keluar aaggghh… di dalam” pinta Audrey sambil mengerang-erang kenikmatan.

“Naaan…tiii aaaggghhh…saya….hamil….” tambah Audrey lagi dengan tetap merintih-rintih penuh nikmat.

“Kalau tidak boleh di dalam, berarti harus keluar di mulutmu ya Audrey, dan harus ditelan semua tidak boleh ada yang tercecer keluar” kata Wen kepada Audrey.

“Iii…yaaaaa….paaak weeeeen……di mulut saya…AAAAGHHHHH, adduuuuhhhhh niiikkmaaattt sekali pak weeeeennn…aampunnnn…nikmat……” teriak Audrey sambil orgasme lagi.

Kemudian Wen membalikkan tubuh Audrey sehingga Audrey terlentang di kasur. Wen kembali mengangkangi Audrey dan menjambak rambut Audrey dengan kasar dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Audrey.

“Telan…telan semua…jangan sampai ada yang keluar” perintah Wen kepada Audrey.

Terlihat penis Wen yang besar berdenyut dengan keras, sedangkan mulut Audrey menghisap-hisap penis Wen dan terlihat tenggorokan Audrey bergerak-gerak tanda Audrey sedang menelan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Wen menumpahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Audrey dan Audrey menelan setiap tetes sperma Wen yang masuk ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat Wen mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Audrey.

“Bersihkan…jilat sampai bersih…!” kembali Wen memerintahkan Audrey yang langsung dituruti oleh Audrey.

Selagi Audrey menjilat-jilati penis dan biji Wen, Wen bertanya kepadaku “Boleh pinjam istrimu malam ini? Aku terkesiap mendengar permintaan Wen. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.

Melihat aku tidak menjawab, Wen berkata lagi kepadaku “Audrey kelihatannya sangat menyukai aku setubuhi, dan obat yang aku berikan kepadanya masih bekerja, sehingga Audrey masih ingin dipuaskan nafsu seksnya.

“Bagaimana Audrey” tanya Wen kemudian kepada Audrey. Audrey sambil tetap menjilati penis Wen hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda membenarkan apa yang dikatakan Wen kepadaku.

Melihat Audrey memberikan persetujuannya maka akupun mengiyakan permintaan Wen. Wen kemudian menyruh Audrey pindah ke kamar sebelah dan Audrey menuruti permintaan Wen.

“Tom, kamu istirahat saja di kamar ini, aku dan Audrey ada di kamar sebelah. Connecting door akan tetap terbuka, sehingga kapan saja kamu ingin melihat istrimu disetubuhi olehku, kamu dapat masuk ke kamar sebelah’ kata Wen kepadaku.

Aku hanya mengganggukan kepala tanda setuju, dan kemudian Wen meninggalkan aku dikamar sendirian dan Wen pindah ke kamar sebelah menyusul Audrey. Aku sudah terlalu capek untuk membersihkan badan atau berpakaian. Aku langsung naik ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhku dengan selimut yang masih sedikit basah bekas cairan kewanitaan Audrey….dan beberapa saat kemudian mulai terdengar rintihan-rintihan nikmat Audrey dari kamar sebelah menandakan Wen dan Audrey sudah mulai lagi dengan persetubuhan mereka…namun aku terlalu capek untuk beranjak dari kasur….dan kemudian terlelap….

Bagian III: Di kamar Sebelah

Sinar Matahari tepat jatuh dimataku, ketika aku mulai bangun dari tidurku. Melihat posisi matahari dari jendela kamar itu, aku menyadari bahwa hari telah siang. Aku gerakan badanku dikasur untuk membangunkan diriku. Keadaanku masih telanjang bulat dan aku masih terkesima dengan apa yang telah terjadi tadi malam. Rintihan-rintihan dan erangan-erangan nikmat Audrey dari kamar sebelah, membuat diriku terbangun dari lamunanku.

“Ah, gila mereka, apa mereka masih bersetubuh terus” pikirku dalam hati.

“Apakah mereka melakukan persetubuhan secara non-stop sepanjang malam?” pikirku lagi.

Rasa lapar mulai terasa diperutku, dan aku mulai berpakaian. Rintihan-rintihan nikmat Audrey di tidak menggugahku untuk ke kamar sebelah. Namun ketika kakiku melangkah ke pintu kamar karena aku ingin ke dapur mencari makan, terdengar kegiatan di kamar sebelah sedikit aneh dan mengusik rasa ingin tahuku. Aku sepertinya mendengar lebih dari 2 orang di kamar sebelah. Maka akupun mengurungkan niatku untuk keluar kamar dan akupun melangkahkan kakiku ke connecting door yang menghubungkan kamarku dengan kamar sebelah. Betapa kagetnya ketika aku masuk ke dalam kamar sebelah tersebut. Aku melihat 2 wanita muda yang tadi malam bersama Audrey sedang duduk disofa panjang di sebelah tempat tidur di kamar itu sambil tertawa-tawa kecil menonton adegan yang sedang berlangsung di tempat tidur tersebut. Lebih kaget lagi ketika aku menyadari apa yang sedang terjadi di tempat tidur. Istriku Audrey, sedang disetubuhi oleh Wen dan salah seorang tamu Wen yang tadi malam menginap di villa!!! Posisi Audrey bertumpu pada kedua lutut dan kedua tangannya dengan pantat yang sedikit menungging ke belakang. Terlihat tamu Wen tersebut, seorang pria tua berumur sekitar 60 tahunan berbadan besar dan buncit dengan bulu yang lebat memenuhi sekujur tubuhnya sedang menyetubuhi Audrey dengan kasar dari belakang. Sedangkan Wen yang tangan kanannya sedang menjambak rambut Audrey yang sekarang telah dikuncir buntut kuda terlihat asyik menggenjot penisnya dengan kasar di dalam mulut Audrey.

“Ah, kamu sudah bangun Tom” kata Wen ketika melihat diriku masuk ke dalam kamar.

“Silahkan duduk Tom” kata Wen lagi sambil mempersilahkan aku duduk di sofa di antara kedua wanita yang sedang menonton Audrey disetubuhi dua laki-laki tua itu.

“Ini namanya Pak Lam, dia ini salah satu sahabatku” kata Wen kemudian sambil memperkenalkan pria tua yang sedang menyetubuhi Audrey dengan kasar dari belakang. Yang disebut Pak Lam hanya menengok sebentar sambil melambaikan sebelah tangannya kepadaku dan kemudian melanjutkan kegiatannya pada Audrey.

Mr. Lam

“Aku selalu berbagi apapun dengannya. Vagina Audrey sangat nikmat untuk disetubuhi, sehingga aku harus membaginya kepada sahabat tuaku ini biar dia juga tahu betapa nikmatnya istrimu ini. Aku harap kamu tidak keberatan ya Tom. Toh istrimu tidak keberatan, malah suka…” kata Wen sambil terkekeh kecil.

“Audrey, kamu suka disetubuhi Pak Lam kan?” tanya Wen kepada Audrey.

Audrey tidak menjawab. Audrey terlihat sedang asyik sendiri menikmati persetubuhannya.

“Hahaha…wanita cantik ini rupanya sudah dalam kenikmatannya sendiri” tawa Wen sambil melihat Audrey yang sedang menikmati setiap genjotan penis Lam dan penis Wen.

Aku yang masih shock hanya menuruti perintah Wen dan duduk di sofa di antara kedua wanita muda tersebut.

“Ladies, tolong bantu sang suami tercinta ini agar dapat menikmati istrinya disetubuhi oleh 2 pria sekaligus” perintah Wen kepada kedua wanita yang duduk disamping kiri dan kananku.

Mendengar perintah Wen, kedua wanita muda itu langsung membuka dan melepaskan celana dan celana dalamku. Kemudian mereka berdua dengan tetap sesekali menonton adegan Audrey dengan Lam dan Wen mulai menjilati penisku secara bergantian, membuat penisku langsung berdiri dengan tegak. Di atas tempat tidur aku melihat Audrey sedang disetubuhi habis-habisan oleh kedua pria tua itu. Mereka memperlakukan Audrey dengan kasar, namun terlihat Audrey meskipun kepayahan melayani nafsu kedua pria tersebut, Audrey nampak menikmatinya. Semakin Audrey diperlakukan kasar oleh kedua pria tua itu, semakin nampak Audrey menikmatinya. Rintihan-rintihan Audrey semakin keras apabila Lam dan Wen menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Audrey dengan kasar. Sambil sesekali menampar kedua belahan pantat Audrey dengan tangan kirinya, Lam menggenjot penisnya di vagina Audrey dari belakang dengan cepat dan kasar. Kemudian tangan kanannya melingkar di pinggul Audrey dan terus ke arah vagina Audrey dari arah depan sehingga jari-jari tangannya dapat memainkan klitoris Audrey. Audrey tanpa sadar mengangkat kaki kanannya sehingga posisinya sekarang seperti anjing yang sedang kencing untuk memberikan akses yang lebih luas bagi jari-jari tangan Lam di vagina Audrey. Dengan posisi satu kaki mengangkang ke atas, aku dapat melihat ternyata bulu-bulu di sekitar vagina Audrey telah dicukur habis. Aku tidak tahu kapan mereka mencukur habis bulu-bulu di sekitar vagina Audrey, mungkin tadi malam ketika aku sudah tidur. Rupanya mereka telah berpesta seks sepanjang malam. Vagina Audrey terlihat putih mulus tanpa sehelai bulupun dengan bibir vaginanya terlihat sedikit berwarna merah muda tanda vagina itu telah digenjot habis sepanjang malam. Ketika jari-jari tangan Lam mulai mempermainkan vagina Audrey dan mencubit-cubit kecil klitoris Audrey, tubuh Audrey bergoyang hebat, pinggulnya, badannya naik turun tidak beraturan. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmat keluar dari mulut Audrey.

Wen sekarang menggunakan kedua tangannya untuk menjambak rambut Audrey sehingga dapat membuatnya semakin kencang menyetubuhi mulut Audrey. Diperlakukan demikian, Audrey semakin bergoyang-goyang,tubuhnya meliuk-liuk karena ditekan dari belakang dan dari depan. Racauan dan rintihannya semakin keras, matanya tidak berkedip dan selalu memandang ke arah muka Wen. Lam dan Wen semakin mempercepat gerakannya sehingga Audrey benar-benar tergoncang-goncang hebat. Audrey terlihat bermaksud menurunkan kaki kanannya agar lebih memudahkannya menerima hajaran-hajaran penis Lam dan Wen di vagina dan mulutnya. Namun hal itu tidak dapat dilakukannya karena terhalang tangan kanan Lam yang telah benar-benar menggenggam vagina Audrey, terutama klitorisnya. Melihat adegan live didepan mataku, aku orgasme dengan cepat, dan kedua wanita muda yang melayani aku menghisap dan menelan seluruh spermaku sampai habis. Melihat aku sudah orgasme, Wen kemudian memerintahkan salah satu wanita disebelahku untuk mengambil sesuatu

“Ambil pil yang biasa di laci itu” kata Wen memerintahkan wanita tersebut sambil menunjuk salah satu laci disamping tempat tidur.

Wanita yang disuruh Wen, mengeluarkan sebuah botol dari laci tersebut, membukanya, dan mengeluarkan sebuah pil serta kemudian menyerahkannya kepada Wen.

“Buka mulutmu Audrey, telan pil ini supaya kamu tidak hamil, Lam ingin memuntahkan spermanya dalam vaginamu. Saya juga ingin orgasme dalam vaginamu, bosan saya orgasme dalam mulutmu terus sepanjang malam” perintah Wen kepada Audrey.

Kemudian Wen mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Audrey dan memasukkan pil tersebut ke dalam mulut Audrey yang langsung ditelan Audrey tanpa menggunakan air sedikitpun. Setelah itu Wen kembali menjambak rambut Audrey dan kembali melanjutkan genjotan penisnya pada mulut Audrey. 20 menit telah berlalu, namun aku melihat baik Audrey, Wen maupun Lam belum ada yang orgasme. Terus terang terkejut aku melihat perubahan pada diri Audrey. Audrey tidak orgasme-orgasme, tidak seperti tadi malam yang dengan mudahnya dia mencapai orgasme berulang-ulang. Tatapan mata Audrey terlihat sangat sayu dan sedikit kosong, namun dari rintihan-rintihannya aku tahu dia lebih menikmati persetubuhannya saat ini daripada persetubuhannya tadi malam. Melihat raut wajahku yang penuh tanda Tanya, Wen kemudian menjelaskan kepadaku apa yang telah terjadi.

“Tadi pagi Audrey saya beri obat ramuan China. Obat ini membuat Audrey lebih lama mencapai orgasme, ini agar Audrey dapat mengimbangi kami sehingga tidak cepat lelah. Namun dengan obat ini otot vagina Audrey akan semakin kencang sehingga jepitannya pada penis yang masuk ke dalam vaginanya akan semakin kuat dan hal ini membuat Audrey dan siapapun pria yang menyetubuhinya merasa lebih nikmat. Setiap gesekan penis dalam vagina Audrey akan berpuluh-puluh kali lipat lebih terasa nikmat bagi Audrey dan pria tersebut” kata Wen menjelaskan kepadaku.

“Lihat Audrey sekarang sudah benar-benar menikmati setiap gesekan penis Lam dalam vaginanya, bahkan dia sangat menikmatinya sampai-sampai dia tidak begitu sadar akan sekelilingnya lagi, hanya kenikmatan dan kenikmatan yang dia rasakan saat ini. Dipikirannya hanya ada rasa kenikmatan yang amat sangat dan tidak ada rasa yang lain selain kenikmatan tersebut. Kenikmatan yang Audrey rasakan saat ini sudah menguasai dan menghipnotis seluruh badan dan pikirannya” tambah Wen kepadaku.

“Tom, kamu lihat nanti waktu istrimu mengalami orgasme. Kamu akan lihat bagaimana seorang wanita mengalami orgasme yang super dahsyat. Kamu pasti tidak akan menyangka bahwa istrimu bisa orgasme sehebat yang nanti kamu akan lihat” lanjut Wen kepadaku.

45 menit telah berlalu, ketika aku melihat perubahan pada diri Audrey. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmatnya mulai memelan, namun badannya semakin bergoyang-goyang dengan kencang dan tidak beraturan. Lam dan Wen semakin gencar menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Audrey, membuat Audrey sulit untuk tetap bertumpu pada kedua tanganya dan satu lututnya. Badan Audrey benar-benar bergoncang hebat karena tekanan dari belakang dan dari depan disertai goyangan badannya sendiri yang semakin tidak beraturan. Mata Audrey tetap memandang kearah wajah Wen dengan sekali-kali mendelik-delik. Kedua tangannya beberapa kali jatuh karena tidak kuat menahan badannya, namun jambakan Wen pada rambutnya membuat Audrey tidak tersungkur ke kasur. Suara Audrey semakin pelan bahkan sekarang hampir tidak terdengar sama sekali, tangannya yang sudah tidak kuat menumpu badannya dan mulai mencari pegangan lain. Kedua tangan Audrey terlihat berusaha memegang kedua sisi pinggul Wen, kemudian beralih ke kedua tangan Wen yang sedang menjambak rambutnya, lalu kembali kasur menumpu badannya dan begitu seterusnya terlihat Audrey sedang mencari posisi yang enak untuk menumpu badannya yang bergoyang hebat dan dihajar dari depan dan belakang oleh Wen dan Lam.

“Right on time. She is nearly there, I also nearly there” sahut Lam tiba-tiba kepada Wen.

Mendengar itu Wen hanya tersenyum kemudian Wen berpaling kepada kedua wanita muda yang sedang menemaniku.

“Kalian berdua kesini, bantu Audrey agar tetap pada posisinya, agar Pak Lam bisa menikmati orgasmenya dengan lancar” perintah Wen kepada kedua wanita itu.

Kedua wanita yang diperintah Wen kemudian naik ke kasur dan memposisikan diri mereka masing-masing berlutut disamping kiri dan kanan Audrey. Kemudian kedua wanita tersebut meraih masing-masing pundak Audrey dari arah bawah sehingga sekarang tangan-tangan kedua wanita tersebut masing-masing menumpu pundak Audrey, membuat kedua tangan Audrey terbuka kearah kiri dan kanan. Sudah tidak terdengar suara rintihan Audrey. Badan Audrey juga bergerak memelan namun terlihat Audrey berusaha memundurkan pinggulnya agar penis Lam makin masuk jauh ke dalam vaginanya. Gerakan Audrey yang pelan meliuk-liuk terlihat sangat kontras dengan gerakan Lam dan wen yang semakin ganas menggenjot penisnya masing-masing ke dalam vagina dan mulut Audrey.

“Tom, sini naik ke kasur agar kamu bisa melihat dengan jelas. Istrimu sebentar lagi akan orgasme yang hebat” kata Wen kepadaku.

Tanpa menunggu lagi akupun segera naik ke kasur agar bisa melihat Audrey dari dekat dan dengan jelas. Lam kemudian melepaskan tangan kanannya dari klitoris Audrey sehingga kali Audrey bisa turun dan kedua lututnya bisa kembali menumpu badannya. Lam lalu sedikit berjongkok serta kedua tangannya meraih pinggul Audrey. Dengan posisi demikian Lam bisa dengan lebih leluasa menggenjot penisnya dengan keras ke dalam vagina Audrey. Kira-kira sepuluh menit kemudian, badan Audrey makin meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan serta menekan ke belakang ke arah penis Lam.

“Ooh, this baby still want it more, although my dick has reached the inside end of her vagina” kata Lam yang merasa Audrey terus menekan pinggulnya ke belakang ke arah penisnya.

“Your vagina is not deep enough darling, but if you want it, I’ll give it to you” lanjut Lam sambil menghentikan genjotannya dan menarik pinggul Audrey kebelakang dan secara bersamaan memajukan pinggulnya sendiri ke depan dan kemudian membiarkannya dalam keadaan begitu.

Ditekan dari belakang dengan keras sampai ke ujung vaginanya, membuat mata Audrey mendelik. Kemudian Wen mengeluarkan penisnya dari mulut Audrey dan melepaskan jambakan tangannya di rambut Audrey sehingga sekarang kepala Audrey bebas bergerak.

“She is all yours, Lam” kata Wen kepada Lam.

“Ooh, she is real good, look at her hips moving, she knows how to please a man” sahut Lam merasakan goyangan meliuk-liuk pinggul Audrey.

“Her vagina is very tight, my dickhead being played by her wall end of vagina. Damn..this girl is good” lanjut Lam sambil merasakan ujung penisnya bergesekan pada bagian yang paling dalam dari vagina Audrey.

Audrey terus memainkan penis besar Lam dalam vaginanya. Pinggul Audrey naik turun dan memutar-mutar secara perlahan ditambah tekanan pinggul Lam dari belakang dan tangan Lam yang menarik pinggul Audrey ke belakang, membuat kedua manusia yang meskipun berbeda umur sangat jauh menjadi satu kesatuan dan sama-sama menikmati persetubuhan mereka. Sepuluh menit kemudian, Audrey memejamkan matanya, jari-jari tangannya membuka dan mengepal secara perlahan, mulutnya terbuka lebar, goyangan pinggulnya menjadi patah-patah.

“Oh, she is coming, let us come together baby…!!!!’ sahut Lam dengan keras.

Seperti mengerti perintah Lam, Audrey menghentikan goyangannya, pinggulnya secara keras didorongnya ke belakang, kepalanya terdongak ke atas dengan mulut terbuka lebar, seluruh badannya menegang dan terdengar desahan kecil Audrey.

“Oohh… this is goooood…..I am in heaven….” desah Audrey pelan.

Bersamaan dengan itu Lam memuntahkan spermanya di dalam vagina Audrey.

“Take that bitch…., you like being fill up with cum you little whore!” teriak Lam sedikit keras sambil terus memuntahkan spermanya di dalam vagina Meda.

“Oooh… yeeesss… fill me up….oohhhh…this is too good….I am your whore, your little whore” desah Audrey sangat pelan.

Kembali sesuatu yang menakjubkan terjadi didepan mataku, sudah 10 menit berlalu tapi Nampak orgasme Audrey belum turun juga. Audrey masih terus dipuncak kenikmatan. Ketika Wen melepaskan pegangannya pada pinggul Audrey dan mulai menarik penisnya keluar dari vagina Audrey, Nampak raut muka Audrey sedikit sedih.

“Don’t take it off now…pleaseee…I am not finished yet” rengek Audrey pelan sambil kembali meliuk-liukan pinggulnya secara perlahan untuk memancing Lam mengurungkan niatnya.

Lam tidak mendengarkan rengekan Audrey, dan mencabut penisnya. Tapi kekecewaan Audrey hanya sebentar karena Wen langsung siap menggantikan posisi Lam. Ditidurkannya Audrey telentang di atas kasur dibukanya kaki Audrey lebar-lebar.

“Masih kurang Audrey?” Tanya Wen menggoda Audrey sebelum mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Audrey.

“Masih…pak Wen…saya masih orgasme…..ooohhhh nikmat sekali…..mau disetubuhi sekarang…” rengek Audrey sambil menarik pinggul Wen ke arahnya.

“Oohhhh……” desah Audrey ketika penis Wen masuk ke dalam vaginanya sampai mentok.

Wen kemudian secara perlahan menggenjot vagina Audrey dengan penisnya. Setiap gerakan Wen selalu disertai lolongan pelan namun panjang dari Audrey. Kepala Audrey terdongak ke belakang, matanya terpejam rapat, dadanya membusung ke atas sehingga sebagian punggungnya terangkat dari kasur. Bibir kecilnya mengigit-gigit pelan jari telunjuk kanannya, lolongan pelan namun panjang terdengar dari mulut Audrey setiap kali Wen menggerakan penisnya secara perlahan.

Penasaran dengan apa yang dirasakan Audrey, aku membisikinya dan bertanya.

“Bagaimana rasanya Drey? Enak?” tanyaku.

“Ennakkk…ooohhhhh…. Terima kasih Tom atas pengalaman indah ini…..orgasmeku tidak berhenti-henti nih…..oohhhh panjang sekali…..oohhhh…..aku disetubuhi sambil orgasme…..” jawab Audrey pelan kepadaku sambil terus menikmati orgasmenya yang berkepanjangan.

Lima belas menit kemudian, penis Wen berdenyut kencang pertanda dia akan orgasme, dan tubuh Audreypun tiba-tiba lebih menegang lagi.

“Oohhh….apa ini pak wen….kenapa saya……” desah Audrey pelan kepada Wen.

“Inilah puncaknya orgasme dari orgasme Drey. Nikmati saja” jawab Wen.

Bersamaan dengan itu, tubuh Audrey dan Wen benar-benar menegang. Keduanya berusaha menarik satu sama lain dan merapatkan persenggamaan mereka. Kaki Audrey melingkar di pinggul Wen. Dada Audrey makin membusung, kepalanya makin terdongak ke belakang dan giginya menggigit bibir bawahnya sendiri. Sedangkan kepala Wen berada di pundak Audrey, mulutnya sedikit menggigit pundak Audrey dan penisnya ditekan dengan keras ke dalam vagina Audrey.

“OOOhhhhh……” teriak Audrey dan Wen bersamaan. Wen memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vagina Audrey, Dua manusia mengalami orgasme hebat secara bersamaan.

Beberapa menit Wen dan Audrey berada di puncak orgasme mereka.

“Oke semuanya keluar dari kamar ini. Biarkan Audrey istirahat dulu” kata Wen setelah selesai memuntahkan seluruh spermanya dalam vagina Audrey.

Wenpun beranjak dari atas tubuh Audrey, tidur disampingnya dan menyelimuti dirinya dan Audrey dengan selimut. Audrey hanya tersenyum dengan mata terpejam dan menidurkan kepalanya di dada Wen yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat, sedangkan yang lainnya termasuk aku pergi meninggalkan kamar itu dan membiarkan Wen dan Audrey istirahat.

Bagian IV: Basement Villa

Menjelang sore terlihat Wen keluar dari kamar itu dan bergabung dengan aku dan tamu-tamu yang lain di ruang tengah villa. Rupanya yang menginap di villa tersebut selain aku, Audrey, Wen, Lam dan kedua wanita yang siang tadi berada di kamar, juga ada satu wanita lagi dan tiga tamu laki-laki.

“Wah, sudah pada berkumpul rupanya, maaf saya baru bangun” kata Wen kepada aku dan tamu-tamu lainnya.

Kamipun mengobrol di ruang tengah villa itu sampai menjelang malam. Kurang lebih jam 6.30pm Wen menginstruksikanku untuk membangunkan Audrey.

“Tom, bangunkan istrimu, kita akan makan malam bersama” sahut Wen kepadaku.

Akupun segera menuruti perintah Wen dan naik ke lantai atas villa menuju kamar tempat Audrey istirahat karena memang aku sudah mulai kuatir terhadap Audrey sebab setelah kejadian siang tadi di kamar aku belum melihatnya lagi. Sesampainya di kamar, aku melihat Audrey sudah bangun namun masih tiduran tengkurap di atas kasur, tubuhnya masih telanjang, terlihat mukanya nampak habis menangis. Melihat aku masuk ke kamar, air mata menetes kembali dari matanya.

“Tom, apa yang kamu lakukan terhadapku. Kenapa kamu jahat terhadapku, kenapa kamu membiarkan semua ini terjadi?” tangis Audrey kepadaku.

Akupun berusaha menenangkan dan menghibur istriku, kami berbincang-bincang di kamar itu cukup lama sambil aku berusaha terus menghiburnya sampai tiba-tiba salah satu dari tamu wanita masuk ke kamar dan meminta Audrey untuk mandi dan membersihkan diri karena aku dan Audrey sudah ditunggu di ruang makan oleh Wen dan tamu-tamu yang lain. Dengan sedikit malas Audrey menurutinya. Setelah Audrey mandi dan berpakaian kamipun keluar dari kamar itu dan menuju ruang makan. Terlihat Audrey ragu-ragu untuk keluar dari kamar. Terlihat Audrey sedikit malu untuk bertemu dengan Wen dan tamu-tamu yang lain setelah kejadian tadi malam dan tadi siang.

Sesampainya di ruang makan, tamu-tamu yang lain sudah menunggu. Wen mempersilahkan aku dan Audrey duduk di kursi yang disediakan di ruang makan itu demikian juga terhadap tamu-tamu yang lain masing-masing dipersilahkan duduk oleh Wen. Kamipun menyantap hidangan malam yang disediakan sambil mengobrol. Pembicaraan di meja makan itu kebanyakan tentang bisnis antara Wen dan tamu-tamunya. Tidak ada yang menyinggung kejadian tadi malam dan tadi siang, seakan-akan kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Hal itu membuat Audrey terlihat sedikit tenang. Selesai santap malam Wen mempersilahkan tamu-tamunnya, termasuk aku dan Audrey ke ruang tengah. Di ruang tengah makanan kecil dan minuman telah disediakan dan Wen mempersilahkan kami semua untuk mencicipi makanan kecil dan minuman tersebut kemudian melanjutkan obrolan bisnisnya dengan tamu-tamunya di ruang tengah, Wen sedikit mengacuhkan aku dan istriku karena memang obrolannya adalah masalah bisnis. Setelah kurang lebih 2 jam berbicara bisnis dengan tamunya tiba-tiba Wen berkata

“Ok saya rasa omomgan bisnis sudah cukup untuk malam ini. Sekarang kita ke topik selanjutnya”

“Zhou, obatmu ternyata sangat manjur, lihat saja ini hasilnya” sambung Wen sambil memencet remote TV.

TV menyala dan betapa kagetnya aku melihat apa yang muncul di TV. Rekaman persetubuhan Audrey tadi malam dan tadi siang terlihat di layar TV. Aku melihat wajah Audrey sangat terkejut dan malu melihat tamu-tamu yang lain menyaksikan tayangan persetubuhannya dilayar TV. Audrey bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud meninggalkan ruang tengah itu, namun Wen menghardiknya dengan tegas.

“Audrey, duduk kamu! Tidak ada yang menyuruh kamu untuk pergi!” bentak Wen dengan sangat keras.

Mendengar bentakan Wen aku sangat terkejut. Aku bermaksud untuk turut berdiri, namun aku merasakan tubuhku lemas dan aku tidak mampu berdiri. Kelihatannya Wen telah mencampurkan sesuatu lagi dalam minumanku sehingga badanku lemas tidak berdaya.

Aku melihat Audrey sedikit ketakutan mendengar bentakan Wen, namun dikarenakan aku hanya tetap duduk dan tidak membela Audrey, maka Audreypun mengurungkan niatnya dan kembali duduk. Wen dan tamu-tamu lainnya kemudian membahas adegan demi adegan persetubuhan Audrey yang ditayangkan TV. Mereka membahasnya seakan-akan Audrey tidak ada di ruangan itu. Komentar-komentar keluar dari mulut mereka. Wen memuji Zhou atas kemanjuran obatnya. Wen menjelaskan bagaimana Audrey yang alim itu bisa menjadi seorang pelacur murahan dikarenakan meminum obat itu. Ada lagi tamu yang lain memuji daya tahan Audrey karena obat itu. Setelah rekaman adegan persetubuhan Audrey di TV selesai, kemudian Wen dengan suara tegas memerintahkan Audrey

“Nah, Audrey, tolong hibur tamu-tamuku ini. Jangan biarkan mereka hanya menonton kamu di TV saja, perbolehkan mereka juga menikmati dirimu.”

Mendengar itu dengan raut muka penuh ketakutan, Audrey bangkit dari tempat duduknya dan berusaha lari keluar dari villa, namun baru beberapa langkah berlari, Wen dan Zhou dengan sigap menangkap Audrey.

“Wow, rupanya pelacur ini tidak mau menuruti perintah. Ck…ck..ck…Audrey kamu sangat mengecewakan” kata Wen sambil mencengkram tubuh Audrey dari belakang.

“Kamu harus dihukum dan dididik yang benar supaya bisa menjadi budak seks yang patuh” lanjut Wen kemudian kepada Audrey.

Audrey meronta-ronta dengan keras dan berusaha melepaskan diri, namun cengkraman Zhou dan Wen pada dirinya terlalu kuat, sehingga usaha Audrey untuk melepaskan diri menjadi sia-sia. Kemudian Wen dan Zhou menyeret Audrey ke basement villa, diikuti oleh tamu-tamu yang lain. Mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Aku kembali berusaha bangkit untuk membantu Audrey, namun aku sama sekali tidak dapat berdiri sehingga aku hanya dapat terduduk lemah di sofa melihat perlakuan Zhou dan Wen terhadap Audrey. Tidak lama mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Kira-kira 15 menit kemudian 2 orang tamu pria mendatangiku dan segera membopongku ke basement villa. Basement villa itu ternyata suatu ruangan yang kelihatannya sering digunakan untuk pesta seks yang aneh-aneh. Aku melihat banyak peralatan seks yang lebih mirip sebagai alat penyiksaan tergantung di dinding basement itu. Banyak peralatan seks yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Merinding aku ketika memasuki basement villa itu, namun yang membuat aku lebih kaget dan takut lagi adalah ketika aku melihat Audrey sudah terikat dalam keadaan telanjang bulat. Posisi Audrey berdiri dengan kedua tangan terikat ke atas melebar oleh rantai-rantai yang tertancap kuat dilangit-langit basement, sedangkan kakinya mengangkang lebar terikat dengan rantai-rantai yang menancap kuat ke lantai basement, sehingga posisi Audrey menyerupai huruf “X”. Aku melihat Audrey meronta-ronta sekuat tenaga, air matanya mengucur deras di kedua pipinya. Permohonan-permohonan untuk dilepaskan keluar dari mulutnya, namun rengekannya hanya dibalas dengan tawa sinis oleh orang-orang yang berada di basement villa itu. Kedua tamu yang membopongku kemudian mendudukanku di sebuah kursi persis di hadapan Audrey.

“Teman-teman, malam ini kita akan mendidik pelacur ini supaya mau menjadi budak seks yang patuh. Harap teman-teman duduk di kursi-kursi yang telah disediakan, dan kita akan segera mulai pendidikan buat pelacur ini” sahut Wen tiba-tiba.

Mendengar itu semua yang ada di basement itu duduk di kursi yang telah disediakan disekeliling tempat Audrey terikat dan menunggu apa yang selanjutnya Wen akan lakukan terhadap Audrey.

“Audrey, ini kesempatan kamu yang terakhir. Kamu bisa secara sukarela menjadi budak seksku yang patuh atau aku akan membuat kamu menjadi budak seksku yang patuh. Kedua-duanya pada akhirnya kamu akan menjadi budak seksku yang patuh, namun cara kedua pasti jauh lebih menyakitkan” kata Wen kemudian sambil tertawa.

Mendengar itu aku melihat ketakutan yang amat sangat di wajah Audrey. Audrey semakin kencang meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tangisannya semakin keras, permohonan minta dilepaskan juga semakin keras.

“Ok, kalalu kamu mau dengan cara yang menyakitkan” kata Wen setelah melihat Audrey tetap berusaha melepaskan diri.

Wen kemudian mengambil sebuah cambuk kuda dan berdiri di belakang Audrey. Aku melihat Audrey merinding ketakutan melihat cambuk kuda tersebut.

“Ctaarr….ctttarr….cttaaarrr…..” suara cambuk 3 kali berbunyi disertai raungan kesakitan Audrey. Wen telah mencambuk punggung Audrey dengan keras.

Raungan tangis Audrey semakin keras, badannya tetap meronta-ronta untuk melepaskan diri.

“Cttaar…cttarr…ctarr..ctaarrr…” bunyi cambuk kembali bertubi-tubi mendera punggung Audrey hingga Audrey pingsan. Melihat Audrey pingsan salah seorang tamu wanita mengguyurkan air ke kepala Audrey untuk membangunkannya.

Ketika Audrey siuman, Wen menanyakan kepada Audrey apakah Audrey bersedia menjadi budak seksnya. Setiap kali Audrey mengatakan tidak atau berusaha meronta-ronta untuk melepaskan diri, maka bunyi cambuk akan terdengar lagi, dan kali ini tidak hanya mendera punggung Audrey, namun juga mendera ke pantat, kedua payudara dan vaginanya. 30 menit Audrey dicambuki seluruh tubuhnya, bekas-bekas cambuk berwarna kemerahan terlihat disekujur tubuhnya. Tubuh Audrey sudah kelihatan lemas. Tidak ada lagi raungan tangis keluar dari mulutnya.

“Bagaimana Audrey, apakah kamu sekarang bersedia jadi budak seksku?” tanya Wen kemudian.

Audrey hanya menggelengkan kepalanya secara lemah tanda penolakannya.

“Ok, kalau kamu tetap tidak mau. Kita akan ke tahap selanjutnya. Kita lihat sampai mana kamu tahan siksaan ini” sahut Wen kepada Audrey sambil mengisyaratkan sesuatu kepada seorang tamu wanita.

Tamu wanita yang diberi isyarat oleh Wen kemudian maju ke depan. Dia membawa sebuah jarum dan sebuah cincin yang terbuat dari emas dan menyerahkannya kepada Wen. Kemudian Wen berjongkok di depan vagina Audrey. Dibukanya vagina Audrey secara perlahan. Mengetahui akan apa yang akan terjadi, Audrey meronta-ronta dengan hebat, namun beberapa tamu maju ke depan dan memegang erat-erat tubuh dan pinggul Audrey sehingga Audrey tidak dapat bergerak.

“Jangan…jangan….” pinta Audrey lirih.

“AAAUOOCCCHHH….” Kemudian terdengar teriakan Audrey. Ternyata Wen menusuk bibir dalam bagian atas vagina Audrey dengan jarum dan kemudian memasukkan cincin tersebut dalam lubang yang telah dibuatnya pada bibir vagina Audrey tersebut.

Raungan keras kesakitan Audrey membahana di basement itu, kemudian Audrey kembali pingsan. Kemudian Wen kembali berdiri dan mundur beberapa langkah untuk melihat hasil kerjanya. Dia terlihat puas dengan apa yang telah diperbuatnya pada Audrey. Audrey terlihat dalam posisi terikat, masih pingsan dengan sebuah cincin di bibir atas vaginanya dengan sedikit darah terlihat disekitar bibir atas vaginanya. Seorang tamu wanita kembali mengguyurkan air ke kepala Audrey dan membersihkan vagina Audrey dari bekas darah tersebut. Kemudian tamu wanita tersebut memberikan wewangian ke hidung Audrey agar Audrey siuman. Siuman dari pingsannya, terlihat sekali Audrey menahan sakit di vaginanya. Kemudian Wen kembali menghampiri Audrey dengan membawa jarum tersebut lagi beserta sebuah cincin emas lainnya. Tangan kiri Wen kemudian meraih puting payudara sebelah kiri Audrey dan tangan kanan Wen memegang jarum siap menusuknya.

“Jangan….jangan….ampun….jangan…sakit…saya bersedia jadi budak seks Pak Wen asalkan jangan siksa saya lagi” tiba-tiba terdengar suara pelan Audrey.

Mendengar hal itu Wen dan tamunya tertawa penuh kemenangan.

“Benar kamu mau jadi budak seksku dan menuruti semua keinginanku” Tanya Wen kepada Audrey.

“Iya…iya….saya mau…tolong jangan sakiti saya lagi” jawab Audrey menyerah.

“Ok, bagus..bagus…, ladies…beri hadiah kepada budak seksku yang baru ini, buat dia menikmati statusnya yang baru sebagai budakku” kata Wen sambil memberi isyarat kepada para tamu wanita untuk maju ke depan.

Para tamu wanita tanpa perlu diperintah lebih lanjut langsung maju ke depan mengelilingi Audrey. Satu tamu wanita berjongkok di hadapan vagina Audrey dan mulai menjilati dan menghisap-hisap vagina Audrey. Tamu-tamu yang lain menciumi dan menjilati kedua payudara Audrey, paha Audrey, punggung Audrey dan sekujur tubuhnya.

15 Menit diperlakukan demikian terlihat tubuh Audrey mulai mengkhianatinya. Audrey mulai meliuk-liukan badannya mengikuti permainan para tamu wanita tersebut di seluruh tubuhnya. Melihat reaksi Audrey, para tamu wanita tersebut semakin ganas mengerjai tubuh Audrey. Jari-jari tangan mereka secara bergantian keluar masuk vagina Audrey yang mana hal tersebut semakin membuat Audrey tidak dapat mengontrol tubuhnya. Tidak beberapa lama kemudian terdengar erangan Audrey tanda Audrey telah mencapai orgasmenya yang disambut oleh tepuk tangan meriah dari para tamu pria di basement itu. Tidak menunggu sampai orgasme Audrey reda, Wen kemudian melepaskan ikatan Audrey dan membimbingnya untuk berdiri di hadapanku.

“Mulai sekarang istrimu adalah budak seksku. Mulai sekarang aku harus didahulukan oleh istrimu dan bukan kamu lagi. Apabila kamu macam-macam rekaman dvd persetubuhan istrimu akan aku sebar di internet” kata Wen kepadaku.

Aku hanya diam tercekat oleh ancaman Wen itu. Badanku masih lemas sehingga aku tidak dapat berbuat apa-apa meskipun sebenarnya ingin aku meninju Wen. Kemudian Wen mengaitkan sebuah bel kecil keperakan di cincin emas yang berada di bibir atas vagina Audrey, dan kemudian Wen mengetes bunyi bel tersebut dengan jarinya.

“Ting…ting…ting” terdengar bunyi bel pelan.

Audrey kemudian diposisikan membungkuk ke depan dengan kedua tangan bertumpu di kedua pegangan kursi tempat aku duduk. Pantatnya di keataskan sedikit oleh Wen sehingga Audrey sedikit berjinjit dengan pantat sejajar dengan selangkangan Wen. Wajah Audrey dengan wajahku menjadi berhadapan dengan sangat dekat. Lalu Wen memelorotkan celananya sendiri. Terlihat penis Wen yang besar sudah mengacung keras, dan tanpa basa basi lagi dimasukkannya penis besar itu ke dalam vagina Audrey dari belakang. Erangan kecil keluar dari mulut Audrey disertai bunyi bel berdenting beberapa kali. Mata Audrey terpejam rapat. Aku melihat ke bawah ke arah vagina Audrey. Terlihat vagina Audrey sudah penuh dengan penis Wen yang besar dengan sebuah bel kecil yang bergoyang-goyang tergantung dari bibir atas vaginanya. Wen mulai memompa penisnya keluar masuk vagina Audrey yang disertai erangan-erangan kecil Audrey dan bunyi bel yang bergoyang. Tubuh Audrey terdorong ke depan sehingga wajahnya sekarang berada disamping kuping kananku.

Terdengar erangan-erangan Audrey di kupingku setiap kali penis Wen yang besar memasuki vaginanya.

“Maafkan aku Tom, aku tidak kuat disiksa…” tiba-tiba bisik Audrey di kupingku. Aku tidak menjawab dan hanya diam saja.

Genjotan-genjotan penis Wen pada vagina Audrey semakin keras, dan erangan-erangan Audrey semakin terdengar keras. Badan Audrey mulai mengikuti irama permainan Wen. Terlihat vagina Audrey sudah sangat basah, cairan kewanitaannya mulai terlihat membasahi kedua paha dalamnya.

“Wah vagina istrimu sangat basah…dia sangat menikmatinya” kata Wen kepadaku sambil tertawa.

“Saatnya kita ke tahap selanjutnya” kata Wen kemudian sambil dengan tiba-tiba memasukkan 2 jarinya secara kasar ke dalam anus Audrey.

Jeritan keras terdengar dari mulut Audrey. Audrey berusaha menarik badannya namun dengan sigap Wen menahannya.

“Diam Audrey!!!” hardik Wen kepada Audrey.

Setelah beberapa menit puas mengobok-obok anus Audrey dengan kedua jarinya, Wen lalu mencabut penisnya dari vagina Audrey dan mengarahkannya ke anus Audrey. Wen menarik badan Audrey ke belakang sehingga wajah Audrey sekarang kembali berhadapan dengan wajahku. Terlihat wajah kesakitan dari Audrey ketika penis Wen yang besar mulai memasuki lubang anusnya. Air mata mulai meleleh dari kedua mata Audrey. Perlu beberapa menit sampai seluruh penis Wen masuk ke dalam lubang anus Audrey, dan kemudian Wen mulai memompa penisnya keluar masuk lubang anus Audrey. Jeritan-jeritan sakit terdengar dari mulut Audrey, matanya kembali terpejam menahan sakit. Dua tamu wanita kemudian mendatangi Audrey dari kedua sisi. Salah satunya membawa vibrator yang cukup besar dan menyalakannya.

“Ziiing…….” terdengar bunyi vibartor itu. Salah satu tamu wanita tersebut kemudian berjongkok disisi sebelah kiri Audrey dan memasukan vibrator tersebut ke dalam vagina Audrey yang disertai erangan-erangan Audrey. Tamu wanita yang lainnya berjongkok disisi kanan Audrey dan mulai meraba-raba dan menciumi payudara Audrey yang bergantung bebas. Tubuh Audrey kembali terdorong ke depan, sehingga wajahnya kembali berada disebelah kuping kananku. Badan Audrey bergoyang hebat dikarenakan genjotan penis Wen di lubang anusnya dan genjotan vibrator di vaginanya. Erangan-erangan Audrey terdengar keras bersahut-sahutan dengan bunyi vibrator dan bel yang bergoyang keras di bibir atas vaginanya. Erangan-erangan Audrey tidak lagi terdengar sebagai erangan kesakitan tapi telah berubah menjadi erangan kenikmatan. Tanpa disadarinya, Audrey mulai menciumi kuping dan leherku dan sesekali menggigit pelan leherku. Tidak butuh waktu lama untuk Audrey mencapai orgasmenya kembali, badannya mengejang hebat disertai lenguhan kecil ketika dia mencapai puncak orgasmenya. Namun Wen belum ada tanda-tanda bahwa Wen akan mencapai orgasmenya. 40 menit telah berlalu, Audrey telah berkali-kali mengalami orgasme, sampai akhirnya Wen memuntahkan seluruh spermanya didalam anus Audrey. Wen kemudian menarik penisnya keluar dari lubang anus Audrey dan membimbing Audrey ke matras di tengah basement itu. Ternyata salah satu tamu pria Wen telah tidur terlentang di atas matras itu dengan keadaan telanjang bulat dan penis besar yang mengacung ke atas. Wen membimbing Audrey menduduki penis tersebut. Audrey hanya menurut saja apa yang dikehendaki Wen. Setelah penis besar tamu Wen yang bernama Liem itu masuk seluruhnya ke dalam vagina Audrey, Liem kemudian menarik kedua putting payudara Audrey sehingga posisi badan atas Audrey meniduri dada Liem. Liem lalu mencium bibir Audrey dengan ganas, dan aku melihat Audrey melayaninya. Lidah Audrey dan lidah Liem bertautan, mereka berciuman dengan ganasnya. Sementara itu Zhou yang juga sudah telanjang bulat mendekati pantat Audrey dari belakang, dan tanpa basa-basi memasukan penisnya yang juga besar ke dalam lubang anus Audrey, sehingga sekarang posisi Audrey terjepit di antara tubuh Liem dan Zhou dengan 2 penis menancap masing-masing di vaginanya dan di anusnya.

Mata Audrey terlihat berbinar ketika Liem dan Zhou mulai memompa penisnya masing-masing pada vagina dan anus Audrey. Tidak ada lagi penolakan dari Audrey, bahkan Audrey turut menggoyang-goyangkan pinggulnya seirama dengan genjotan Liem dan Zhou.

“Lihat, istrimu mulai menikmati dan menerima statusnya yang baru sebagai budak seks. Saya harap kamu juga dapat menerimanya. Kamu tidak mau kan rekaman dvd istrimu tersebar di internet, lagipula aku lihat kamu juga mulai menikmatinya, lihat penis kamu mulai membesar” bisik Wen kepadaku.

“Kamu menurut saja, dan kamu dapat mendapatkan impianmu selama ini, yaitu melihat istrimu disetubuhi pria lain” lanjut Wen kepadaku.

Aku hanya mengangguk pelan. Terus terang melihat Audrey disandwich oleh 2 laki-laki tua telah membangkitkan nafsu birahiku. Obat yang diberikan Wen kepadaku mulai memudar dan tubuhku mulai tidak lemas lagi, namun bukannya aku membantu Audrey melepaskan diri tapi aku malah menikmati adegan seks di depanku. Terasa lama sekali untuk Liem dan Zhou mencapai orgasmenya, namun sebaliknya sangat cepat sekali Audrey mengalami orgasme. Setelah Audrey mengalami orgasme berkali-kali, barulah Liem dan Zhou secara bersamaan memuntahkan spermanya masing-masing dalam vagina dan anus Audrey. Selesai memuntahkan spermanya dalam anus dan vagina Audrey, Liem dan Zhou segera digantikan oleh tamu pria yang lainnya. Kali ini giliran Lam dan satu tamu lainnya yang bernama Kong. Audrey diposisikan tiduran terlentang di atas tubuh gemuk Lam dengan penis Lam yang menancap di anus Audrey, sedangkan Kong menancapkan penisnya ke dalam vagina Audrey dari atas. Lam dan Kong dengan segera menggenjot penisnya masing-masing dengan kasar pada vagina dan anus Audrey. Audrey terlihat kepayahan melayani nafsu Lam dan Kong. Kedua tangan Audrey bertumpu di dada Lam, kedua kakinya terbuka lebar memberikan akses seluas-luasnya bagi penis Kong di vaginanya.  Sementara itu, ketiga tamu wanita yang semuanya telah telanjang bulat menyerbu penisku, mereka memelorotkan celana dan celana dalamku dan mulai menjilati penisku secara bergantian yang membuat nafsu birahiku semakin memuncak. Tanganku mulai berani meraba-raba payudara ketiga wanita tersebut. Audrey kadang-kadang terlihat memandang ke arahku yang sedang dioral service oleh ketiga tamu wanita tersebut. Entah cemburu atau karena tidak mau kalah melihat aku menikmati service ketiga tamu wanita tersebut, Audrey kembali berkonsentrasi dengan persetubuhannya dengan Lam dan Kong. Tangan kanannya meraih belakang kepala Kong dan ditariknya kedepan dan Audrey menciumi bibir Kong dengan ganasnya.

Lidah Audrey terlihat bermain dengan lidah Kong, pinggul Audrey bergoyang makin hebat seakan-akan memberi semangat untuk Lam dan Kong agar menggenjot penisnya masing-masing dengan semakin ganas pada vagina dan anusnya. Orgasme demi orgasme melanda Audrey, sampai akhirnya Lam dan Kong menghabiskan seluruh spermanya dalam vagina dan anus Audrey. Aku sendiripun telah mengalami orgasme, seluruh spermaku ditelan habis oleh ketiga tamu wanita tersebut. Setelah selesai menghabiskan seluruh spermaku, ketiga wanita tersebut bermain seks bertiga. Rupanya mereka adalah lesbian. Ketika aku bermaksud untuk ikut serta, secara halus mereka menolakku. Sementara itu Audrey masih melayani kelima pria tua di atas matras. Mereka secara bergantian atau bersama-sama menyetubuhi Audrey dengan berbagai macam gaya seks. Terkadang seluruh lubang yang ada di Audrey yaitu mulut, vagina dan anus Audrey harus melayani penis-penis pria-pria tua tersebut secara bersamaan. Terlihat juga Audrey melayani kelima pria tua tersebut secara bersamaan. Audrey duduk di atas Wen yang berbaring terlentang dimatras dengan penis Wen pada vagina Audrey, sedangkan Kong asyik menggenjot anus Audrey dari belakang. Secara bersamaan mulut Audrey menjilati dan menghisap penis Lam, sedangkan tangan kiri Audrey sibuk mengocok penis Zhou dan tangan kanan Audrey sibuk mengocok penis Liem. Terlihat suatu adegan yang fantastis di hadapanku, Audrey istriku yang cantik, berkulit putih dan mulus sibuk melayani 5 pria tua yang semuanya bertubuh gemuk dan berbulu lebat. Erangan-erangan mereka membahana di basement itu disertai bunyi bel kecil yang tergantung di bibir atas vagina Audrey. Orgasme-orgasme silih berganti melanda mereka. Sudah banyak sekali sperma kelima pria tua itu memenuhi vagina, lubang anus dan mulut Audrey. Bekas-bekas sperma nampak dibibir vagina dan lubang anus Audrey, juga demikian di bibir mulut Audrey, namun mereka terus bersetubuh sepanjang malam itu sampai pagi menjelang ketika mereka semua kehabisan tenaga dan tidur bersama di basement itu dengan keadaan telanjang bulat.

Bagian V: Penutup

Hari sudah siang ketika Audrey dan kelima pria tua bangun, merekapun mandi bersama-sama. Ketiga tamu wanita sudah tidak nampak di villa, kelihatannya mereka sudah pulang duluan ke Jakarta. Tidak terasa sudah dari jumat malam aku dan Audrey berada di villa. Sekarang sudah hari minggu, namun tidak terlihat Wen dan 4 pria lainnya akan pulang ke Jakarta. Mereka masih asyik menyetubuhi budak seks barunya, yaitu Audrey istriku. Tidak henti-hentinya mereka menyetubuhi Audrey baik secara bergantian maupun secara bersama-sama. Mereka menyetubuhi Audrey baik di ruang tengah, di ruang makan, di kolam renang, di jacuzzi maupun di kamar tidur. Aku melihat Audrey berusaha melayani nafsu binatang mereka dengan sebaik-baiknya. Terlihat sekali istriku sudah menerima status barunya sebagai budak seks. Meskipun terlihat sulit bagi Audrey untuk mengimbangi kemampuan seks kelima pria tua itu, namun Audrey terlihat mulai menikmatinya, terutama apabila Audrey disetubuhi dengan gaya-gaya baru yang belum pernah dicobanya. Kelima pria itu terus menyetubuhi Audrey sepanjang hari Minggu, Senin sampai hari Selasa, mereka hanya berhenti kalau saatnya makan dan tidur sebentar. Kagum aku melihat stamina kelima pria tua tersebut mengingat usia mereka semuanya sudah di atas 50 tahun. Kadang-kadang ketika mereka beristirahat sebentar, mereka mengijinkanku untuk dioral oleh Audrey, namun mereka tidak pernah mengajakku untuk secara bersama-sama menyetubuhi Audrey. Hari Rabu pagi, mereka baru mengijinkan aku dan Audrey kembali ke Jakarta dengan instruksi bahwa cincin dan bel kecil di bibir atas vagina Audrey tidak boleh dilepas, mulai sekarang Audrey hanya diperbolehkan memakai rok dengan tidak boleh memakai BH dan celana dalam, setiap hari Audrey harus meminum pil anti hamil yang diberikan oleh Wen, Audrey harus selalu mencukur bulu-bulu disekitar vaginanya sehingga vaginanya selalu mulus tanpa bulu sehelaipun, aku tidak boleh menyetubuhi Audrey, aku hanya boleh dioral saja oleh Audrey dan kapanpun Wen dan teman-temannya memanggil Audrey atau datang ke rumah kami, Audrey harus siap melayani. Apabila kami tidak menuruti maka dvd rekaman persetubuhan Audrey di villa tersebut akan tersebar di internet. Audrey hanya mengangguk tanda setuju mendengar instruksi Wen sedangkan aku hanya diam tanpa bisa berbuat apapun. Kamipun pulang ke Jakarta pada hari Rabu pagi itu dengan status baru istriku sebagai budak seks pemuas nafsu.

Korban Permainan Bapak Kost 2

Posted May 17, 2010 by sigadisseksi
Categories: kisah seks

Mona

Sudah seminggu sejak kejadian terkutuk itu, dan Mona sudah tidak berdaya apa-apa lagi untuk bisa menolak keinginan dari Mahmud yang ternyata sudah merencanakan semuanya dari jauh hari, apa yang harus dia lakukan dan terima. Awalnya dimulai dengan Mahmud “mengaudit” lemari baju Mona, ia mengambil semua celana dalam dan BH-nya, ia memilih baju-baju yang bisa digunakan, rata-rata baju yang disisakan adalah baju yang seksi, ketat atau tipis. Lalu ia mengambil atm dan kartu kreditnya, setiap hari bila berangkat kantor ia hanya diberikan uang secukupnya untuk makan dan ongkos, dan juga secara otomatis kini gadis itu tidak pernah menggunakan underwear lagi. Semua celana panjang miliknya telah diambil juga, sehingga kini ia hanya punya rok yang minimal pendeknya 10 cm di atas lutut. Mona sudah pasrah, ia sudah merasa tidak ada harganya lagi sebagai wanita, harga dirinya sudah dirampas dan dipermainkan oleh Mahmud. Banyak sudah permintaan dari Mahmud untuk melayani dirinya, baik permintaan yang “biasa-biasa” saja atau permintaan yang aneh-aneh, seperti dia harus striptise diiringi musik, atau harus memblowjob dengan posisi tangan terikat dan macam-macam lainnya. Dengan kondisi tidak boleh menggunakan underwear, Mona benar-benar merasa risih sekali apalagi kalo harus berangkat kantor atau beraktifitas. Ia merasa dirinya telanjang dan kayanya semua mata laki-laki yang berpapasan seperti mengetahui bahwa dibalik bajunya ia tidak menggunakan BH. Juga sekarang bila ke kantor, ia diwajibkan menggunakan sepatu yang berhak tinggi, sehingga menonjolkan pantat bulatnya yang dibungkus oleh rok mininya yang ketat. Sering saat ia berdesakan dalam bis kota, ada tangan-tangan jahil yang mencoel pantatnya atau bahkan menggesek-gesek pantatnya saat berhimpitan, dan karena ia diperintah Mahmud untuk tidak marah atau menolak bila dia ada yang melecehkan seperti itu, jadi ia tidak berdaya orang-orang jahil itu menikmati kenyalnya pantat bulatnya itu. Juga dengan berjalan menggunakan high heels ini membuat payudara Mona bergoyang-goyang seiring langkahnya, seolah-olah menantang untuk diremas dan dibelai. Yang membuat Mona heran, dalam kondisi yang diperbudak oleh Mahmud ini malah kadang membuat dirinya terangsang, mungkin karena kondisi yang tidak berdaya ini yang menyebabkan libido-nya meningkat. Bahkan kadang-kadang ia merasa bangga karena tubuhnya yang memang seksi ini benar-benar selalu mejadi pusat perhatian orang, walau sebenarnya itu merendahkan derajatnya sebagai wanita baik-baik.
Kini sudah berjalan 3 minggu sejak kejadian itu, setiap malam ia harus melayani Mahmud dengan beberapa cara dan gaya. Dan kini Mahmud sudah siap untuk melanjuntukan planning kotornya ke gadis malang itu. Ia sudah cukup puas dengan setiap malam bisa menikmati kehangatan dari Mona yang kini seperti boneka hidup. Jadi kini ia ingin ngerjain Mona dengan segala rencana yang sudah dia susun. Hari ini memulai hari dengan jantung berdebar dan rasa khawatir yang luar biasa, karena tadi malam Mahmud memberikan perintah yang bikin jantungnya serasa copot dan rasanya pengen mati aja. Perintahnya adalah ia tidak boleh mengatakan tidak/menolak permintaan dari semua laki-laki, apalagi yang berhubungan dengan hal-hal mesum/seks, apapun perintahnya ia harus turutin sampai laki-laki tersebut sudah mencicipi/menikmati dari apa yang diminta. Mahmud juga mengatkan bahwa ia akan memasang mata-mata atau bahkan ia menyuruh teman-temannya sendiri untuk yang melakukan permintaan-permintaan itu, jadi Mona tidak bisa bohong bila ia berusaha menolak atau menghindar.
“haduuuuhh…mampus deh gua sekarang, anjing bener tuh si Mahmud” kutuk Mona dalam hati, tapi ia tidak berdaya apa-apa untuk menolaknya.

Jantungnya berdebar-debar juga membayangkan hal apa yang akan menimpanya nanti, walau selama ini ia dipaksa oleh Mahmud untuk melayaninya dengan segala cara. Sebenarnya secara tidak sadar Mona sudah menjadi wanita yang kaya pengalaman dalam hal seks dan tau bagaimana memberikan kepuasan pada lawan jenisnya. Dan ia juga tidak memungkiri, bahwa kini ia juga menikmati sensasi luar biasa dalam berhubungan seks, hanya karena lawan jenisnya saja yang seperti Mahmud yang kakek buruk rupa itu yang membuat dia kesal. Dari pagi sampai sore di kantor, Mona bersyukur bahwa tidak ada kejadian apapun yang membuat dia harus menuruti perintah orang dan kini sebelum pulang ia harus menelepon Mahmud untuk memberi laporan.

“hemmm…belum ada ya?”kata Mahmud setelah mendengar laporan Mona. “gapapa lah..kamu tenang aja, ga usah gugup karena baru pertama, biar kamu agak santai kamu sekarang pake baluran perangsang yang udah aku masukin ke tas kamu..”
“Waduh..yang bener pak? Uuh tega banget sih bapak..” Mona kaget mendengar perintah itu. Ia memang diberikan botol kecil yang berisi cairan khusus, entah dimana Mahmud mendapatkan barang seperti itu.
“Udaaah jangan banyak omong, cepet pake video call pas kamu pake di 2 puting kamu, lidah dan bibir kamu dan juga di memek kamu..cepet!!!”
Mona mengeluh dalam hati, tapi ia tetap melakukan perintah itu. Di kamar mandi, ia mulai membalurkan cairan itu ke tempat-tempat yang disuruh, dan sebentar saja Mona merasakan putingnya mengeras dan menjadi sensitive sekali. Lalu ia mulai merasakan efek baluran itu juga pada vaginanya yang langsung basah dan ada perasaan yang kuat, yaitu keinginan untuk agar vaginanya menerima usapan liar dan terutama keinginan disodok sama penis. Begitu juga dari ada keinginan kuat untuk mencicipi aroma penis agar bisa dihisap-hisap dan diemut melalui bibir seksinya. Mona kini benar-benar tak berdaya.
Mahmud tertawa-tawa melihat reaksi Mona melalui video call-nya, melihat gadis itu mendesah dgn pandangan tidak focus
“Hei Mona..!! kamu maunya apa?” teriak Mahmud secara tiba-tiba.
“Mau kontol…eeh, ngga sa..salah..ga mau apa-apa..” tanpa sadar Mona menjawab dengan latahnya.
“Ga mau dientot..?”
“mauu…mau..,ngeh..ngga..ngga..”
“hehehe..selamat pulang yaaah…” Mahmud terkekeh melihat hasil dia ngerjain Mona.
Gadis itu mengeluh dalam hati, karena sepertinya akan sulit menghindar dari malapetaka pelecehan terhadap dirinya karena kondisi dirinya sekarang dan perintah dari Mahmud yang harus menjadi “yes girl”. Ditambah lagi kini ia tidak punya uang untuk pulang dan mau ga mau harus jalan kaki untuk pulang ke kost.
Mona berjalan pulang dengan perasaan yang tidak karuan, sekuat tenaga ia menahan keinginan liar yang dibangkitkan secara tidak wajar pada bagian-bagian tubuhnya yang menjadi sangat sensitif yang sangat membutuhkan pelampiasan. Karena harus menahan nafsunya itu sering Mona menahan nafas dan mengerang pelan dengan wajah yang sayu dan horni, sehingga wajahnya yang cantik itu tampak menggairahkan, belum lagi tubuhnya yang seksi itu menggunakan blus kerja yang tidak mampu menyembunyikan tonjolan dada yang membusung dan rok mininya memperlihatkan paha yang putih mulus dan jenjang itu. Sebisa mungkin gadis itu tidak memandang orang-orang yang berpapasan dengan jalan menunduk, karena setiap ia melihat laki-laki darahnya serasa berdesir dan membayangkan penis dan kenikmatannya bila ia bisa mengulum-ngulum penis itu atau digesek-gesekkan ke vaginanya sambil buah dadanya diremas-remas, kembali Mona mendesah pelan membayangkan itu semua. Makin lama perasaan yang meledak-ledak itu makin kuat membutuhkan pelampiasan, tapi Mona terus menguatkan dirinya jangan sampai ia merendahkan martabatnya, ia terus berharap tidak ada laki-laki iseng yang bakal ngajak dia aneh-aneh yang dia ga bisa tolak. Kini Mona malah merasakan bahwa vaginanya jadi agak basah karena gesekan 2 pahanya saat melangkah dan hal itu makin menyiksa dirinya yang makin horni, apalagi gesekan bajunya dengan putingnya yang mengeras itu juga makin membuat nafas Mona agak memburu dan bibirnya yang seksi seperti menahan nyeri. Mona terus berjalan dan berusaha untuk secepat mungkin melangkah, tapi karena gangguan rasa horninya kadang-kadang ia tampak sedikit limbung dan memelankan langkahnya karena menahan nafsunya. Sejauh ini ia masih aman dari gangguan laki-laki meskipun dia tau setiap laki-laki yang berpapasan dengan liar menatap dirinya dan tubuhnya yang aduhai, ia masih berharap walau harapannya tipis karena ia juga diberikan rute pulang oleh Mahmud yang sedikit rawan untuk seorang wanita seperti dirinya pulang jalan kaki sendirian. Dan apa yang ditakutkan gadis itu benar-benar terjadi.

Dalam rute yang diberikan, Mona harus memotong jalan gang di belakang pasar daging dan pada saat ia masuk gang tsb di kanan kiri-nya merupakan kios-kios daging yang sudah sepi karena pasar sudah tutup. Saat baru berjalan beberapa langkah, ia mendengar suara beberapa laki-laki berbicara diselingi dengan suara tertawa. Sepertinya mereka sedang bermain sesuatu. Dugaan Mona tidak salah, karena saat itu memang ada beberapa supir angkot yang sedang melepas lelah setelah seharian narik dan menghabiskan waktu main judi sambil minum minuman keras, dan saat ini mereka sudah mulai dipengaruhi oleh alcohol.
“Siaaall…!! Waah lo pada pasti ada yang curang niih…abis duit gua..” seloroh Tono sambil membanting kartunya, hari ini dia memang lagi sial karena kalah melulu. “Bilang apa nih ntar ama bini gua?” katanya sambil menenggak beberapa teguk bir-nya.
Teman-temannya hanya tertawa-tawa mengejek Tono dan yang ditanggapin sambil terkekeh-kekeh dan dia berdiri karena mau kencing. Saat ia berdiri itu ia melihat Mona yang sedang berjalan dengan sedikit terhuyung, saat ia menajamkan penglihatannya ia terbelalak melihat kecantikan dan keseksian gadis yang akan lewat di jalan sepi itu.
“Woii..woi..liat tuh, ada cewe cakep banget..cepetaan, keburu lewat loh..” serunya ke teman-temanya.
“Ahhh..palingan si Surni yang di belakang itu kan? Ga jauh deh lo Ton..”seloroh temennya sambil tetep maen kartu.
“Eeeehh..beneraaann.., ya udah gua aja yang mau ngeliat lebih deket..” kata Tono sambil berjalan dengan arah memotong arah perjalanan cewe nafsuin itu.

Teman-temannya tetep cuek dan membereskan kartu dan botol-botol lalu meninggalkan tempat itu. Mona terus berjalan sambil tetap menahan rasa horni-nya, dan sebentar saja dia melihat ada laki-laki yaitu si Tono sedang bersender di salah satu kios kosong sambil memandanginya. Mona berdoa agar laki-laki itu ngga iseng dan ia terus jalan sambil menunduk.
Saat melihat lebih dekat, Tono makin takjub melihat Mona terutama keindahan badannya. Ia menelan ludah melihat payudara gadis itu yang bulat dan montok dan ia melotot karena secara samar ia seperti melihat tonjolan puting dari kain blusnya yang memang agak ketat. Dan saat ia melihat pahanya kembali ia menelan ludah melihat batang paha yang putih bersih dan jenjang itu. Karena bengong itu dan seperti orang linglung Tono tidak sengaja melepas botol minumannya sehingga jatuh dan pecah.
“Praanngg…!!”
“Eh kontol…kontol enak…!!” Mona tanpa sadar teriak karena latahnya dan pikirannya yang sedang kacau.
Mendengar latah itu, Tono tertawa dan jadi lebih berani ditambah lagi ia juga sudah agak mabok..
“Hehehe…emang enak ya kontol ya mba..?” pancingnya
“hmmmm…?” Mona mengutuk dirinya kenapa ia menjawab dengan gaya yang seksi dengan pandangan mata sayu dan suara yang serak-serak basah, dan ia memandang ke arah Tono yang merupakan laki-laki berkulit hitam dengan ukuran tubuh sedang, berusia sekitar 30-an dengan wajah yang keras karena kehidupan.

“A..apa bang?” tanya Mona lagi yang tidak sadar menjilat bibirnya yang ranum itu.
“Ngga…demen sama kontol emangnya…?” blingsatan Tono melihat bibir seksi yang basah dan sprt menyeringai menantang itu.
Mona menelan ludah beberapa kali mendengar pertanyaan itu, dan dengan sedikit gemetar ia menjawab,

“De.. demen banget bang..” pikirannya udah menerawang ga jelas karena rasa takut dan desakan birahinya yang meningkat terus.

Tubuhnya serasa lemas dan tak bertenaga sehingga 1 tangannya bersandar pada meja kayu. Ia merasa vaginanya makin basah dan serasa desiran-desiran pada perutnya yang menjalar ke bagian selangkangnnya makin kencang. Tono lebih berani lagi melihat respon gadis itu, ia merasa celana bagian selangkanganya jadi agak sesak
“Enaknya emang gimana sih?” sambil ia membenarkan arah penisnya.
“Hmmmm….oouh..enaknya diciumin, dijilat…nggg..sama diisepin bang..” jawab Mona sambil matanya tanpa sadar melihat ke arah penis Tono karena gerakan tangannya, dan ia makin sesak nafasnya.
Tono benar-benar ngga ngira akan ada jawaban seperti itu, jantungnya berdetak kencang karena ia jadi gugup juga ngeliat ada gadis secantik dan seseksi Mona berada di tempat seperti ini dan bertingkah yang di luar dugaan itu, ia lalu ngajak Mona untuk masuk ke tempat lebih agak ke dalam dan tertutup dari luar dan gadis itu juga tidak menolak.
“Rejeki banget nih…” pikir Tono dalam hati. Ia sekarang tidak peduli lagi asal usul gadis ”maut” ini, yang penting bisa dipakai.
“teruss..? selain itu enaknya apa lagi..?” tanya Tono
“uuuh..nanyanya gitu?” kesal juga Mona, tapi ia sudah pasrah karena tau ia tidak akan lepas sekarang “yaaah…paling enak kalo dimasukin lah bang..”
“wahahaha…tau aja kamu.., kamu..ehem..kayanya ga pake bh yah?” tanya Tono, ia sudah benar-benar ngaceng sekarang, ia kini lebih berani lagi, lalu ia menarik tangan Mona agar lebih dekat berhadap-hadapan sampai ia bisa mencium aroma wangi dari gadis itu
“Ngga bang..”
“Haah..bener? coba gua cek..” sambil ngomong gitu jari kedua tangan Tono ke arah puncak bukit payudara Mona dan saat dijamah ia segera merasakan puting yang mengeras tanpa ditutupi BH, ia melihat tubuh Mona menegang dan keluar rintihan lirih dari bibir seksinya, dan tubuhnya menggeliat saat ia memuntir-muntirnya dan makin cepat rintihan yang terdengar.
“enak yaaaa…”
“Ngeh..ouuh..ss..stop bang…” Mona masih berusaha menolak, tapi ia segera ingat pesan Mahmud. “Nggeehh..iyaa…enaak bgt baaang…oouuhh…aww..kok dicubit..?” ralatnya dan juga karena birahinya sudah memuncak ia jadi berlaku seperti wanita murahan.

Kesadarannya yang sudah tipis itu, merasa terhina sekali karena ia harus merelakan putingnya dipuntir-puntir sama laki-laki asing dan berkasta rendah. Melihat erangan dan geliat tubuh Mona makin liar itu, Tono tau bahwa gadis di depannya ini sedang dalam keadaan horni banget. Hal ini makin membuat dirinya senang akan kenikmatan yang akan didapat, ia tidak peduli lagi kenapa gadis ini bisa horni kaya gini. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Mona, dan segera ia merasakan hembusan nafas Mona yang hangat dan cepat menerpa dan dengan cepat bibirnya menempel ke bibir gadis itu yang terasa basah dan hangat. Kelembutan bibir Mona makin membuat Tono bernafsu. Ia melumat dan mengulum-ngulum dengan liar, terdengar suara mengerang dari Mona yang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lemah, sebenarnya hampir pingsan ia mencium aroma minuman keras dan mulut apek Tono. Meski masih berupaya menolak walau hanya setengah hati, tapi sebenarnya ia merasa sangat menikmati lumatan kasar dari Tono itu, tubuhnya merespon dengan sendirinya akibat birahinya yang sudah mengalahkan logikanya. Sambil mencium, kini bukan saja memuntir putingnya tapi mulai meremas-remas dengan liar gumpalan daging kenyal yang kencang nan padat itu. Gadis itu makin merintih-rintih dalam ciuman Tono yang berpindah ke leher Mona yang harum memabukkan.
“Ouucchh..” Mona menjerit lirih saat lehernya dicupang oleh Tono dan ia makin menggelinjang saat Tono mendesah dan menggumam tak jelas di kupingnya.

Hembusan nafas Tono dan jilatan lidahnya membuat Mona blingsatan, tanpa sadar tangannya mengarah ke vaginanya dan langsung mengusapi liang vaginanya yang sudah becek itu.
“Ouuucchh..aaannngggghhhhhhhhhhhhhhh….” sebentar saja Mona mencapai klimaksnya, tubuhnya menggetar hebat dan dadanya bergerak naik turun dalam remasan-remasan Tono.
“Hohohoho..ga pake cd juga kamu ya…emang udah siap dintetot kamu kayanya..” ujar Tono setelah melirik ke bawah dan melihat tangan Mona yang menggeseki selangkangannya sendiri.

Gadis itu merasa wajahnya panas karena malu tapi ia tak berdaya karena nafsunya sendiri. Kini dalam otaknya hanya pengen ada penis yang bisa ia nikmati lewat mulutnya atau lewat vaginanya, ia sudah tidak perduli lagi. Tapi ia tetap berusaha menjaga gengsinya walau ia sendiri juga tidak tau gengsi apa lagi yang bisa ia pertahankan. Setelah melancarkan remasan dan ciumannya selama 15 menit, Tono melonggarkan pelukannya ke Mona yang kini bersandar dengan keadaan yang menggiurkan. Rambutnya terlihat sedikit awut-awutan yang malah menambah kecantikan wajahnya yang diselimuti nafsu, kancing bajunya terbuka sehingga terlihat belahan dada montok yang menyembul dibalik bajunya yang acak-acakan. Gerakan dada montok itu naik turun nafsuin karena nafas Mona yang terengah-engah karena perbuatan Tono dan terutama karena sehabis orgasme tadi. Rok yang sudah mini itu terangkat ke atas memperlihatkan sedikit pangkal pahanya yang malah bikin ser-seran bagi Tono. Kulit paha yang putih itu terlihat sangat mulus dan menaikkan gairah.
“Lo bilang tadi suka kontol kan?” tanya Tono, sambil mulai membuka resleting celananya dan sebentar kemudian ia mengeluarkan penisnya yang sudah ngaceng daritadi. Ukurannya tidak terlalu panjang tapi diameternya cukup besar. Melihat batangan lelaki itu, Mona tidak mampu mengalihkan pandangannya dan menatap penis itu dengan penuh nafsu dan beberapa kali menelan ludah. Yang ada di otaknya cuma pengen menikmati penis itu. Lututnya serasa lemas dan gemetar menahan nafsunya untuk “menerkam” penis Tono. Melihat tatapan Mona yang ngga lepas dr penisnya dan wajah cantiknya yang seperti singa betina kelaparan melihat daging kijang nan empuk itu, Tono tersenyum senang.
“Kamu mau kan nikmatin kontol gua?” tanyanya yang dijawab dengan anggukan cepat dan erangan Mona “Kalo gitu, kamu buka baju kamu sekarang”
“Oooh…” Mona terdiam sesaat, tapi dengan jari gemetar ia mulai melepas kancing bajunya satu per satu.

Tono

Tono menelan ludah melihat gerakan Mona yang perlahan itu mulai memperlihatkan sedikit demi sedikit bagian dalam tubuhnya, dimulai dengan terlihatnya payudara yang berbentuk bulat sempurna dan berukuran di atas rata-rata itu, lalu terlihat perut yang langsing dan pinggang yang ramping tanpa lemak. Ditambah lagi kulitnya membungkus tubuh sintal itu begitu sempurna dan halus. Kini Mona sudah berdiri dengan tubuh bagian atas telanjang, yang membuat penis Tono terasa sakit karena saking kencangnya. “Cepat..isepin kontol gua..yang enak!!”
“Ouuuhh…” erang Mona, ia berlutut dan kini penis ngaceng itu sudah berada di depan wajahnya. Sambil menjilati bibirnya yang ranum ia meraih dengan lembut batang kemaluan itu, lalu ia mengecup pelan kepala penis yang bulat dan beraroma khas. Kecupan lembut itu dilanjuntukan dengan jilatan-jilatan yang menyapu seluruh bagiannya. Jilatan itu diiringi dengan erangan-erangan penuh nafsu yang keluar dari mulutnya dan sebentar kemudian gadis itu memasukkan penis itu ke rongga mulutnya. “Mmmmmmmmmmghh..”
Mona menikmati batang kelaki-lakian Tono yang memenuhi mulutnya, bergerak sliding keluar dan masuk dengan lancar dan cepat yang membuat laki-laki beruntung itu merem melek keenakan, dari atas ia melihat bagaimana bibir Mona yang merah itu menelan penisnya dan lidahnya yang seperti ular itu menjilatinya dengan penuh nafsu. Tono beberapa kali menggelinjang saat lidah gadis itu menyapu urat besar di bawah alat kemaluannya, dan Mona yang sudah ahli itu memainkannya dengan makin cepat dan liar. Sekejap Mona sadar bahwa ia dengan nafsunya memberi blowjob untuk laki-laki seperti Tono, tapi kesadaran itu langsung lenyap lagi akan kebutuhannya, nafsu yang menguasai dan rasa “laparnya” terhadap penis laki-laki, laki-laki manapun.

Mona terus menyepong penis itu dengan nikmat, bibir merahnya melingkar dengan ligat dan lidahnya yang basah dan panas itu terus menjilati dengan cepat dan ahli, gadis itu terus menghisap makin dalam dan dan kuat, akhirnya..
“Uuuugghhh…mantap bangeeet…jago banget lo ngisepnya” teriak Tono, spermanya membanjiri rongga mulut Mona yang langsung ditelannya dengan nikmat dan diteruskan menjilati batang Tono yang tetap perkasa itu.
“Oke sayang…saatnya gua cicipin memek lo yah..” ia menarik wajah Mona ke belakang dan ia mencium bibir sexy itu sekali lagi.

Lalu tangannya merayap ke arah bawah perut Mona dan menyusup langsung ke liang vagina yang sudah basah itu. Jari-jari ahli itu langsung menemukan klitoris Mona yang sudah terangsang banget dan mulai memainkan jarinya dengan cepat. Mona langsung menggelinjang hebat.
“Uuuuuuuugggggmmmmmmmmmmm” Mona menjerit dalam ciuman Tono.
Kedua bola mata Mona yang indah itu terbelalak tak percaya, kenapa hal ini bisa terjadi. Yang awalnya dia seorang gadis cantik nan seksi yang hanya menjadi impian setiap laki-laki, kini tubuhnya berada dalam kekuasaan seseorang seperti Tono yang saat ini sedang leluasa menikmati kenikmatan surga dunia.
“Uuuuugghhmmmm..” kembali ia mengerang merasakan payudaranya mengencang dan timbul rasa geli dan makin panas hawa nafsunya.

Liang vaginanya makin banyak mengeluarkan cairan pelumas yang memudahkan gerakan jari-jari Tono. Nafasnya makin memburu melalui hidungnya dan matanya yang sayu itu bergerak liar saat ia makin dekat dengan puncak kenikmatan yang berusaha dia tahan. Lalu ia menyerah dan orgasme yang luar biasa terjadi dengan liar.
“Aaaaaaaaggghhhhhhhhhh”
“Heheheheh…enak kan?” ujar Tono sambil melihat dengan senang Mona yang kini berdiri dengan goyah di atas sepatu stiletto-nya berusaha menenangkan pikiran dan gejolak dirinya setelah klimaks tadi.

Ia pasrah saja saat Tono menurunkan rok mininya melalui paha jenjangnya ke bawah dan secara otomatis ia melangkahkan kakinya keluar dari roknya tersebut. Kini tubuhnya sudah polos telanjang hanya menggunakan sepatu hak tingginya saja.
“Emang seksi banget lo ya..” ujar Tono, lalu ia menggerayangi setiap lekuk liku tubuh montok itu, pantatnya yang bulat dan kencang itu menjadi sasaran remasan dan cubitan tangannya. Mona hanya menggeliat-geliat lemah dan tampak menikmati setiap usapan pada tubuhnya.
“Sekarang gua mau nyicipin memek lo ya neng..” kata Tono, lalu ia mengangkat tubuh Mona ke atas meja kayu dan mengangkangkan kedua batang paha Mona sehingga kini liang vagina gadis itu terbuka menantang sejajar dengan penis Tono yang sudah siap “menggempur”.
Mona menelan ludah dan tanpa sadar lidahnya menjilati bibir merahnya sendiri saat melihat Tono menuntun penisnya ke arah vaginanya yang panas dan basah itu. Ia tersentak saat “helm” penis itu menyentuh bibir vaginanya dan yang segera dibenamkan masuk. Mata Mona membelalak dan punggungnya menegang ke belakang, tubuhnya serasa dialiri listrik tingkat tinggi, kedua tangannya meremas kuat pinggiran meja menahan serangan liar penuh nafsu itu.
“Uuuuuuuuggghhhhhhh….!”
Gadis itu melenguh-lenguh seirama dengan pompaan Tono yang maju mundur dan makin lama makin cepat, gesekan batang keras nan hangat itu dengan dinding vaginanya membuat dirinya belingsatan. Ditambah lagi remasan-remasan tangan Tono yang kasar pada payudaranya menimbulkan sensasi yang luar biasa.
“Ooouuuff…aak..akhu mau keluaaaaarr…nnggeeeehhh..” diakhiri erangan panjang ledakan orgasme menyerang sekujur tubuh Mona yang menggelinjang “Aaaaiiiiiiiiiieeeeeeeee….”

Otot-otot vagina Mona bergetar saat klimaks mebuat Tono melem melek merasakan sekujur batang penisnya seperti dipijit-pijit, menimbulkan kenikmatan tiada tara. Tono terus memompa penisnya keluar masuk dan makin cepat. 1 menit kemudian, Mona mencapai puncaknya lagi

“Ooouuuuuuuufffffffnngggghhh…”
“Terus bang…oouuhh….yang keras, yang ce…cepeth baangg..hhhhnnnnnnggg…” Mona yang sudah dikuasai sepenuhnya oleh nafsunya, meracau tak karuan diselingi desahan-desahannya yang menikmati setiap sodokan penis Tono yang perkasa.

Gadis itu mengempit pinggang Tono dengan kedua pahanya yang makin membuat Tono keenakan karena lubang vagina gadis cantik itu serasa makin sempit dan memijit-mijit kemaluannya. Keperkasaan Tono benar-benar membuat Mona makin liar dan blingsatan, ia sampai mencapai klimaksnya sebanyak 4 kali dan setiap klimaks itu membuat dirinya makin lepas kontrol menikmati permainan panas itu, ia tidak peduli lagi sekarang dengan memeluk tubuh tegap Tono dan menciumi leher dan sesekali melumati bibir laki-laki beruntung itu. Tono juga tidak ketinggalan, sambil terus memompa penisnya maju mundur tanpa kenal lelah, tangannya tak berhenti bergerilya ke sekujur tubuh seksi Mona, kesintalan tubuh gadis itu sungguh menggairahkan dan daging kenyal di dada serasa hangat dan lembut dalam setiap remasannya. Sesaat kemudian, Tono mempercepat sodokannnya dan wajahnya sedikit menegang, sambil memegang erat pinggul bulat montok itu, dengan sodokan keras akhirnya

“Uuuuuuuuuuuggggghhhhhh…..”
“Aaaaiiiiiiiieeeehhhhh….” Mona juga mencapai klimaksnya yang meledak kuat sekali berbarengan dengan lawan mainnya, ia merasakan “lahar” panas memenuhi liang kemaluan wanitanya. Tubuh sexynya mengejang menikmati setiap detik sensasi luar biasa yang ditimbulkan karena permainan seks mereka. Setelah beberapa saat menikmati setiap detik orgasme yang mereka alami, sambil meringis keenakan Tono mencabut penisnya dari vagina Mona lalu ia terduduk lemas karena keenakan, ia memandangi tubuh montok Mona yang telanjang di depannya dan ia menghela napas memikirkan keberuntungan dirinya dapat menikmati tubuh dari gadis secantik itu, karena kecapean dan pengaruh alkohol Tono ketiduran sambil tersenyum menghiasi bibirnya. Setelah terlampiaskan nafsunya yang dibangkitkan secara tidak wajar, kini Mona merasa tubuhnya lemas juga dan dengan perlahan ia mulai mengenakan kembali bajunya dan rok mininya. Lalu dengan langkah limbung ia meninggalkan tempat itu. Ia memandang ke Tono yang tertidur dan membayangkan kejadian barusan, dimana ia menikmati permainan seks dengan laki-laki seperti Tono yang dalam keadaan biasa tidak mungkin ia akan melakukannya. Dengan menghela nafas ia terus berjalan berusaha menghilangkan ingatannya mengenai dirinya yang dinikmati oleh laki-laki asing itu.

Korban Permainan Bapak Kost

Posted May 17, 2010 by sigadisseksi
Categories: kisah seks

Mona

“Huuuh..nyebelin banget sih tuh aki-aki..” gerutu Mona sambil mengunci pintu kamar kostnya.

Kembali hari ini ia sebel dengan Pak Mahmud, si bapak kostnya yang sering bersikap genit dan terkadang menjurus kurang ajar terhadap dirinya. Kejadiannya tadi saat dia pulang kantor berpapasan dengan Pak Mahmud yang sedang berusaha memaku sesuatu di dinding.
“Sore pak..lagi ngapain pak..?” sapa Mona demi kesopanan.
“Eh..mba Mona dah pulang..”sahut Mahmud dengan mata berbinar. “Kebetulan aku mau minta tolong sebentar bisa?”
Mona yang mau buru-buru ke kamar terpaksa menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Apaan pak?” tanyanya sekenanya, kembali ia kesal melihat pandangan mata pak tua itu yang jelalatan ke arah dadanya.
“Ini loh..kamu bisa pasangin lukisan ini ga kepaku yang dah saya pasang itu, takutnya tangganya goyang banget karena berat badan saya, maklum agak gendut gini ribet jadinya” katanya sambil cengengesan dan kembali pandangan matanya menyantap kulit leher Mona yang mulus.”nanti saya pegangin tangganya”
Mona menyanggupi dan dia menaiki tangga yang memang sudah goyang itu, gadis itu baru sadar pas naik ke pijakan kedua bahwa tangga itu memiliki jarak yang cukup lebar antara pijakan-pijakannya, jadi saat kakinya naik ke pijakan kedua, dirinya yang saat ini menggunakan rok span ketat agak kesulitan dan roknya menjadi tertarik ke atas sehingga pahanya menjadi terbuka. Kejadian itu berulang lagi saat ia ke pijakan ketiga, bahkan jaraknya makin jauh sehingga pahanya makin terbuka lebih lebar. Mona mengutuk dalam hati, saat melirik Pak Mahmud yang dengan senyum mesumnya menikmati pahanya yang jenjang dan berkulit mulus bersih itu. Melihat pemandangan indah ini, Pak Mahmud merasa nafasnya sesak sama sesaknya dengan penisnya yang jadi menegang. Sungguh indah bentuk paha gadis ini dan ia dengan bebas bisa melihat dari dekat, ingin rasanya mengelus paha montok nan mulus itu, tapi ia menahan diri. Ia menyerahkan lukisan ke Mona untuk dipasang, tapi karena nyantolinnya masih agak tinggi maka gadis itu harus memasangnya dengan mengangkat tangannya setinggi mungkin, ia tidak sadar bahwa karena gerakannya itu blusnya yang pendek ikut tertarik ke atas sehingga terlihat kulit pinggangnya yang ramping sampai ke perut di bawah dadanya.

Dengan sengaja Pak Mahmud menggoyangkan tangganya sehingga memperlama dirinya untuk bisa menikmati pemandangan pinggang berkulit mulus gadis itu. Setelah selesai terpasang, Mona menurunkan kaki kirinya ke pijakan kedua yang ternyata tanpa sepengetahuannya telah dilonggarkan pakunya. Sambil terus menikmati paha Mona yang terbuka kembali, Pak Mahmud bersiap-siap.
“Eiiihh…eiihh..” Mona menjerit kecil saat pijakannya lepas dan ia terjatuh ke belakang dan saat itu dengan sigap Pak Mahmud menangkapnya sehingga tidak sampai terjatuh lebih parah.
Merah muka gadis itu karena satu tangan yang menahan dirinya memegang tepat ke pantatnya dan sepertinya ia merasa tangan itu sedikit meremasnya. Dengan cepat ia menjauhkan badannya dari “pelukan” Pak Mahmud yang mengambil kesempatan itu.
“Waduh, untung sempet saya pegangin mba nya, kalo ngga bisa berabe tuh..” ujar Pak Mahmud cengengesan yang masih menikmati hangatnya tubuh dan kenyalnya pantat Mona tadi walau sesaat tadi.
“Mmm..iya pak, makasih..udah kan pak ya..” tukas Mona sambil ngeloyor pergi dengan diikuti pandangan Mahmud yang menikmati gerakan pinggul gadis yang montok itu.
“Hmmm..tunggu aja ntar ya..lo bakal kena ama gua” pikir pria tambun setengah tua ini dalam hati.

Sudah banyak planning yang kotor dan mesum darinya yang memang punya sedikit kelainan seks ini. Di dalam kamar, Mona masih sebel sama kejadian tadi. Sudah terlalu sering ia mendapat perlakukan atau kata-kata yang menjurus mesum dari bandot tua itu, tapi ia berusaha menahan diri mengingat bahwa tempat kost ini cukup murah dengan fasilitas yang ada juga ditambah lagi dengan lokasi yang di tengah kota dan dekat ke tempat kerja atau mau ke mana-mana. Maka ia memutuskan untuk tetap bertahan asalkan si mesum itu tidak terlalu kurang ajar. Bila ketemu pasti Mona merasa risih dan agak ngeri ngeliat mata Mahmud yang seperti menelanjangi sekujur tubuhnya, tapi terkadang selain ngeri dan risih gadis itu juga merasakan bangga dan senang karena kecantikan dan tubuhnya menjadi perhatian sampai seperti itu walau Mahmud bukan levelnya untuk bisa menikmati dirinya.

Beberapa kali kalau berpapasan sama Mahmud dan berbincang-bincang, selalu saja tangannya tidak pernah diam menjamah, walau hanya menjamah pundak atau lengannya tetap saja gadis itu merasa risih karena sambil melakukan itu bapak kost itu merayu dengan kata-kata yang kampungan.
“Ahh..udahlah, ga penting juga..mendingan gua mandi” kata Mona dalam hati

Sambil berkaca ia mulai melepas satu per satu kancing blusnya dan melepasnya sehingga bagian atasnya kini hanya tertutup BH biru muda yang susah payah berusaha menutupi payudara berukuran 34D itu. Dengan pinggang yang ramping, maka buah dada itu tampak sangat besar dan indah dan karena Mona rajin ke fitness makin tampak kencang dan padat. Sungguh merupakan idaman bagi semua laki-laki di dunia bagi yang dapat menikmatinya. Lalu ia melanjutkan dengan melepas rok span-nya ke bawah sehingga kini tubuh yang memiliki tinggi 168cm ini hanya ditutupi bra dan cd yang berwarna senada. Body yang akan membuat laki-laki rela untuk mati agar bisa mendapatkannya, memiliki kulit putih asia dan dihiasi dengan bulu-bulu halus nan lembut. Menjanjikan kehangatan dan kenikmatan dunia tiada tara. Mona melepas kaitan bra disusul dengan cd-nya yang segera dilemparkan ke ember tempat baju kotor. Ia memandang sejenak ke cermin, melihat payudaranya seperti “bernafas” setelah seharian dibungkus dengan bra. Gumpalan daging yang kenyal dan padat dengan puting berwarna coklat muda sungguh menggairahkan.
“Auuh…” gadis itu sedikit merintih atau tersentak saat ia memegang kedua putingnya, serasa ada aliran listrik menyengat lembut dan menimbulkan rasa sensasi geli pada kemaluannya yang tanpa sadar tangan kirinya turun ke arah vaginanya dan sedikit membelainya.
Sambil senyum-senyum sendiri, gadis itu membayangkan dada telanjangnya dan membusung ini selalu menjadi sasaran remasan dari Roy pacarnya yang tidak penah bosan juga mengulum puting dan menciumi kulit payudaranya yang mulus dan harum itu. Tidak percuma ia setiap 3 hari sekali memberikan lulur pada tubuhnya, terutama pada payudaranya yang sampai sekarang memiliki aroma yang memabukkan walaupun dalam kondisi berkeringat.
Mona menghela nafas panjang menahan gejolak birahi yang timbul, dan sekarang ia merasa ingin dilampiaskan. Padahal baru tadi malam ia berenang di lautan asmara yang menggelora dengan pacarnya. Ia merasa dirinya selalu saja haus akan belaian pacarnya, padahal hampir setiap ketemu mereka bercumbu dengan hot dan yang suka bikin ngiler adalah mengulum penis Roy sampe bisa keluar spermanya. Kini ia membayangkan ukuran penis Roy saja udah bikin deg-degan, ga sabar untuk ketemu dan mengemut-ngemut batang kemaluan yang kokoh itu.
“Huuuh..mending gua mandi aja deh, otak gua jadi kotor nih..”
Selesai mandi, sedikit terusir pikiran-pikiran tadi karena sudah tersiram air dingin. “Loh, kok ga bisa sih nih?” Mona sudah beberapa saat ngga bisa memutar kunci lemari bajunya, ia masih coba terus beberapa saat tapi masih ga bisa juga.
“Duh, mesti minta tolong ama bandot itu dong” keluhnya

Untungnya masih ada baju di keranjang yang belum sempat dimasukkan ke dalam lemari. Tapi setelah memilih-milih, di keranjang baju itu hanya ada underwear 2 pasang dan baju-baju khusus tidur yang tipis dan seksi serta baju dalaman sexy seperti tanktop dan rok mini yang mininya 20 cm dari lutut. Dari pada pakai baju tidur tipis ia memilih rok mini dan tank top yang rendah belahannya. Sebelum ke Pak Mahmud, Mona memilih untuk makan malam dulu di ruang makan bersama, sambil makan ia menyalakan tv dan duduk di ujung sofa.
“Ehh..mba Mona baru makan ya..bapak temenin ya, ga baik cewe seseksi kamu makan sendirian” tiba-tiba si bandot itu muncul, dan langsung menyantap paha Mona yang disilangkan itu, sungguh mulus, lalu ia duduk di samping gadis itu.
“Ia pak..sekalian makan pak…terus sama minta tolong kok lemari baju saya ga bisa dibuka yah?” pinta Mona sambil menggeser menjauh dan berusaha dengan sia-sia menarik turun rok mininya. “buset tuh mataaaa…abis gua..” katanya dalam hati.
“Ooo gitu, nanti saya periksa deeeh…”
“Makasih ya pak”
Mona buru-buru nyelesaiin makannya, saat tiba-tiba ia merasa dadanya bagian putingnya terasa gatal. Awalnya berusaha ditahan saja tapi makin lama makin meningkat rasa gatalnya, dan bukan itu saja kini ia merasakan hal yang sama pada vaginanya.

Ia masih berusaha menahan tapi sudah hampir tidak kuat, duduknya jadi gelisah dan ia berusaha menggoyangkan badannya agar rasa gatal itu hilang bergesekan dengan bahan bra-nya dan ia mempererat silangan kakinya. Tapi rasa gatalnya tidak berkurang, bahkan kini seluruh daging kenyal payudaranya terasa gatal.
“Ouuuhh..” akhirnya Mona tidak tahan dan ia menggaruk sedikit kedua payudaranya dengan tangannya, saat ia menggaruk terasa nyaman sekali karena gatalnya berkurang tapi sulit untuk berhenti menggaruk. Sambil memejamkan matanya karena keenakan menggaruk ia lupa ada Pak Mahmud di situ.
“Kenapa kamu? Kamu kegatelan yaah?”
“Uuuhh…sssshh..ehm, i…iya pak..” terkejut Mona karena baru ingat ada si bandot di sampingnya, tapi ia terus menggaruk makin cepat dan karena tak tahan ia menggaruk juga ke pangkal pahanya..
“Uuuuuffh..ssshh…” aliran darah Mona berdesir cepat karena sensasi menggaruknya itu selain menghilangkan rasa gatal juga membuat birahinya tergelitik. “per..permisi pak..uuffh..” sambil terus menggaruk ia mau bangkit dari kursi tapi rasa gatal itu makin menghebat yang akhirnya dia hanya teduduk kembali sambil terus menggaruk

Sedetik ia melihat Mahmud hanya menonton dengan pandangan penuh nafsu setan ke dirinya yang terus menggaruk itu. Gadis itu mengutuk karena ia memberikan tontonan gratis kepada pria tua itu tanpa dapat mencegah. Gerakannya makin cepat dan tidak karuan karena kedua tangannya hanya bisa menggaruk 2 bagian dari 3 bagian tubuhnya yang terserang itu, kini rok mininya sudah tersingkap semua karena ia harus menggaruk liang kemaluannya sehingga memperlihatkan kedua pahanya yang jenjang dan berkulit putih mulus itu. Gadis itu terus merintih-rintih karena kini rasa gatalnya sepertinya tidak bisa digaruk hanya dengan garukan yang masih terhalang kaos dan bh untuk kedua payudaranya dan celana dalam tipisnya untuk vaginanya, tubuhnya serasa lemas karena rasa gatal dan birahinya yang kini membuat vaginanya menjadi basah dan ia merasa putingnya mengeras.

Pak Mahmud

“Misi pak…mau ke kamar dulu niiih..uuhh..” Kata Mona, tapi Pak Mahmud diam saja menghalangi jalan keluarnya. Rasanya ingin marah saja tapi rasa gatal itu menghalangi rasa marahnya.
Karena akhirnya ia tidak tahan dan tidak bisa mencegah lagi, dengan serabutan dan cepat ia menarik tali tank topnya kebawah dan menarik turun branya sehingga kini buah dadanya telanjang yang segera ia menggaruk dengan cepat dua gunung indah itu terutama putingnya yang kini sudah mancung dan mengeras, kakinya bergerak blingsatan karena rasa gatal pada vaginanya makin menghebat. Pak Mamud tertawa dalam hati, ia menikmati melihat indahnya pemandangan di depannya itu, betapa buah dada Mona yang berbentuk bulat kencang itu tidak tertutup apapun serta baju Mona yang sudah tidak keruan. Senang ia melihat gadis yang cantik tapi sombong ini kini tampak tidak berdaya. Rencana awal ini berhasil dengan baik, yang ternyata ia telah mengganti kunci lemari baju Mona dan menaruh bubuk gatal pada pakaian dalam gadis itu dan sengaja memilihkan baju yang seksi tertinggal di luar lemari. Tangan Mona masih bergerak cepat berpindah-pindah mencoba menggaruk 3 bagian tubuh, makin lama makin menghebat dan dari mulutnya meracau tidak jelas. Dengan susah ia berusaha menggaruk vaginanya secara langsung tapi ia kesulitan karena harus menggaruk putingnya.
“Saya bantu ya sayang…” tanpa disuruh ia menarik turun celana dalam tipis Mona, sehingga sekarang terlihat “bibir” bawah tersebut yang dihiasi bulu-bulu halus. Tampak indah sekali dan menggairahkan.
“Nggeeh..ja..gan kurang ooouhh..”ia tidak dapat melanjutkan umpatannya karena ia menikmati garukan pada vaginanya walau ia harus berpindah lagi sambil merintih-rintih terus

Ia terkejut sesaat ketika tangan Pak Mahmud mengelus-elus pahanya, tapi ia tidak bisa memperdulikannya lagi yang penting ia harus terus menggaruk. Dengan leluasa Pak Mahmud menjelajahi lekuk liku tubuh montok itu tanpa penolakan, kulit pahanya terasa lembut dan daging paha sintal itu terasa kenyal dan hangat dalam usapannya. Karena belaian-belaian yang dilakukannya ini membuat Mona makin menggelinjang karena kini birahinya sudah melonjak.

“Biar ini aku yang bantu yaah..” dengan sigap jari-jari tangannya hinggap di vagina Mona dan menggeseknya dengan liar.
“Ouuuuhh…ss..stoopp…aiiieh…iyaa…ouuhh” ngga jelas Mona mau ngomong apa, sedetik ia tahu vaginanya sedang diobok-obok oleh orang yang dia sebel, tapi ia tidak tau dan tidak berdaya karena rasa gatal dan nafsunya yang memuncak sehingga dia tidak mampu menolak perbuatan Mahmud. Kini ia fokus menggaruk payudaranya, tidak hanya digaruk tapi juga diremas-remas dan memuntir-muntir putingnya sendiri. Dengan leluasa Mahmud menggesek-gesek bagian tubuh yang paling rahasia milik gadis itu. Hampir 5 menit kini liang vagina itu sudah becek dan menimbulkan bunyi kecipak karena gerakan jari-jari Mahmud yang sudah ahli itu.
“aaahh..jgn dilepas..ohh…pak..” jerit Mona saat tangan Mahmud mengangkat tangannya dari vaginanya yg sudah basah itu dan malah “cuman” mengelus-elus pahanya dan meremas pantatnya.
“Kenapa sayang..? kamu mau aku untuk terus mengobok-obok memek kamu..?” tanya Mahmud.
“Ngeh..ngeh..iii yaaa paakk…ouufh..” diantara engahannya
“kamu yakin..??”
“uuhh…ngeh…sssh..” ia hanya mengangguk
“kamu mohon dong sama aku..paaak Mahmud sayang, tolong obok-obok memek saya…please saya mohon”
Mendengar perintah itu, sekejap Mona merasa malu dan marah tapi segera terganti kebutuhan body-nya yang sudah terbakar birahi secara aneh itu. Ia berusaha untuk tidak mengucapkan itu dengan terus menggaruk, tapi ia tidak kuat..
“ouuh..ngeh..Pa..Pak Mahmud sssss….sayaaang, ooh..tol..long obok…obok me…nggeh…memek sayaaaa…pleeeeease…uuuff.. saya mohoooonn…” erang Mona.
“Tentu sayang…”
Lalu dengan sigap jarinya menggerayangi bibir vagina Mona yang becek itu dan menggesek dengan cepat. Mona melenguh penuh nikmat sambil meregangkan badannya, lalu tersentak hebat saat jari itu menusuk masuk dan menemukan klitorisnya
“Haaa..ternyata disitu yaaa…” dengan ahli ia memainkan jari itu pada g-spot tsb yang mengakibatkan Mona mendesah-desah. Gadis itu merasakan terbentuknya sensasi orgasme menanjak naik..
“Oouuhh…ja.nggaannn..” ia berusaha menahan dirinya, tapi gerakan jari Mahmud makin menggila dan terus menggila, ia sudah hampir tidak tahan.

Sambil menggigit bibirnya dan memejamkan matanya ia berusaha menahan klimaksnya, tidak mengira bahwa dirinya dapat dibuat klimaks oleh Mahmud.
“Ouuuuuuhhhhhh….aaaiiiieeeeeeeeeee…..” dengan teriakan panjang Mona mencapai puncaknya dan tubuhnya menggetar keras.

Cairan makin deras membahasai liang vaginanya, ia menikmati setiap detik sensasi luar biasa itu. Tubuhnya makin lemas dan pandangannya nanar. Ia tak mampu menolak saat Mahmud menunduk dan mencium bibirnya yang tipis.
“mmmmmpphhh…..” Mona mengerang dan sulit menolak saat lidah Mahmud memasuki rongga mulutnya dan melilit-lilit lidahnya, bahkan tanpa sadar ia membalas ciuman itu. Sementara tangan Mahmud masih mengocok kencang dan gadis itu merasakan kembali orgasmenya mau menyeruak lagi..apalagi saat ciuman Mahmud berpindah mencium puting kirinya..
“Auukkh..ssttopp..ssssshh…ssshh..” tapi Mona malah membusungkan dadanya mempermudah Mahmud menikmati puting kerasnya.

Kini rasa gatalnya sudah terganti dengan desakan nafu setan yang tidak pernah terpuaskan, tangannya yang bebas dituntun oleh Mahmud ke penisnya di balik sarungnya.
“oouuh..bes..bessar banget ppaakk..” gumam Mona tanpa sadar saat merasakan batang hangat yang berdenyut-denyut dalam genggamannya, ia melirik ke arah batang kemaluan Pak Mahmud yang ternyata lebih besar dibanding milik pacarnya, pikiran nafsunya tanpa sadar membayangkan apakah ia mampu untuk mengulum penis itu dalam mulutnya atau membayangkan bagaimana rasanya bila penis itu menyerang vaginanya. Dengan birahinya yang terus membara dan terus dijaga geloranya oleh Mahmud, Mona dengan suka rela mengocok-ngocok penis raksasa Pak Mahmud itu, ia sudah tidak ingat akan bencinya dia terhadap pria tua berumur 60 tahun itu.

Mahmud mulai mendesah-desah keenakan di antara kulumannya pada kedua puting Mona.
“aaaaaaannggghhhhh…pppaaaakkhh……aaaaaaannggghh…” Mona mencapai klimaks sampai dua kali berturut-turut karena kocokan tangan Mahmud, matanya makin nanar dan bibir seksinya menyeringai seperti menahan sakit.
“Sekarang kamu isep punya bapak yaa..kamu kan jago kalo sama pacar kamu”
“ouuh..ngga ma..mau..ap…aauupphhh..mmmhh..” Mona yang lemas akibat klimaks tadi tak berdaya menolak saat Mahmud menarik lehernya membungkuk ke arah batang “monas” nya, tidak memperdulikan protes Mona yang ia tau hanya pura-pura karena sebenarnya sudah jatuh dalam genggamannya. Kini dengan dengan bibirnya yang seksi dan lidah yang hangat lembut itu mulai mengulum batang kemaluan itu.
“Oooh..enak sayaaang…kamu memang jago..sssshh…kamu suka kan..?” tanyanya
“mmmmmpph…sllluurpp..mmmmmm” hanya itu yang keluar dari mulut Mona, yang dengan semangat memainkan lidahnya menjilati dan menghisap penis Mahmud.

Aroma dan rasa dari penis laki-laki itu telah menyihirnya untuk memberikan sepongan yang paling enak.
“Bapak tau..kamu cuman cewek sombong yang sebenarnya punya jiwa murahan dan pelacur…plaakk..!!”
Mona tersentak saat pantat bulatnya ditepak oleh Mahmud, mukanya merah dan marah tapi sebenarnya malah membuat dia makin terangsang dan makin cepat ia mem-blow job penis Mahmud. Belum pernah ia merasakan birahinya dibangkitkan dengan cara kasar ini, tapi ia tau bahwa ia sangat menikmatinya.

“Kurang ajar nih aki-aki” gerutunya dalam hati dan ia menggigit gemas ke penis Mahmud yng membuatnya itu mengelinjang dan lidahnya makin cepat menyapu urat di bawah penis itu.
“Ayo..sekarang kamu naikin penis aku..”
Tanpa berucap Mona mulai menaiki ke atas tubuh tambun Mahmud, dengan deg-degan menanti penis besar itu ia menurunkan pinggulnya dengan dibantu tangan Mahmud yang memegang pinggangnya yang ramping.

“Ooooh..” Mona mengerang saat ujung “helm” penis itu bersentuhan dengan bibir vaginanya dan mulai memasuki liang surga. Kembali ia mengerang menahan sedikit sakit saat baru masuk sedikit, liang vaginanya berusaha mengimbangi diameter penis Mahmud itu.
“Enak kan sayang?”
“Hmmmmm…nggh…” Mona hanya mengerang dan memjamkan mata menunggu penis itu membenam ke dalam vaginanya. Tapi Mahmud hanya menggesek-gesek liang vagina Mona itu dengan ujung kepala “meriamnya”. Gadis itu menggoyang-goyang pinggul seksinya dan berusaha menurunkan badannya, tapi Mahmud tetap menahan pinggulnya sehingga tetap belum dapat “menunggangi” penis Mahmud.
“Hemmm…kenapa sayang? Udah ga sabar yaa ngerasain kontol bapak?”
“Huuh?..nggeeeh…aa..paahh…” Mona ngga tau harus ngomong apa, masih tersisa gengsi pada dirinya.
“Hehehe..masih sok alim uuh..kamu ya..? Kalo kamu mau kontol bapak, kamu harus memohon dengan mengaku diri kamu itu cuman perek murahan dan lakukan dengan seksi..”
“aaahh…sssh..kenapa mes..ti gitu paakk…pleaaase…” Mona sudah benar-benar terangsang dan tidak bisa berfikir jernih lagi, dalam pikirannya kini hanya penis Mahmud saja.
Mahmud mendengus dan seperti hendak memindahkan tubuh Mona di atasanya, merasa perbuatan itu.
“Oouuh ooke..okeeh paaak…ngeh, tega bgt sih bapak…oouf paak, tolong masukin kontol ba..ngeehh..bapak ke memekku paak, entotin sayaaa ooh paakk…akkuu..memang cewe murahan yang sok suci..nggeh..pleease..paakk..akuuu mohooon…” pinta Mona memelas sambil meremas-remas kedua payudaranya.
“Hehehehe…kamu tergila-gila ya sama kontol bapak..”
“Iyaa ppaakkh…please..aku ga tahaaan paakk…”
“Kontol pacar kamu ga ada apa-apanya kan?”
“oouuh..jauuh pakkk..punya bapak lebih hebaat dan enaaaakk”
“Hehehe..good…ini dia hadiahnya..”
Mahmud lalu menarik ke atas tubuh Mona dan menurunkannya kembali, dengan diiringi erangan Mona merasakan penis itu makin dalam masuknya dan sulit ia menahan diri untuk tidak klimaks yang keempat kalinya. Mona kembali menaikkan badannya dan menurunkan kembali sehingga sudah ¾ penis itu diemut vaginanya. Gerakannya diulangi berkali-kali, awalnya perlahan tapi makin lama makin cepat karena vaginanya sudah bisa “menerima” penis berukuran di atas rata-rata itu. Gadis itu sudah benar-benar dikuasai nafsu birahinya dan ia merasa terbang ke awang-awang merasakan gesekan-gesekan penis Mahmud dengan dinding vaginanya. Tidak sampai 5 menit Mona sudah merasakan akan keluar lagi.
“Ouuh..gilaaa..paaakkh..oouuuhhhhhhhhh..” Mona mencapai klimaksnya lagi dan ia terus bergerak naik turun menunggangi penis yang masih perkasa itu.

Buah dadanya yang besar menggantung itu bergerak naik turun mengikuti irama gerakan badannya, dengan nikmat Mahmud meraup gumpalan daging kenyal itu dan meremas-remasnya dengan gemas. Dengan liar ia terus menunggangi penis itu, diiring dengan bunyi “plok..plok..plok..plok..” yang makin cepat akibat beradunya badan Mona dengan perut buncit Mahmud. Hampir 15 menit Mona menikmati hunjaman-hujaman penis itu, dalam periode itu Mona sudah mencapai orgasme sampai 4x lagi, ia tidak dapat menahan untuk tidak melenguh dan berteriak nikmat. Pikirannya sulit untuk fokus bahwa ia telah dibuat klimaks oleh seorang laki-laki yang pantas jadi ayahnya. Ia merasa lemah sekali akan nafsu yang menguasainya, tapi sungguh terasa nikmat sekali yang tidak mampu ditolaknya. Mahmud juga sudah hampir mencapai puncaknya, penisnya telah mengeras sampai maksimal dah hal ini juga dirasakan oleh Mona, ia mempercepat gerakan naik turunnya yang menyebabkan buah dada montoknya bouncing naik turun makin cepat.
“Uuuaaahh…gilaaaaa…ooouuuhhh…” akhirnya Mahmud tidak dpt menahan lagi, spermanya muncrat seiring dengan klimaksnya yang ternyata berbarengan dengan klimaks yang sangat kuat dari Mona.

Mahmud merasakan dinding vagina Mona yang hangat itu bergetar menambah kenikmatan klimaksnya. Dengan lunglai Mona turun dari tunggangannya dan rebah di samping Pak Mahmud yang juga masih merem melek habis menikmati tubuh gadis cantik dan sexy itu.
“Kamu memang hebat hebat cantik…”
“Cukup pak..ngeh, aku ga tau kenapa bisa kaya gini tadi..ini harusnya gak terjadi, cukup sekali ini terjadi” Mona yang sudah mulai jernih pikirannya, ia kini sangat menyesali bahwa ia menyerahkan dirinya secara sukarela kepada Mahmud. Ia memutuskan untuk pindah kost dan kejadian tadi harus dikubur dalam-dalam, tidak boleh ada yang tahu.
Melihat Mona yang mulai membereskan bajunya dan hendak pergi, Mahmud bergerak cepat. Ia memegang leher belakang Mona yang sedang membungkuk hendak mengambil cdnya lalu dengan cepat membenturkannya ke meja kayu yang ada di depan mereka duduk.
“uuuugghhh….” kerasnya benturan itu membuat ia setengah pingsan.
“hehehe..ga secepat itu sayang..kamu akan jadi milikku..” Mahmud lalu menarik tangan Mona dan gadis itu pasrah saja dibawa dengan setengah sadar masuk ke kamar Mahmud. Lalu setelah melepas sisa bajunya, ia merebahkan tubuh telanjang yang masih lemas itu ke atas ranjangnya. Lalu ia mengikat kedua pegelangan kaki dan pergelangan tangan Mona ke ujung ranjang besi, sehingga kini tubuh telanjangnya itu dalam posisi kaki yang mengangkang lebar.
“uuuh..apa-apaan inih…lepasin paak…”dengan suara masih serak dan lemah Mona berontak dengan percuma, ia mulai takut apa yang hendak dilakukan.

Melihat posisi dan kondisi Mona yang menggairahkan itu, Mahmud tidak tahan lagi ia membungkuk lalu menciumi payudara montok dan memainkan lidahnya mengecupi puting Mona yang sebentar saja langsung mengeras.
“Ouuh..pak..! lepasin saya pak…kalo ngga sa…aauupphh…mmbbllllmmmmm…” Mona tidak dapat melanjuntukan omongannya karena ditutup lakban oleh Mahmud.

Kini kesadaran Mona sudah mulai pulih, ia masih terus berusaha memberontak untuk melepaskan ikatan kaki dan tangannya tapi ikatan itu sungguh kuat. Ia mulai takut karena kini ia tidak berdaya dan berada dlm kekuasaan Mahmud. Pandangan matanya mengikuti Mahmud seperti mata kelinci yang sedang ketakutan melihat serigala yang akan memangsa, dan air matanya mulai meleleh di pipinya.
“Eeeiih..kenapa nangis cantik? Aku paling ga suka liat cewe nangis…tapi sekarang kita liat film dulu ya…”ujar Mahmud sambil memasang kabel menghubungkan dari handycam ke tv. Lalu ia mulai menyetelnya.

Mata Mona terbelalak kaget saat melihat tayangan video di layar tv, jantungnya serasa akan copot dan kepalanya tiba-tiba pusing mendadak melihat adegan per adegan dari video itu. Ternyata kejadian di sofa ruang tengah tadi semuanya direkam oleh Mahmud dari tempat tersembunyi, terlihat jelas saat ia melihat dirinya mulai merasakan gatal yang menyerang, mulai mencopoti bajunya dan sampai kejadian dia berhubungan sex dengan Mahmud. Perasaannya makin hancur saat ternyata Mahmud tidak hanya merekam dari 1 sudut saja, terdapat 4 handicam tersembunyi yang merekam seluruh kejadian. Bahkan saat ia memohon kepada Mahmud untuk mengobok-obok vaginanya dan pengakuan dia sebagai cewek murahan juga terdengar jelas. Wajah gadis yang cantik itu jadi pucat dan tubuhnya bergetar, ia sudah menduga apa yang akan diminta oleh Mahmud dengan adanya video itu. Perasaannya geram, marah, benci, takut dan lain-lain bercampur aduk, kini ia hanya dapat menangis. Terlihat jelas bagaimana wajahnya menunjukkan dirinya menikmati setiap detik permainan panas itu dengan aki-aki tambun yang sudah tua.
“Percuma kau menangis..kini kamu akan merasakan akibatnya karena selama ini menjadi cewek sombong yang sok suci. Bapak tau apa yang kamu lakukan sama pacar kamu selama ini, nah..sekarang kamu harus nurut apa yang bapak mau, kalo ngga bapak jamin film ini akan nyebar kemana-mana, kamu ngerti…??” tegas Mahmud.
Mona hanya mengangguk lemah dengan pandangan sayu.
“Sekarang yang aku minta kamu tidak boleh nangis selama kamu melayani saya..bisa..?? kalo tetap nangis kamu akan terima hukuman yang berat..”
Kembali Mona hanya mengangguk dan berusaha menahan air matanya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa akan ada jalan keluar nantinya. Tanpa sadar ia membayangkan kejadian tadi, dan ia teringat akan ukuran penis Pak Mahmud yang memang di atas rata-rata. Dengan pikiran itu tanpa dapat dicegah terasa desiran-desiran halus di perutnya dan ia merasa putingnya agak mengeras.

“Sayang…yang punya penis si Mahmud anjing itu..” pikirnya.
Mona melotot kaget saat Mahmud mengambil sesuatu dari lemari yang ternyata merupakan dildo vibrator yang berukuran panjang.

Mahmud kini duduk di ranjang di dekat kakinya yang ngangkang itu, memperlihatkan vaginanya yang terbuka menantang, lalu ia mengusap dengan tangannya yang mengakibatkan Mona terhentak.
“Kayanya udah basah nih..udah siap yah..” goda Mahmud, lalu ia membungkuk dan wajahnya kini sudah di depan liang surga milik gadis cantik itu, tiba-tiba Mona menggelinjang saat lidah Mahmud menciumi dan menjilati vaginanya. Untuk beberapa saat Mona menggelinjang-gelinjang, nafasnya kembali memburu dan pandangan matanya sayu.
“Ngggeehhhhhhhh…!” Mona menjerit dengan mulutnya yang tertutup lakban, saat Mahmud memasukkan dildo ke dalam lubang kemaluannya yang sudah basah dan ngilu itu dan terus mengerang karena dildonya makin dalam ditusukkannya. Kembali ia menggelinjang hebat saat Mahmud menyalakan vibartornyanya. Terasa sakit, tapi setelah beberapa menit rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang tergantikan dengan sensasi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan atau pernah ia bayangkan. Kini erangannya terdengar seperti rintihan kenikmatan diiringi dengusan nafasnya yang memburu.
Mona melenguh panjang dan pelan, merasakan tubuhnya makin panas dan terangsang. Rasa menggelitik di perut bag bawah makin menggila dan menggelora. Dengan rasa malu dan kaget, ia mencapai klimaksnya dengan sensasi yang luar biasa..”
“nngggggghhhhh…mmmmmmmmmmhhhhh…..!!!!” Tubuh montoknya menegang sesaat ketika klimaksnya menyerang, pandangan matanya makin sayu. Tapi dildo itu tetap bergetar seperti mengoyak-ngoyak bag dalam vaginanya, dan rasa nikmat kembali dirasakan makin meningkat, nafasnya memburu dan kini pikirannya sudah tidak terkontrol, nafsu birahinya terus membara karena dildo itu.
“Naah..kamu seneng aja ya ditemenin ama dildo bapak ya…tenang aja, getarannya akan makin keras kok udah saya setting dan bapak colokin ke listrik..hehehe..bapak mau bikin back up untuk film kamu tadi ya..” kata Mahmud, ia hanya ketawa melihat Mona memandangnya dengan tubuh telanjangnya yang menggeliat-geliat, tubuh montok yang tampak berkilat karena keringat
Mahmud makin tertawa karena Mona mengerang lagi karena telah orgasme untuk kesekian kalinya, lalu ia meninggalkan Mona yang terus mengerang-erang karena getaran dildo itu. Tidak terhitung berapa kali Mona dipaksa untuk orgasme, tubuhnya mengkilat karena basah oleh peluhnya, gadis itu merasa lemas sekali tapi dildo yang menancap di vaginanya memaksa dia untuk terus dirangsang. Akhirnya karena tidak kuat lagi, gadis malang itu jatuh pingsan.

Anggie 3: Budak Seks

Posted May 17, 2010 by sigadisseksi
Categories: kisah seks

Sudah dua minggu itil ku di pasangi gembok oleh mas Hari dan mas Mantri..aku demikian takut kalau kalau mas Aries tahu keadaan ku.. Aku terus memohon kepada mas Hari dan Mas Mantri untuk melepaskan gembok itu. Sementara itu setiap mas Aries mengajak bermesraan saya selalu menolak dengan alasan yang beragam. Saya sangat takut mas Aries sampai melihat ada gembok yang ter tindik di itil ku, apa lagi yang pegang kuncinya ternyata orang lain.

Hari itu mas Aries sedang libur dan sedang berada di rumah. Tiba tiba telepon berbunyi, mas Aries yang mengangkat, tidak berapa lama “Anggie, kamu masak apa hari ini .. buat untuk empat orang ya…”kata mas Aries..”buat siapa mas? siapa yang mau datang?” kata ku khawatir…”Hari sama Mantri mau mampir.. Sudah lama mereka tidak main kesini” mendengar itu jantungku  langsung seperti copot “memang jarang main sama mas Aries tapi sering mempermainkan istrimu mas…”

Aku pun menuruti dengan memasak 2 porsi lebih banyak… dan jantungku berdegub kencang… tapi anehnya ada suatu rasa yang aneh juga menghinggapi diri ku…Tidak berapa lama bel apartement kami berbunyi. “Anggie tolong dibuka pintunya… saya sedang pakai baju” kata mas Aries. Aku segera membuka pintu apartement…”wahhh nyonya rumah sudah nggak sabar ketemu kita kayanya…”kata mas Mantri begitu pintu di buka.”mas apa apaan sih…jangan keras keras nanti mas Aries dengar”kataku sambil sedikit marah.”mumpung suami mu di kamar buka pakaian dalam kamu”kata mas Hari dengan suara seramnya sambil menunjukan dua buah benda yaitu sebuah DVD dan kunci gembok… aku  tahu maksudnya.”mas tolong jangan….”.”sudah lakukan saja sebelum suami kamu keluar..atau…”katanya lagi sambil mengacungkan kembali kedua buah benda tadi. aku pun dengan rasa sangat khawatir melepaskan bra dan celana dalam ku tanpa melepas pakain luarku yang berbentuk terusan pendek dan berbahan sedikit tipis..aku melepaskannya cepat2 takut jika tiba tiba mas Aries keluar. Dan mas Mantri merebutnya dari tangan ku dan memasukannya di dalam tas kecil yang dibawanya. Tidak berapa lama mas Aries keluar dari kamar dan mereka langsung mengobrol. Sementara saya segera masuk dapur untuk menyiapkan makan malam buat mereka semua.”mas Aries kok mbak Anggie kelihatan makin seksi ya…”celetuk mas Mantri yang membuat darah ku terasa mendesir..”ah bisa aja mas Mantri..gini nih kalau lama nggak ketemu istri sendiri semua wanita dianggap seksi” jawab mas Aries.. mungkin dia hanya menganggap celetukan itu  hanya gurauan tapi tidak bagi ku.. Dengan perasaan yang gamang saya masuk dapur mengingat sekarang saya hanya mengenakan pakaian luar yang sedikit pendek, tanpa pakaian dalam.

Kemudian saya langsung menyiapkan  makan malam kami… Saat makan aku duduk bersebelahan dengan mas Aries sedang mas Mantri di depan ku bersebelahan dengan mas Hari. Saat sedang menghirup soup hampir saya tersedak. Saya merasakan sesuatu menyusup diselangkangan ku yang tanpa celana dalam. Ternyata itu adalah jempol kaki mas Mantri. Dengan mata melotot saya memberi isyarat protes kepada mas Mantri, tapi dia juga nggak kalah sigap dengan sedikit isyarat kepada mas Hari, maka mas Hari mengeluarkan kunci gembok itil ku, memainkan sedikit kemudian mengantongkannya lagi. Itu merupakan isyarat yg jelas bagi ku….”kunci apaan tuh mas Hari.. kecil amat kuncinya, kaya kunci mainan” kata mas Aries ” oh… ini emang kunci mainan kok… kunci ini buat mengendalikan mainan kami..”kata mas Hari dingin. Saya langsung terdiam… dan ibu jari mas Mantri pun bermain main dengan leluasa di vagina ku. Dengan sedikit isyarat dia melebarkan kaki ku… dan mulai memainkan kemaluan ku…. heran dimana dia belajar memainkan vagina dengan kaki,… tapi rasanya nikamt sekali… sehingga tanpa sadar tiba tiba saya melenguh…”engghhhh..” Mas Aries tampak terkejut… “kenapa kamu Anggie..” aku sedikit gelagapan mendengar pertanyaan itu….”hmmm ini mas soupnya…”. ” wah, Mbak Anggie keenakan ya…” kata mas Mantri… Saya tahu maksud sindirannya sehinggak semakin tidak bisa berbicara..

“hmm soup bikinan kamu emang enak kok gie..benerkan mas Mantri, mas Hari?” kata mas Aries.”yaaa….betulll…”kata mereka serempak.saya tahu benar maksud mereka. Kalau saja ada yang memperhatikan, wajahku sudah sangat merah menahan malu.

Setelah makan malam mereka beranjak keruang keluarga yang merangkap ruang tamu ku. Mas Hari aku lihat mengeluarkan sebuah botol Soju minuman keras Khas Korea. “mas aries kamu jangan ikut minum ya..”kata ku tidak setuju kalau mereka minum minum.”wah nggak apa lah mbak Anggie dikit ajaa…”kata mas Mantri.”iya sedikit saja …ini Soju nomor satu loh sayang kalau nggak diminum …”timpal mas Hari. “sedikt saja honey..”kata mas Aries seolah memohon persetujuan…”baik sedikit saja…”kataku masih dengan rasa yang sedikit mengganjal sebenarnya.

Setelah itu aku bergegas ke Dapur untuk merapih kan dapur. Sambil merapikan dapur saya terus merenung memikirkan keadaan saya yang telah jadi budak sex mas Mantri dan mas Hari. Bahkan saat ini ketika ada mas Ariesta di Apartemenku sendiri aku sudah tidak memakai pakaian dalam atas perintah mereka. Tiba tiba aku merasakan sesuatu menyusup kedalam rok ku dan menyentuh itil ku. Diriku benar benar tersentak. Ternyata itu tangan mas Mantri.”mas apa apaan ini, bagaimana kalau mas Aries tahu…” kata ku..”sudah tenang saja mas Aries mu sedang asik di cekoki Hari” jawab Mantri kalem. saya terus berontak tapi kini malah tangan kirinya ikut menyusup kedadaku.”jangan terus berontak nanti malah jadi perhatian mas Ariesmu..”katanya, aku langsung berhenti berontak mendengar kata kata itu…

Dari belakang tangan mas Mantri mulai mempermainkan puting ku..meremas remas buah dadaku.. sedang tangan kanannya menyelusup kedalam celah vagina ku, mempermainkan lubang kencing dan itil ku yang tergantung gembok kecil… ”shhhhh ahhh….”aku mulai mendesah..kurasakan vaginaku mulai basah….aku benar benar takut mas Aries mendengar desahanku dan menghampiri diri ku di dapur.

Mas mantri mulai menyibak pakaianku…membalikan diriku sehingga menghadap dirinya, dia mulai berani melumat bibirku…dan menarik keatas pakaian ku..dan muali kembali meremas2 buah dada ku…dengan sekali2 memilin milin puting ku….dan akhirnya mulutnya mulai bermain di puting ku sedang tangannya beralih ke vagina ku dan memainkan gembok di itil ku…”aghhhhh… masss…” aku mendesah pelan sekali seperti berbisik… takut di pergoki mas Aries. Mas Mantri membalik kembali tubuh ku hingga membelakanginya, dan bertumpu pada meja dapur dan ….sleppp… dia memasukan Penisnya ke Vagina ku…”enghhh..enak masss…” kata ku tanpa sadar… sambil menggenjot diriku tangannya meraba dan meremas2 buah dada ku.. rasanya nikmatt sekali… aku takut di pergoki suami ku tapi anehnya justru itu semakin membuatku bergairah di perlakukan seperti ini…pakaianku sudah berantakan letaknya bagian bawahnya sudah tersibak hingga ke atas.. sedangkan bagian bawahnya terbuka sebagian mengekspos dadaku yang kenyal…

Akhirnya aku sudah seperti tidak sadar dan mulai ikut bergoyang mengikuti irama goyangan mas Mantri, hingga, “masssss…aughtttttt….aku keluar…..” dan saat yang hampir bersamaan mas Mantri juga semakin kencang memompa… saya tahu dia juga hampir klimaks…dan tiba tiba dia merengkuh diriku kuat kuat dan crot crot…. dia klimaks di dalam vagina ku….

“ah.. benar benar nikmat… hari ini kamu penurut sekali”kata mas Mantri. Aku seolah tersadar segera berdiri dan merapikan bajuku..dan hendak mengambil tissue untuk mengelap sperma yang mengalir keluar dari selakangan ku.. tapi tiba tiba”Jangan…. tidak usah di lap…”aku menoleh karena terkejut….itu suara mas Hari… sejak kapan dia ada di sini… terus, mas Aries dimana….

“Suami mu sudah tidur..soju nya tadi aku campur obat tidur….sekarang saatnya kita bermain…”katanya seolah menjawab pertanyaan ku tadi…tapi aku bukannya tenang malah semakin gemetaran…”baju kamu berantakan…lepas saja…pakai ini saja…” katanya mas Mantri sambil melemparkan celemek yang biasa di pergunakan untuk memasak. Aku benar benar terperangah… mereka sekarang benar benar gila….dirumah ku sendiri.. saat ada mas Aries… bahkan mas aries pun mereka kerjai….Aku tidak sanggup menahan tangis ku…aku hanya memandang celemek yang mereka berikan.. jika harus aku kenakan celemek itu begitu kecil….hanya menutupi sedikit bagian depan tubuh ku, bahkan tidak bisa untuk menutupi ke dua buah dada ku yang sedikit besar…sedang dibagian bawah juga sangat pendek…dan terutama bagian belakang terbuka seluruhnya hanya sedikit tali di pingang dan leher…Tiba tiba plakkk… pipiku terasa sangat panas di tampar oleh mas Hari.. aku sedemikian terkejutnya sehingga mata ku berkunang kunang… “pakai kalau nggak saya gampar lagi mau…? “. bentaknya dengan suaranya yang menyeramkan.. aku pun bergegas melepas pakaian ku dan mengenakan celemek itu…”sekarang buatkan kami teh … saya tidak pakai gula sedang Mantri pakai gula” katanya..”Kami tunggu di ruang tamu..” kata mas Mantri “tidak usah khawatir suamimu sudah tidur..” setelah berbicara seperti itu mereka pun pergi meninggalkan saya di dapur seorang diri dengan tubuh yang gemetaran memikirkan keadaan diriku sementara suamiku walau dalam keadaan terbius ada juga disana.

Kemudian saya membuatkan mereka teh di cangkir dan membawanya kemereka di ruang tamu dengan tubuhku yang hampir bugil dan sedang gemetaran…aku melirik ke sofa kami dan kulihat suami ku tertidur pulas dengan wajahnya yang seperti tanpa dosa dan sebelah kakinya terjuntai kebawah..air mata menetes di pipi ku “maafkan aku mas…”

Aku menaruh kedua cangkir di hadapan mereka “yang mana punya saya”kata mas Hari..”yang kiri punya mas Hari yang kanan punya mas Mantri” kataku..plakkkk..tiba tiba sekali lagi mas Hari menamparku. Aku demikian terkejut sehingga jatuh terjengkang kebelakang..”panggil saya Tuan Hari..dan ini tuan Mantri… Jangan coba coba kurang ajar ya…” aku langsung menangis tapi Mas Hari hampir saja menamparku lagi…”jangan menangis kalau tidak mau saya tampar “katanya..Kemudian dia mengeluarkan dua buah anting anting yang masing masingnya memiliki bel kecil..dia menarik putingku dan memasangkan anting anting itu di puting ku. Aku lihat mas Mantri mengeluarkan handycam dan merekam kami..

Mas Hari mengeluarkan seutas tali dari tasnya dan mulai mengikat diriku sedemikian rupa sehingga bahkan buah dadaku terijepit tali itu sehingga menjadi mencuat dan dia juga mengikat tangan ku siku bertemu siku lalu rambut ku juga diikat dan di tarik kebelakang dan disatukan dengan tanganku sehingga wajah ku menghadap keatas… rasanya sangat sakit..kemudian sebatang tongkat diselipkan di belakang lututku dan kakiku diikat sedemikan rupa sehingga menjadi mengangkang dan terlipat kebelakang.tumitku disatukan dengan pangkal paha ku menggunakan tali di belakang lutut di selipakan sebatang tongkat dari pipa. “akhh Tuan Hari sakittt..” mendengar itu dia malah marah dan mendorongku jatuh sehingga saat ini diriku menjadi menungging dengan kepala yang tertengadah. “sakiiiitt…”aku melenguh..dia kemudian mengambil sebuah pipa lagi yang lebih pendek sepanjang 20 senti dan menyelipkan di mulutku yang dipaksanya untuk menggigit pipa kecil itu..dan kemudian dia mengikatnya ke belakang kepalaku persis seperti tali kekang kuda..

Kemudian dia tersenyum puas memandang ‘hasil karyanya’ kemudian aku lihat dia mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya dan ternyata itu adalah penjepit kertas atau binder kertas dari logam..melihat itu aku haya isa melotot ketakutan dan….”akhhhkkkk hakkiiiikk” aku memekik ketika bibir sebelah kiriku dijepitnya… dan sekali lagi ‘akkkkhhkkk” aku kembali memekik ketika dia menjepit yang sebelah kanannya… Kemudian ketika aku sudah berkelojotan…dia seperti memandang puas…dan ketika rasa sakit mulai hilang tiba tiba cetarrrr…. pantatku terasa sangat panas ternyata dia mencambuk pantatku dengan menggunakan sisa tali yang ada…air mataku mulai meleleh kali ini karena rasa sakit yg luar biasa.ctarrrr..ctarrr…ctarrrr

Ketika aku sudah sangat kesakitan di tiba tiba mas Hari menghentikan cambukannya..tiba tiba pantat ku terasa dingin ternyata mas Hari sedang menyiram pantatku dengan semacam minyak licin yang dingin..Dia berputar ke depan dan memperlihatkan aku sesuatu yang membuat diriku bergidik…sebuah tongkat dari karet sepanjang 20 senti yang bentuknya seperti kumpulan beberapa buah bola dari yang ujung paling kecil sebesar kelereng sampai dipangkalnya sebesar bola bekel. Aku langsung tahu niatnya dan…”akhhhh…” ternyata dia memasukannya kedalam anusku sampai hampir habis dan menariknya kembali terus berulang ulang…anehnya itu justru membuat sensasi aneh di diriku… walau sebenarnya sangat sakit. Kemudian dia mendiamkan tongkat karet itu sehingga tingak tersisa bonggol terakhirnya..

aku melirik kulihat mas Aries masih tertidur..wajahnya terlihat seperti tak ber dosa.. maafkan aku mas..

Mas Hari melepaskan ikatan rambut ke tangan ku, membalikan diriku sehingga terlentang, melepaskan ikatan di kakiku dan mencabut pipa yang terpasang di sela sela belakang lutut ku dan merubah ikatannya sedemikian rupa sehingga saat ini mengangkang lebar memperlihat vagina ku. Kemudian dia mengangkat diriku dan meletakan diriku diatas meja tamu kami yang lebar. Aku melihat mas Hari mengeluarkan sebuah benda terbuat dari logam berbentuk selinder sepanjang 20 cm dengan diameter 6 cm, yang ternyata adalah sebuah vibrator…. dia kemudian menempelkan vibrator itu di kemaluan saya… seolah saya tersengat kenikmatan….”ekkkhhhhhh…” saya benar benar terguncang ternyata itu baru permulaan. mas hari kemudian memasukan vibrator itu kedalam vagina saya …. vibrator itu bergetar di dalam vagina saya dan memberi rangsangan hebat yang luar biasa.”akhhhhh…” saya melenguh hanya itu yang dapat keluar dari mulut saya yang diselipkan sebatang pipa…. saya melihat secara samar samar  mas Mantri yang sedang mengambil gambar saya dengan menggunakan handy cam… dan mas Hari yang memandang saya dengan tersenyum…saya tidak dapat membayangkan jika tiba tiba mas Aries bangun.

“akhhhhh..” kali ini saya benar  benar mencapai kelimaks ….bukan hanya vagina saya yang bergetar tapi seluruh tubuh saya berguncang hebat … mas Hari dan mas Mantri tertawa… suara ku demikian kerasnya sehingga tampaknya menggangu tidur mas Aries, dia bergerak sedikit dari tidurnya dan melenguh kemudian kembali tertidur..Aku benar benar gemetaran ketakutan ketika itu terjadi…

Mas Hari tiba tiba mencabut vibrator itu dan kemudian menutup mata saya dengan penutup mata yang biasa aku gunakan kalau mau tidur. Aku benar benar buta sekarang dan sangat ketakutan karena tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba tiba “akhhh…” aku hampir berteriak ketika pnjepit yang sedari tadi ada di bibir vagina ku tiba tiba di tarik lepas tanpa di renggangkan dahulu dan”akhhhh…” kembali yang sebelahnya di tarik.. nafasku memburu jantungku berdetak kencang menduga duga apalagi yang akan aku alami… begitu memburunya nafasku sampai sampai bel kecil di puting ku berbunyi karena dadaku terguncang guncang. Aku merasakan buah dadaku diremas kencang sehingga terasa sakit kemudian aku merasakan sebuah benda hangat basah menelsuri tubuhku mulai dari dada kemudian turun keperut ternyata itu adalah lidah seseorang yang aku tidak tahu apakah itu lidah mas Hari atau mas Mantri…. kemudian saya merasakan orang itu memasukan penisnya dan memompa penis itu kuat kuat sehingga aku terguncang guncag menyebabkan bel kembali berbunyi di kedua putingku. orgasme kembali terjadi aku benar benar menikmatinya kali ini mereka melakukannya dengan sedikit berbeda penis itu terasa lebih nikmat dari sebelumnya…. tidak berapa lama orang itu mencapai klimaksnya dan crottt…crottt… membasahi wajah ku yang tertutup bagian matanya….kemudian beberapa saat segalanya menjadi sunyi.. aku merasakan semua ikatan ku dilepas dan penyumpal mulut ke juga dilepas..begitu juga tongkat karet aneh di pantatku… tubuh ku tiba terasa dibalikan dan dipaksa menungging dan ‘akhhhhh …. ” aku merasakan ada yang menyetubuhi dari belakang ….dia begitu kasarnya memompa diriku sehingga diriku terasa terguncang guncang… aku merintih dan melenguh hampir diluar sadar ku dan tiba tiba saja penutup mata ku di lepaskan… aku begitu terkejut ketika mendapati wajahku begitu dekatnya, hanya berjarak satu jengkal dengan wajah suami ku yang tertidur di sofa…. padahal tadi lenguhan dan eranganku begitu kerasnya… aku kembali menagis…

Saya baru menyadari ternyata yang sedang menyetubuhiku adalah mas Mantri… dia memompa diriku demikian kerasnya sehingga hampir hampir wajahku menabrak wajah suamiku yang tertidur pulas… akhirnya crotttt crott…. mas Mantri berejakulasi di atas punggungku…

Aku kemudian terbaring lemah demikian juga kulihat mas Mantri…..:”Suami kamu masih lama baru bangun sebaiknya kita jalan jalan dulu” kata Mas hari…sambil menendang pantat ku …aku hendak protes  tapi..”jangan banyak macam kamu apa kamu pilih saya bangunkan suami kamu” katanya.. aku pun bangun

Aku lihat mas Mantri juga sudah mengenakan pakaiannya mereka memberikan aku jubah ku…yang panjangnya hanya sedikit diatas lutut dan tanpa kancing hanya ada tali pinggang… aku sudah mulai terbiasa berjalan ke tempat umum dengan pakain ini … tapi kali ini ada yang lain.. mereka memberikan ku celana dalam ku… aku sedikit terkejut dan terbesit rasa gembira bahwa mereka mengizinkan ku mengenakan celana dalam.. tapi ternyata kegembiraanku hanya sesaat… ternyata mas Mantri kemudian memasukan vibrator logam tadi kedalam vagina ku ….dan celana dalam itu hanya menjaga agar vibrator itu tidak terjatuh…. tapi vibrator itu berukuran cukup besar sehingga menyebabkan vaginaku penuh…mas Hri mencoba menyalakan vibrator itu menggunakan remote yang dibawanya….ternyata vibrator itu bisa dinyalakan dengan remote… dia menyuruh ku berdiri dengan jarak lima meter… dan akhhh aku terhenyak kaget dan beguncang ketika vibrator itu bergetar dalam vaginaku… kemudian dia mematikannya kembali dan menyalakannya kembali terus begitu…. beberapakali sampai akhirnya dia benar benar mematikannya

Anggie 2: Pelecehan pun Berlanjut

Posted May 17, 2010 by sigadisseksi
Categories: kisah seks

ANGGIE  . . .

Semenjak kejadian pertama, ketika mas Hari dan mas Mantri memperkosa saya, sudah beberapa kali mereka mengulangnya. Setiap kali melakukan mereka selalu mengerjai saya dengan cara cara yang belum pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya. Dan yang paling aneh mereka seolah tahu jadwal tugas luar mas Aries suami ku. Mereka selalu merekam setiap mereka menyetubuhi diriku. Diriku sebenarnya merasa sangat terhina atas perlakuan mereka tapi yang aneh saya juga selalu menikmatinya. Mereka selalu menggunakan hasil rekaman kamera itu untuk mengancam saya.

Mas Aries suamiku tidak pernah mengetahui bahwa istrinya sekarang telah menjadi budak seks para cleaning service itu, malah dia masih suka mengundang mereka datang ke apartement kami. Namun sebuah kejadian telah membuat saya sangat ketakutan.

Hari itu mas Aries sedang tugas ke kota Busan, dan baru kembali 3 hari lagi. Seperti sudah saya duga sebelumnya, sore sore sekali setelah jam kerja kedua orang itu menelpon.”Anggie..” sekarang mas Mantri memanggil nama saya dengan nama saja tanpa embel embel mbak seperti sebelumnya. “Kami mau datang kesana, tolong kamu bersiap pakai mantel kamu.. jangan pakai apa apa lagi, kita jalan jalan….” segera aku hendak memprotes, tapi…”Jangan bantah kalau tidak mau rekaman kamu saya putarkan didepan suami kamu, dan setelah itu kami sebar di internet” mulut ku segera terkunci aku pun melepas pakaian ku, mengenakan mantel ku dan duduk di ruang tamu menuggu kedatangan mereka dengan perasaan yang campur aduk… terhina, malu, tapi juga ada gejolak rasa aneh yang menggelora.

Tidak berapa lama bel pintu apartement saya berbunyi. Saya membukakan pintunya, ” wah kamu cantik sekali …dasar cewe’ nggak punya urat malu hahahahaha…” sambil berkata gitu tangan mas Mantri merogoh ke pantat saya yang tidak mengenakan apa apa dibalik mantel. Saya benar2 terhina..

Kemudian mereka mengajak saya pergi, di sepanjang jalan orang banyak menatap saya sebab mantel yang saya gunakan sedikt pendek dengan bagian bawah yang mengembang. sehingga terkadang jika sebuah kendaraan yang melintas dekat saya atau ada angin nakal maka mantel itu akan mengembang dan memperlihatkan bagian bawah saya yang telanjang. Beberapa kali hal itu terjadi saya selalu berusaha menutupi dengan menekan mantel saya dengan tangan, tapi mas Mantri tidak membiarkanya, dia selalu sigap menangkap tangan saya. Ternyata mereka membawa saya kesebuah kawasan yang bisa dianggap cukup rawan di kota itu. Kami memasuki sebuah tempat yang ternyata adalah tempat yang melayani pembuatan tatto dan tindik.

Kemudian mas Hari yang berwajah seperti Tukul tapi tidak lucu itu terlihat berbicara dengan bahasa Korea dengan pemilik tempat itu, walau cuma cleaning service mas Hari memang sudah jauh lebih lama tinggal di Korea dibanding saya selain tempatnya bekerja memaksanya harus bisa bahasa Korea. Terlihat beberapa kali pemilik tempat itu milirik kearah saya kemudian terkekeh.

Ternyata mereka menghendaki saya di tindik. Kontan saya menolak “bagaimana mungkin….gimana kalau mas Aries tahu…” kata saya.”kalau gitu kita tindik di tempat yang tidak bisa dilihat dia..” “kamu harus mau kalau nggak saya putar cd kamu, apa kamu mau..” mas Hari berkata, suaranya sangat menyeramkan saya menjadi ketakutan..saya terdiam dan menagis..tapi tiba tiba parrrr…. pipi saya ditamparnya dengan keras sehingga saya jatuh kelantai..”jangan macam macam kamu ya….” ” ayo bangunnn…” sambil bicara tangannya masuk ke dalam mantel saya dan meraih puting saya dan membetotnya dengan keras…sehingga saya terpaksa bangun karena sakitnya…”sudah Anggie turuti saja apa maunya Hari..daripada kamu lebih tersiksa.. lagi pula di tindik kan nggak terlalu kelihatan bekasnya kalau sudah sembuh..” demikian kata mas Mantri seolah membujuk….walau dia suka mempermalukan saya tapi saya lebih takut terhadap mas Hari yang selalu bertindak kejam.

“saya tahu suami kamu selalu kuno dalam berhubungan seks…, dia pasti mematikan lampu kalau sedang berhubungan dengan kamu jadi pasti nggak bakal tau deh” katanya lagi. baru saja dia terdiam mas Hari kembali menarik putingku dengan kerasnya. “ughhhh sakit masssssss” dia menyeret saya ke meja praktek orang Korea itu.

Akhirnya disebabkan  takut terhadap mas Hari dan bujukan mas Mantri yang saya pikir ada benarnya saya pasrah. Ternyata mas Hari meminta orang Korea itu menindik saya di kedua puting  saya dan di kelentit saya.. Saya langsung terlonjak kaget .. dan hendak meronta tapi lagi lagi saya di tampar dengan keras. Akhirnya saya benar benar pasrah kemudian mereka menyuruh saya melepaskan mantel saya….

Orang korea itu tertawa keras melihat keadaan saya, sekarang saya sudah tidak memiliki lagi bulu dikemaluan saya semenjak mereka mencukurnya, mas Aries pernah bertanya kenapa saya mencukur jembut saya,  saya hanya berkata bahwa saya ingin tampil lebih bersih. Kemudian orang Korea itu menarik dan memilin milin puting saya sehingga saya terangsang dan puting saya mulai mengacung dan tiba tiba cess”aughttt sakitttt…”  saya menjerit..puting kiri saya sudah di tembus dan dengan sigap dia memasangkan anting anting berbentuk cincin di puting kiri saya. dan seperti tidak mau menggu lama dia mulai bekerja di puting kanan saya, dan seperti tadi “augguuuuuht sakitt” puting saya pun sekarang memiliki anting. Tapi kemudian dia mulai turun ke vagina saya, dia memilin itil saya, lalu.. “ahhhhhhh sakitttt” kali ini rasa sakitnya jauh melebihi yang tadi, saya sampai berkunang kunang. dan… kali ini bukan anting2 yang dia pasangkan tetapi sebuah gembok kecil. begitu kecil menyerupai gembok yang biasa kita pasang di buku diary kita agar tidak bisa di buka.

Walau kecil gembok itu memiliki kunci yang kemudian oleh tukang tindik tadi di berikan ke mas Hari. yang dengan sangat gembira menerimanya. Setelah itu dia memerintahkan saya mengenakan mantel saya dan mengajak saya pulang kembali ke Apartement. Tapi sebelum saya mengenakan mantel tiba tiba mas Mantri yang dari setadi mengabadikan adegan tadi dengan kamera tiba tiba memberikan dua buah lonceng kecil yang terikat di sebuah rantai tipis seperti yang digunakan kucing peliharaan ke mas Hari. Kemudian mas Hari memasangkannya di gembok yang terdapat di itil saya.Baru kemudian dia mengijinkan saya mengenakan mantel dan mengajak saya pulang.

Dengan itil yang masih sakit dan tergantung sebuah gembok, saya merasa berjalan dengan sedikit aneh. Sedikit mengankang dan sedikit menunging dan celakanya ketika saya melangkah dengan mantel yang tidak terlalu rapat terdengar bunyi klinting klinting dari bagian bawah saya.

Ternyata penderitaan saya tidak hanya sampai disitu. Kami tidak langsung pulang tapi mampir dahulu kesebuah restoran cepat saji ala barat di pusat kota. Restoran itu selalu ramai oleh anak anak muda Korea yang seperti juga anak muda di Indonesia sangat menyukai makanan ala barat. Sesampai  di restoran bukannya ke counter langsung mas Hari dan mas Mantri malah duduk di kursi, mereka menyuruh saya yang memesan makanan. Dalam keadaan Restoran yang sedang ramai hal itu membuat saya sangat takut kalau sampai ada yang tahu keadaan saya. Saya berusah berjalan senormal mungkin tetapi tetap saja terdengar bunyi klinting klinting dari bagian bawah saya, belum lagi pakaian saya yang sangat aneh mantel pendek dengan bagian bawah yang mengembang. Dalam keadaan normal mantel itu padanannya adalah sebuah celana panjang. Kali ini saya tidak mengenakan apa apa lagi dibaliknya, sehingga cukup meng ekspos bagian pangkal paha dan dada saya. Sejumlah orang terlihat keheranan memandang diri saya dengan pakain seperti itu mengingat saat ini adalah akhir musim gugur yang cukup dingin. Lebih heran lagi mereka mendengar suara klinting klinting yang cukup nyaring terdengar dari bagian bawah saya. Tetapi kemudian saya melihat sejumlah anak muda pria tertawa terkekeh sambil memandang saya, saya rasa dia sudah tahu keadaan saya sekarang…. saya malu..

Setelah memesan makanan saya kembali kemeja dimana mas Mantri dan mas Hari duduk Saya memberikan makanan pesanan mereka. Mas Hari memesan burger dan soft drink sedang mas Mantri seperti ukuran tubuhnya yang gempal walau tidak gendut memesan 4 buah hot dog dan segelas soft drink. Tapi ternyata hanya dua buah yang dia makan, dua buah lagi dia hanya makan rotinya sedang sosisnya dia cuci di gelas soft drink. Kemudian dia pindah duduk dengan mengambil posisi disebelah kiri saya. Dan tiba tiba dia merengkuh saya, lalu tangannya menyusup kebagian bawah mantel saya, belum cukup keterkejutan saya dia ternyata mencoba menyusupkan sosis tadi kedalam vagina saya. Saya mencoba berontak tapi dia berbisik”silahkan bergerak yang mencurigakan, biar orang orang disini tahu…” saya pun terdiam sambil mengigit bibir bawah saya menahan tangis. Dan pelan pelan dia menyusupkan sosis tadi kedalam vagina saya setelah sebelumnya dia mengesek gesekan jarinya ke klentit saya yang ada gemboknya, sehingga vagina saya mulai basah. dan bless masuk hampir seluruhnya sosis itu. Tapi kemudian dia menarik kembali dan mengocok ngocoknya sehingga saya hampir tidak bisa bernafas karena horny yang luar biasa, saya takut ada orang yang tahu keadaan saya…

Tapi kemudian dia berhenti, untuk kemudian yang membuat mata saya terbelalak dia mengambil sebuah sosis lagi, dan kembali mecoba memasukan sosis itu kedalam vagina saya yang sebelumnya sudah berisi sosis yang lain.Saya mencoba mengelak tetapi dia memberi isyarat yang sedikit mengancam. Akhirnya saya pasrahkan dua buah sosis sekali gus masuk kedalam vagina saya hingga hanya tersisa sedikit bagian atasnya. Saya hampir merasa mata saya saat ini sedang merem melek karena sensasi aneh yang saya rasakan. Setelah semua masuk mas Mantri mencium kening saya seolah saya kekasih kesayangannya. “ayo kita pulang …” ajaknya kepada mas Hari dan saya. mendengar itu saya sedikit lega, sebelum saya bangkit tangan saya kebawah ke arah vagina saya untuk mencabut sosis tadi, tetapi mas Mantri mencegah.”biar saja disitu saya mau makan nanti dirumah..” “tolong di simpan dulu ya….” bicaranya kalem sekali  dan sambil bicara dia kembali mencium pipi saya dan mengelus elus rambut saya, membuat saya merinding  membayangkan bagaimana cara saya berjalan nanti.

Kami pun berjalan keluar restoran itu, jalan saya menjadi lebih susah dari ketika datang tadi, saya tidak bisa berjalan normal, sebab saya harus berusaha menjepit  kedua sosis tadi agar tidak jatuh. Tapi celakanya makin dijepit makin saya merasa terangsang hebat karena kedua sosis itu seolah bergelinjang didalam vagina ku. Hal itu semakin menyebabkan vaginaku bertambah basah, yang berarti semakin sulit menahan kedua sosis itu agar tidak jatuh..Apa jadinya kalau sosis itu jatuh di tempat ramai…

Saya berusaha berjalan normal tapi sulit, yang ada saya semakin lambat berjalannya, hal itu tampaknya membuat mas Mantri kesenangan, dia terkekeh. selama perjalanan dia merangkul saya di pinggang seperti seorang kekasih. Mas Hari hanya berdiam sambil terus memainkan kameranya, saya lebih suka dia seperti itu, wajahnya seperti Tukul Arwana tetapi saya sangat takut terhadap dirinya.

Kami pulang menggunakan Bus, dan saya harus menunggu bus di sebuah halte. vaginaku semakin becek saya semakin sulit menahan agar sosis itu tidak keluar. Saya merasa mata saya semakin sayu karena rangsangan hebat yang saya rasakan. Beberapa kali saya menoleh ke arah mas Mantri secara bersamaan dia juga menoleh kearah saya , dan dia tersenyum penuh arti setelah melihat wajah saya..

Ketika tiba di halte bus tujuan kami baru saja lewat sehingga kami haru menunggu sekitar 10  menit lagi untuk jadwal berikutnya. Di halte itu sudah duduk dua orang  pria korea tua yang saya taksir berumur sekitar 60 tahunan tampaknya mereka seprti dua orang pensiunan yang bersahabat. masih ada dua tempat duduk lagi disitu, tapi mas Mantri tidak mengizin kan saya duduk malah dia sendiri dan mas Hari yang duduk. Saya harus berdiri sambil menahan sosis agar tidak jatuh. Saya merasa salah satu sosis sudah mulai keluar separuhnya saya begitu takut sehingga “mas Mantri gantian doong saya ghhh mau duduk…” saya sedikit melenguh karena semakin merasa terangsang. “jangan kamu berdiri saja, saya capai nih kalau mau minta sama Hari saja” mendengar itu saya memandang ke mas Hari, tapi mas Hari memang tidak berbicara apa apa tapi matanya mendelik menakutkan, saya faham dia juga tidak mau bangun, saya takut sama dia. Akhirnya saya berusaha keras agar sosis itu tidak jatuh tetapi semakin menahannya semakin sulit disatu sisi saya semakin terangsang yang membuat vagina saya semakin becek, disisi lain sosis itu terasa semakin licin dan sudah mulai keluar melebihi separuhnya. Saya hanya berharap Bus segera datang agar saya bisa duduk di bus dan membenarkan kembali letak sosis itu.

Tetapi harapan tinggal harapan perlahan namun pasti sosis itu meluncur dan… akhirnya poppp.. sosis itu jatuh, karena saya terus berusaha menjepitnya sampai detik detik terakhir sosis itu bukan hanya sekedar jatuh tapi seakan meloncat keluar. Pria korea itu melihat kejadiannya dan sedikit terkejut, namun kemudian gantian saya yang terkejut ketika kemudian dia berjongkok dan memungut  sosis itu, saya yakin dia melirik kearah bawah mantel ku dan dapat dengan mudah melihat kearah vaginaku yang tidak tertutup apa apa..”milikmu… sebaiknya hati hati menjaganya..” katanya dalam bahasa Korea, saya begitu gugup sehingga malah membuat satu sosis lagi terlupakan dan… poopp, sosis itu keluar lagi seperti di tembakan. Kedua pria Korea itu tertawa kerasa sekali sampai terbahak.. saya benar benar sangat malu, kawannya ganti menunduk dan memberikan sosis itu kepada saya dan berkata dalam bahasa korea” sosis kami jauh lebih nikmat dan tidak perlu harus dua untuk memenuhi milikmu, cukup kami bergantian” kata kata itu disambut tawa keras mereka berdua, saya begitu malu hingga sarasa mau melayang pingsan, saya melirik ternyata mas Mantri juga tertawa terbahak.

Akhirnya bus itu tiba, didalam bus saya duduk diapit mas Mantri dan mas Hari, tangan mas Mantri kembali memasukan sosis yang terjatuh tadi kedalam vaginaku sambil berpesan “kali ini tolong disimpan yang benar jangan sampai jatuh lagi malu dong” aku hanya dapat tertunduk..selama mencoba memasukan sosis  tadi, sosis tidak langsung di masukan tapi dikocok kocok lebih dahulu sehinga tanpa saya sadari saya melenguh nikmat dan tenyata lenguhan ku keras sekali sehingga terdengar oleh beberapa penumpang, seorang penumpang, wanita tua, bangkit dari duduknya dan bersiap turun di halte berikutnya dan bekata ketus dan keras dalam bahasa korea, “dasar pelacur tidak bermoral, tidak cukupkah hanya melacur di negaranya, kenapa dewa mendatangkan penyakit kenegara ini” mendengar itu tanpa terasa saya menangis, tapi mas Hari memberikan sapu tangannya kepada saya dan berkata, “tidak perlu menagis kalau yang dikatakan seseorang tentang kita memang sebuah kenyataan” mungkin dia mencoba menenangkan saya, tapi itu membuat tangisan saya makin tidak terbendung, saya malu….

Tiba di apartement mereka menyuruh saya melepaskan mantel dan bertelanjang bulat, mas Hari memberi perintah agar saya beridiri di depannya, dia memandangi tubuh saya, dia memandangi hasil tindikan tadi. Kemudian dia melepas bel tadi, dan memindahkannya dari gembok di itil ke anting di puting. setelah itu dia mengambil segulung benang sulam dari lemari perkakas ku, dan memotong dua helai benang sepanjang kurang lebih tiga meter sehelai diikatkan ke anting di puting  sebelah kiri, sehelai yang lainnya di anting puting sebelah kanan. Kemudian dia menyuruh ku merangkak, “sekarang merangkak keliling, kamu harus tahu kemana saya mau kamu berbelok” saya tidak mengerti tapi saya menurutinya, saya mulai merangkak Tetapi belum saya mulai merangkak tiba tiba dia berkata”sebentar masaih ada yang kurang..” dia mengambil sebuah pisang, sebesar pisang ambon dan tanpa melepas kulitnya dia memasukannya ke vaginaku, lalu sebuah ketimun jepang yang hijau tua dan sedikit berbintil ke dalam anus ku.”sekarang mulai…” aku merangkak dan perasaan aneh mengalir ketika kedua buah tadi seolah bergoyang didalam tubuh ku…”ughh mas nggak tahannnn “kataku, tapi dia malah mencambuku dengan ikat pinggannya “diam nggak ada kuda yang bicara” saya kaget ternyata kami sedang bermain kuda kudaan, kemudian saya merasakan benang di puiting kananku ditarik dengan keras sehingga putingku terbetot kearah belakang,”rupanya ini maksud dia bahwa saya harus tahu kearah mana saya harus berbelok sesuai keinginannya” saya pun berbelok kekanan dia terlihat puas, 15 menit berikutnya saya merangkak berputar putar didalam ruangan tapi lama lama saya semakin tidak tahan rangsangan pisang dan ketimun semakin hebat. sehingga akhirnya tubuhku bergetar dan saya mencapai klimaks. Mas Hari terlihat senang dia menghampiri saya menjambak rabutku dan langsung mencabut pisang tadi dan menggantikannya dengan kemaluannya sendiri yang besar. bahkan lebih besar dari pisang tadi.

Mas Hari mulai memompa pingulnya dengan cepat sambil tangannya meremas payudaraku. Bel yang tadi dipasang di putingku berbunyi klinting klinting dengan kerasnya menambah gairah mas Hari. sementara itu mas Mantri tidak henti2nya merekam adegan itu. aku benar benar nikmat…sampai sampai aku merasa setengah diawang awang, dengan mas Aries jujur aku belum pernah merasa seperti ini. tapi tiba tiba, Tarrrr wajahku ditampar oleh mas Hari, aku terkejut, sambil menampar tadi dia sama sekali tidak mengurangi enjotannya, tarrrr… kembali wajah ku ditamparnya”sekarang baru enak ya.. pelacurrr” katanya dan, tarrrr …kembali dia menampar ku..Aku mulai menangis….dia kembali meremas dadaku tapi kali ini dengan sangat kasar dan keras sehingga aku kesakitan sekali. Tangisku mulai meledak, dan tampaknya dia malah sangat suka. sehingga dia mendekati klimaks ketika tiba tiba dia mencabut penisnya dan bergerak dengan cepat kearah mulut ku dan dengan paksa memasukan penisnya kemulutku hingga dalam dan serrr dia mncapai klimaks didalam mulut ku.. aku sampai tersengal karena banyaknya seperma yang masuk … setelah itu mendorong diriku dengan keras sehingga aku terguling. Dia mengambil segelas Soju (sake korea..) dan menonton diriku yang masih menangis sambil minum soju itu, tiba tiba dia menyiram diri ku dengan soju itu dan mendorong keras diriku dengan kakinya sambil bangkit. Badan saya langsung menggil melihat dia mendekat lagi ke saya, “minum ini cepat” katanya sambil mencekoki saya dengan soju kemulut saya.Cara mencekokinya yang kasar dan daya tampung mulut saya yang tidak sebanyak itu membut saya tersedak dan batuk batuk hingga sebagian keluar lagi lewat lubang hidung saya. Mas Hari melihat itu langsung menampar kembali. saya terjatuh dan menangis. Kemudian mas Hari menyuruh saya duduk diatas lutut saya kemudian mulai mengikat tangan saya kebelakang pergelangan tangan kanan bertemu siku kiri begitu sebaliknya, kemudian rambut  saya diikatkan ke tangan saya. Hal itu membuat wajah saya menjadi menengadah ke atas.Kemudian dia mengambil beberapa karet gelang dan mengikatkannya di masing masing payudaraku, rasanya sangat sakit sekali aku kembali menangis payudaraku saat ini sudah berbentuk seperti balon karena diikat dengan karet sangat keras warnanya pun mulai berubah. Dengan membentak dia menyuruh kaki ku mengangkang, masih dalam keadan berlutut. Tiba tiba saya merasakan sesuatu menyusup kedalam vagina saya, ternyata itu adalah sebuah dildo vibrator yang rupanya sudah dibawanya. Kemudian dia mulai mengocok ngocok dildo tadi kedalam vagina saya tanpa menyalakan vibratornya. “aughttt enggghttt” saya sampai melenguh keenakan. kemudian mas Hari memasukan Vibrator itu dalam dalam sehingga saya merasa telah mentok di vagina saya kemudian di menyalakan vibrator tadi yang mulah berputar putar, bergoyang dan bergetar sekali gus. Dalam keadaan terikat dan tidak dapat melihat ke bawah sensasi yang di timbulkan vibrator itu menjadi semakain menggila didalam diri saya.”ughtttt hmmmm ….” saya benar benar tidak kuat hingga tubuh ku bergetar nikmat. “eh enak nggak”kata mas Hari.ketika saya terlambat menjawab dia menarik anting di puting saya keras keras sehingga saya kesakitan “uuenakkk masss…sshh” itu sebuah kenyataan, tapi aku merasa terhina apa lagi mendengar mas Mantri tertawa keras dibalik kameranya mendengar itu. Akhirnya tubuhku tiba tiba mengejang hebat dan “engghhh saya keluarrr..” tanpa sadar saya berbicara karena mencapai klimaks dalam posisi yang tidak biasa… tetapi mas Hari tidak langsung mencabut vibrator itu,  tetapi dia mulai beronani didepan wajah ku dan setelah beberapa menit crottt crottt dia mencapai klimaks di wajah ku. sedang vibratornya masih terus bergerak didalam vagina ku membuat tubuh ku mencapai multy orgasme. dan akhirnya terbanting ke belakang akibat lonjakan kenikmatan yang aku rasakan. Mas Mantri yang dari tadi terus mengambil adegan tadi, mulai menyerakan kameranya ke mas Hari. Dia mencabut vibrator itu, melepas ikatan tangan dan rambutku, lalu membuka kaki ku dan memasukan penis besarnya kedalam vagina ku dan langsung memompa diriku. aku kembali ‘on’. Dan mulai bergoyang mengikuti irama goyangnya, namun karena dari tadi saya sudah mencapai klimaks berkali kali maka hanya beberapa saat saya sudah kembali mencapai orgasme. Mas Mantri yang belum keluar melihat saya sudah mencapai klimaks dia terkekeh, kemudian memaksa saya berbalik sehingga saya menungging. Kemudian dia kembali memasukan penis nya ke vagina saya dan kembali memompa kannya. tapi yang  mengejutkan dia memasukan vibrator tadi kedalam anus saya. Rasanya sakit sekali, saya benar benar kaget. Akhirnya diapun mencapai klimaks setelah cukup lama.

Sepanjang hari itu kedua orang itu terus menerus bergantian mengerjai saya. Selama satu minggu mas Aries bertugas mereka juga terus menerus mengerjai saya. Akhirnya ketika saatnya mas Aries akan pulang, setelah satu mingu bertugas, luka tindikan di puting dan itil saya sudah sembuh, sehingga saya sudah dapat melepas kedua anting di puting saya, sepintas tidak akan terlihat lubang tindikan diputing saya, sehingga saya yakin mas Aries tidak akan tahu. Namun saya tidak dapat melepas gembok di itil saya. Saya menelpon mas Hari meminta kuncinya namun dengan enteng dia menjawab “saya lupa ditaruh dimana.”, “nanti saja kalau sudah ketemu saya bawain kekamu..” saya benar2 shock”mas Hari bagaimana kalau mas Aries tahu…” “itu urusan kamu, kalau kamu tidak mau dia tahu, ya di jaga dong”

Akhirnya saya hanya bisa pasrah sambi dalam hati ketar ketir, selama itu setelah mas Aries pulang, ketika dia mengajak bermesraan saya selalu mengelak saya takut ujungnya dia minta jatah. Kalau sampai itu terjadi bisa berbahaya kalau dia menemukan gembok di itil istrinya. Dan saya hanya bisa berharap mas Aries segera bertugas di luar kota lagi.., maaf kan saya mas Aries……

Dua orang begundal itu pun tidak pernah berhenti di situ, mereka selalu menemukan cara mempermalukan dan menyiksa saya, di lain kesempatan mereka pernah membawa saya kepada seorang pria Korea yang juga memilki  hobby yang sama dengan mereka dan bahkan memilki sejumlah mainan yang aneh aneh. Tetapi saya akan menceritakannya lain waktu saja ya…

Anggie: Diperkosa 2 Cleaning Service

Posted May 16, 2010 by sigadisseksi
Categories: kisah seks

ANGGIE

Umur saya saat ini 23 tahun saya sudah 2 tahun menikah dengan suami saya mas Aries,

saat ini mas aries berumur 34 tahun, kami umur kami memang terpaut cukup jauh.. pernikahan kami adalah pernikahan yang diatur. hmmm maksudnya dijodohkan.. tapi bukan berarti saya tidak sayang terhadap mas Aries..dia orang yang sangat humoris.. kehidupan sex kami juga lumayan bagus walau menurut saya dia sangat konservatif satu2nya kebiasaan yang rada tidak konservatif adalah dia senang merekam adegan kami saat bercinta denagn menggunakan handycam walau saya sering protes seba yang terlihat utuh hanya saya sedang dia hanya terlihat dari leher ke atas (curang). Untuk sekedar gambaran saya sering membanggakan kulit saya yang sangat putih saya mengunakan bra ber ukuran 34C Tinggi saya 155cm dan berat 44kg. Buah dada saya lumayan membulat dengan puting berwarna kemerahan dan cukup panjang menonjol sebesar ruas pertama kelingking saya, bentuk pantat saya padat namun tidak terlalu besar, saya tidak pernah merasa memiliki wajah yang terlalu cantik walau banyak teman yang mengatakan saya pantas jadi model. Ada teman saya yang sinis mengatakan kenapa saya dijodohkan dengannya, sebab dia nggak laku hinggak berumur 32 tahun belum menikah sehinggak harus dijodohkan dengan saya yang jauh lebih muda. Suatu pernyataan yang sama sekali tidak benar, kalau mas Aries mau pasti banyak yang mau menikah dengannya selain pendidikannya lumayan tinggi, kaya, dia lumayan ganteng dan orangnya baik serta humoris, tapi dia terlalu sibuk dengan sekoah nya lalu dilanjutkan dengan kariernya. Dua tahun lalu pernikahan kami dipercepat karena mas Aries harus bertugas di Korea dengan kontrak kerja selama 5 tahun. Jadilah kami menikah kemudian berangkat ke Korea.

Di Korea kami tingal di sebuah kota Industri dan mas Aries adalah satu2nya tenaga ahli yang berasal dari Indonesia. Namun kami tinggal di sebuah apartement di semacam komplek milik perusahaan. Mas Aries sendiri sebagai tenaga ahli sering sekali pergi ke luar kota tempat kami tinggal selama beberapa hari. Selain Apartement terdapat juga beberapa bangunan untuk mess bagi karyawan dengan grade yang lebih rendah. Dan kebetulan banyak terdapat TKI yang bekerja disana umumnya mereka bekerja sebagai cleaning service atau buruh pabrik di perusahaan itu (nasib anak bangsa hihihi). Mungkin kalau kita tinggal di Indonesia kita kurang perhatian dengan tetangga yang status kelasnya jauh dari kita, tetapi sebagai sesama perantau di negri asing mas Aries sering sangat bersikap ramah ke para cleaning service dan buruh itu dengan mengundang mereka main ke apartement kami yang walaupun sempit namun tetap jauh lebih besar dari mess mereka. Yang paling sering datang adalah dua orang cleaning service bernama mas Mantri dan mas Hari mas Mantri tubuhnya gempal tidak gendut namun lumayan gemuk kulitnya hitam tampangnya nakal. sedang mas Hari hmmm nggak beda jauh sama Tukul yang lagi populer di Indonesia, tapi orangnya sangat pendiam. Mas mantri menurut penilaian saya sangat menyebalkan sebab sering menatap saya seolah2 serigala yang menatap seekor anak kelinci saya suka bilang ke mas aries tapi kata dia biar aja mungkin karena kamu cantik dan istri mas Mantri ditinggal di Indonesia. tetapi tetap saja saya suka risih dan tidak suka dengan tatapan liar matanya.

Hari itu kembali mas Aries di tugaskan untuk melakukan kunjungan rutin selama seminggu keluar kota meninggalkan saya sendirian di Apartement. Sebenarnya ini sangat menyiksa saya. Bahasa korea saya sangat jelek dan tidak seperti di Indonesia yang masyarakatnya sok tau, di Korea jika seseorang tidak benar2 fasih berbahasa Inggris maka dia tidak mau berbahasa inggris (menyebalkan….). Selain itu saya tidak tahu harus kemana kalau tidak bersama mas Aries. Apalagi hari itu hari sabtu dimana biasanya penghuni komplek itu rata2 pergi berakhir pekan entah hanya ngobrol2 di pusat tongkrongan di pusat kota atau ketempat hiburan lain. Akhirnya seperti setiap kali mas Aries pergi selama beberapa hari, saya hanya bisa berdiam diri di Apartement. Namun hari itu setelah bosan menonton TV tiba2 terbersit di otak saya keinginan untuk menonton adegan persetubuhan kami kembali yang telah di rekam oleh mas Aries. Setelah saya mengambil dari tempatnya biasa disimpan (kami biasanya hanya menonton sekali setelah itu disimpan begitu saja). Saya siap menyalakan CD nya…. tapi tiba2 ada rasa keinginan kuat untuk menonton CD  itu dalam keadaan … tanpa busana.. telanjang. Kemudian setengah berlari karena diliputi perasaan yang aneh yang mengairahkan saya berlari ke kamar untuk melepaskan semua pakain saya. Dan kemudian dalam keadaan bugil saya berjalan kembali keruang tamu yang merangkap ruang keluarga dengan masih diliputi gairah yang aneh kemudian sebelum saya menyalakn CD nya saya menyingkirkan semua benda yang dapat saya gunakan menutupi ketelanjangan saya mulai dari taplak meja, bantalan kursi hingga majalah hanya menyisakan satu buah bantal…entah kenapa itu saya lakukan. Akhirnya saya mulai menonton CD adegan cinta kami, disitu mas aries tidak terlihat wajahnya namun saya terlihat jelas seluruhnya mungkin karena mas Aries melakukan adegan itu sambil memegang kameranya. Saya begitu terangsang hingga tangan saya tanpa sadar mulai memelintir2 puting saya dan mempermainkan itil saya. Rasanya begitu nikmat eaouuuh… cairan vagina saya mulai banjir…

Tiba2 bel apartement saya berbunyi… saya begitu terkejut… saya segera bangkit dan mengintip dari lubang pintu., saya lihat mas Mantri dan mas Hari didepan pintu. pikir saya mau apa sih mereka bukannya mereka tahu kalau mas haris hari ini keluar kota. Saat itu tubuh saya dalam keadaan bugil dan cairan vagina yang mengalir sedikit di sela sela paha.

Saya berusaha diam agar mereka pergi karena mengira saya tidak ada di tempat. Tapi mereka tidak pergi2 bahkan terus menerus menekan bel sehingga ribut sekali didalam apartement bahkan mereka mulai mengetuk2 pintu. Akhirnya saya membuka pintu sedikit dengan harapan mereka tidak melihat ketelanjangan saya. Saya menjulurkan kepala saya dan menyembnyikan tubuh saya dibalik pintu, “Pagi mba Aggie” sapa mereka…”Pagi mas Mantri, mas Hari ada perlu apa ya pagi2, Mas Ariesnya sedang keluar kota…” jawab saya dengan harapan mereka segera pergi. “Kami tahu kok mba.. kami mau ketemu mba Anggie saja buat ngobrol2″ jawab mas Mantri sambil memandang aneh dan berusaha melihat kedalam, saya merasa risih dengan pandangan matanya apa lagi kali ini saya dalam keadaan bugil saya takut dia tahu.” Jangan sekarang ya mas Mantri saya sedang nggak bisa” jawab saya dengan harapan mereka segera pergi. “wah nggak ah mba, saya tahu mba kesepian kalau lagi ditinggal mas Aries” jawabnya lagi”kita cuma mau temenin ngobrol sambil bersenang2 sedikit”,  ‘bersenang2′ dalam hati ku apa maksudnya… “lain waktu aja deh mas saya lagi nggak sempat” jawab saya ketus mulai jengkel..sayapun hendak menutup pintu, tapi alangkah kagetnya saya ketika mendapati pintu diganjal oleh kaki mas Mantri “masa mba tega ngebiarin kita kedinginan diluar sini” kebetulan saat itu adalah akhir musim gugur. Saya berusaha mendorong pintu itu sekuat tenaga sehingga tanpa sadar posisi berdiri saya bergeser sehingga ketelanjangan saya langsung terlihat oleh mereka. “Wuihhh liat rii, mba Anggie bugil… ” katanya setengah berteriak menyebabkan saya terkejut dan kehilangan kontrol atas pintu.

Mas Mantri kemudian menerobos masuk diikuti mas Hari yang langsung segera menutup kembali pintu di belakangnya sementara saya terhuyung kebelakang dengan berusaha menutupi dada dan vagina saya, “rii liat jembutnya lebat banget..wah mba Anggie ngapain bugil2an kaya gini mau menyambut kita ya….wah ri liat dia lagi nonton bokep..” katanya merepet, saat itu saya baru sadar saya  tidak mematikan CD adegan cinta kami. “mas Mantri…mas Hari apa2an ini cepat keluar kalau tidk saya akan berteriak” kata saya tapi dengan cepat mas Mantri menangkap saya dan mendorong saya sehingga saya terjengkang ke belakang, kemudian diameraih pinggul saya dan merengkuh saya dari belakang dalam posisi duduk dan dengan nakalnya tangan kirinya dia meremas buah dada saya dan tangan kananya meraba vagina saya,” ri….memeknya sudah  basah nih…” yang diajak ngomong tidak banyak bicara hanya tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke alah televisi yang sedang menayangan CD pribadi ku…”mba pantas ya jadi bintang bokep” katanya… “handycamnya ditaruh dimana mba… di kamar ya”katanya lagi sambil ngeloyor kekamar tidurku..sementara  saya terus berontak… tapi posisinya malah bertambah sulit mengingat ukuran badan mas Mantri …sekarang saya berada di pelukannya dan mulut mas Mantri mengulum pentil saya yang besar….. walau saya terus berontak tapi hal ini membuat saya sangat terangsang… tapi saya tetap berontakk …

Mungkin karena kesal mas Mantri tiba2 memukul perut ku tepat di ulu hati…saya langsung sesak napas..”kalau mba Angie nggak berhenti berontak saya bisa lebih keras…. sekarang mau menikmati apa menderita”katanya, tapi saya tidak bisa menjawab saya sesak napas mata saya berkunang2 saya mulai menangis.. tubuh saya lemas…”bagus …”katanya dan dia pun mulai kembali mengulum dan mempermainkan pentil saya…”mba pentilnya gede juga ya…” lalu setelah dirasa saya tidak banyak berontak dia mulai turun dan mempermainkan vagina saya…. pertama di bukanya lebar2 lalu diselipkanya lidahnya diantara liang vagina lalu seperti lidah ular lidahnya bergetar cepat menjilat2 itil saya… itu benar2 sensasi yang aneh…belum pernah saya merasakan itu sebelumnya… bahkan mas Aries belum pernah mengoral diriku seperti itu….rasanya…sulit aku lukiskaaan

auuggghhhh…ohhhhhh saya mulai melenguh keenakan dan tampaknya mas Mantri tahu… dan tanpa saya sadar dari tadi mas hari yang pendiam sedang merekam kejadian itu menggunakan handycam mas aries…seolah tersadar saya kembali berontak… ada rasa malu di dalam diri saya… kenapa bisa2nya saya terangsang di oral pria bukan suami saya…dan disaksikan serta direkam pula oleh orang lain…saya kembali meronta.. tapi tiba2 tarrrrrr… mas Mantri menampar keras di pipiku hingga terasa seolah2 ada bekas telapak tangan dipipiku…. kemudian dia menjepit puting ku memelintir kemudian ditariknya keras keras sehingga sedikit membengkok kebawah rasanya benar2 sangat sakit..hingga hampir tak tertahankan dan cukup manjur kembali menghentikan perlawananku… “terus ngelawan pentil kamu copot…” katanya, kudengar mas hari tertawa terkekeh2 (terdengar suaranya sedikit menyeramkan pantas dia jarang ngomong) sambil terus merekam adegan itu…”sekarang mau anteng nggak…?” mendengar itu saya langsung terdiam tapi ternyata dia tidak puas “mau anteng tidaaaakkk” teriaknya sambil memelintir dan menarik puting ku keras keras. sakit sekaliii sayapunterpaksa menganggukkan kepala ku… akhirnya dia mulai kembali memainkan itil ku dengan jari sementara mulutnya mengenyot kedua puting susu ku bergantian… ehhhhhhh aghhhhhhh massss Mantriiiiiii jangaaannnnnnnn kata ku setengah meracau kenikmatan…. kulihat mas Mantri tau aku terangsang hebat sedang mas hari kembali terkekeh…. sambil terus merekam adegan itu…akhirnya dengan rasa yang sangat malu…oeuuuuuhhhhhh masssss mantriiiiiiiii sayaaaaaaaaaa hehhh keluarrrr tanpa sadar kata2 itu terucap dari mulut saya……..memalukaaan …tapi itu kenyataaan

Mereka pun tertawa2…. kulihat mas Mantri membuka celana dan bajunya daaan astaga penisnya besar sekali rasa2nya hampir sepanjang 20 cm dan diameternya itu lohhh jauh dari milik mas aries… yang menakutkan adalah urat2nya yang terlihat menonjol.. ‘penis besar mengacung keatas’ benar2 pemandangan yang luar biasa menaksjubkan tanpa sadar mataku terus memandang kesitu…”hehehe suka ya sini duduk jangan ngeliat dari jauh terus” katanya sambil menarik saya duduk dan menyodorkan penisnya kemulut ku… “ayo dikenyot awas kegigit saya hajar kamu” saya begitu ketakutan belum pernah mas aries minta di oral seperti ini …. dulu saya sering melihat di filim BF tapi tidak menyangka harus melakukannya sendiri, terhadap pria yang bukan suami sendiri lagi.. melihat saya ragu2 mas Mnatri tiba2 menjambak rambut saya dan memaksa memsukan penis besarnya kemulut saya…. sehingga saya terpaksa mengulumnya… suatu gairah aneh muncul didalam diri saya ketika melakukannya …. mata saya melirik  saya lihat mas hari tetap mengabadikan dengan serius adegan itu… seolah2 saya merasa diberi semangat oleh suporter… sehingga saya benar2 mengulum dan mngemut penis itu sekuat kemampuan saya dengan HOT…… eahhhhh terus anggie terus pelacurrrrr…. mendengar kata terakhir saya terkejut dan hampir berhenti…. tapi mas Mantri kembali menjambak rambut saya kuat2 dan menekan penisnya jauh ke dalam mulut saya …hingga akhirnya saya terpaksa meneruskan…. dan tidak berapa lama tiba2 tubuhnya mengejang dan kepala saya ditariknya kuat2 sehingga penis itu masuk lebih dalam dannn dia memuntahkan maninya didalam mulut saya…. rasa mual membayangkannya menyebabkan saya hampir memuntahkannya tapi seolah2 dia mengetahui niat saya.”berani muntahin saya hajar kamu… sekarang kumur2 dulu lalu telannn….cepat” saya dengan sedikit mual akhirnya saya mengumur2 mani itu di mulut saya mas Mantri menyuruh mas Hari mendekatkan kameranya…”tahan dulu jangan di telan…coba buka mulut kamu saya mau liat” katanya saya melakukannya dan air mani itu mengalir sedikit keluar dari mulut ku…”cepat kumur2 lagi…” aku pun mengumur2 dan”…oke cukup sekarang telan…”sekali lagi gairah aneh muncul apalagi kamera tetap merekam dari jarak sangat dekat…kemudian mas Mantri menyuruh saya berbalik dalam posisi merangkak….tiba2 dia memasukan penis besarnya kedalam vagina saya saya begitu terkejut dengan sensasinya…penis itu begitu padat dan keras…terasa sangat penuh ehhhh benar2 serasa dilangit…. dia mulai mengoyangkan pantatnya dengan cepat sehingga sayapun ikut bergoyang2 tapi tanpa sadar sebenarnya saya telah menyambut dengan antusias….setiap sodokannya ini terbukti beberapa kali mas Mantri sengaja berhenti bergoyang…. dan.. saya terlambat berhenti bergoyang…. sehinga setiap ini terjadi mereka berdua tertawa keras..”sudah mulai menikmati ya …hahahah dasar pelacur murahan…” awalnya saya benar2 merasa terpukul mendengar itu tetapi saya kembali dilingkupi perasaan aneh…saya jadi lebih kencang bergoyang menyongsong kenikmatan ….. dan tanpa terasa mas Mantri sudah berdiam….berhenti beroyang …hanya saya yang bergoyang maju mundur penuh gairah….(memalukan..). Mereka tertawa2 mas hari mendekatkan kamera kewajah saya yang saya tahu pasti sedang terlihat sangat horny, terlihat dari reaksi mas hari..

Tiba2 mas Mantri menahan gerakan pinggul saya… saya seolah kesetanan masih berusaha bergoyang…”sabaarrr tahan dulu lonteee…saya mau pakai cara lain aja…” lalu dia mencabut penisnya… plok… suaranya terdengar keras karena vagina ku sudah basah oleh cairan vaginakusendiri… Dengan napas tersengal2 aku memperhatikan dia bangkit dan kemudian duduk dengan santainya di sofa milik ku… “kesini …” dia mamangil aku sambil memberi isyarat agar aku menghapirinya dalam kadaan merangkak setelah dekat dengan telunjuknya dia memberi isyarat kepada ku untuk berputar dan kemudian mengarahkan pantat ku yang sedikit menungging kearah penisnya dannn sleppp kemabali penisnya masuk ke vaginaku..badan ku bergetar hebat ketika kepala jamur itu menghunjam dengan cepat ke dalam vagina ku…eughhhh…. aku melenguh…hampir2….aku histeris karena nikmatnya… stelah itu sambil dengan santainya dia duduk..”sekarang goyangkan pinggul mukaya tadi …lontee,,,” katanya sambil menampar keras2 pantat ku….aku demikian terkejut tapi tanpa disuruh dua kali aku segera bergoyang…maju mundur…sedangkan dia tetap duduk dengan santainya…sambil terus berulang2 menampar pantat ku cetarrrr..cetar…”hari gue gemes banget sama ini pantat…putih banget kalah pantat cewe’ korea…” yang diajak bicara tetap diam sambil mengambil gambar adegan itu… “aughhhhhhh…mas Mantri jangaaaaan siiiiiigghhhhksaaaa sayaaaa” aku merasa tersiksa karena rangsangan yang hebat dan gairah aneh yang mengebu2 sedang dia dengan santainya duduk membiarkan saya yang bekerja maju mundur…”hahahahaha….terus pelacurrrr” “dasar cewe gatellll…… ayooo kalo mau klimaks harus kamu sendiri yang raih….ughhtttttttt uenaaaakkk dasar lonteeee” enath setan apa akupun makin cepat memacu gerakan ku sampai tiba2 aku merasa tubuhku bergetar hebat…belum pernah aku merasakan ini dengan mas Aries… dann”aughhhhhh mas Mantri saya keluaaaarrrrrr” dan saya pun jatuh tersungkur denga pantat menungging dan penis mas Mantri masi menancap dalam….”kurang ajar siapa yang suruh klimaks duluaaan…”kemudian dia membalik diri ku hingga terlentang kemudian kedua kaki ku diangkat keatas hingga lututku menyntuh payudara ku….dan vaginaku terpampang lebar2 aku sudah lemas karena klimaks….dia kemudian menacapkan kembali penisnya di vagina ku…”uuuggghhhhhhh mass…..” sekali lagi rasa nikmat luar biasa menjalar ditubuh ku membuat aku seperti mengambang di langit… mungkin saat itu wajahku begitu horny sebab mas hari kemali mendekatkan handycamnya ke wajahku….pingulku terangkat tersentak2 oleh goyangan mas mantri…beberapa menit kemudian…”mmmmaaasss akuhhhh keluaaarrrrrrr” dan sekali lagi ribuan volt listrik seolah menjalar memberikan nikmat tiada tara….melihat wajah ku tampaknya mas Mantri juga tidak tahan..wajahnya tiba2 menegang kemudian dengan cepat dia mencabut penisnya dan kemudian tiba2 crot…crot…crottt dia menembakannya ke wajah dan tubuhku……..semua pejunyaaa..ahhhhh suatu sensasi aneh yang luar biasa sekali gus aku merasa murahan…… “kamu bener2 enak ….katanya sambil meraih tubuh ku ..memangku diriku seperti memangku anak kecil……dengan diriku miring menghadap kesamping..tangan kirinya melingkar kepinggangku…tangan kanannya mengelus2 pipiku…kemudian dia memaksa tangan kananku melingkar memeluk lehernya yang besar…aku hanya tertunduk lemass…mas hari masih mengambil gambarku…”pagi ini sampai sini dulu ya lonte…”aku pun mengangguk lemah…”sekarang jangan kamu bersihkan dirimu tunggu telpon dari saya katanya kemudian dia membaringakn diriku di sofa… dia sendiri bangkit….kemudian dia memakai pakaiannya, kemudian kembali menghampiri saya”..tunggu disini jangan kenakan pakaianmu…jangan bersihkan tubuh mu…”..aku mengangguk lemah sensasi aneh…meremang didalam diriku….kemudian dia beranjak mendekati televisi yang dari tadi masih menayangkan adegan cintaku dengan mas Aries…

kemudian dia mematikan CDnya dan mengeluarkan nya kemudian mengantungi di saku jaketnya…..”hari bawa handycamnya….” sambil meberi isyarat kepada hari untuk pergi meninggalkan rumahku,…diriku…yang telanjang dengan tubuh dan wajah dipenuhi seperma…aku hanya bisa termenung tidak percaya….”aku mencapai orgasme yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya….” “aku mencapainya dengan sedikit dipaksa….hmm sedikit…ya sedikit…mulanya memang dipaksa…””aku wanita murahan….”membayangkan kejadian tadi dan fakta aku seperti wanita murahan aku hampir kembali orgasme………..

==================================================================

Terlalu lelah … dan terlalu banyak berpikir ….aku akhirnya tertidur….tetap dalam keadaan bugil…dengan tubuh penuh seperma yang sudah mengering….sampai tiba2 aku mendengar auara telpon berdering. Dengan berat aku melangkah…mengangkat telpon…”halo lonte…” saya langsung mengenali suara itu ..mas Mantri…”eh…lonte kamu cepet kesini ke mess saya ya….kan nggak jauh2 amat dari apartement kamu…” aku hanya diam menebak2 apa maunya. “tapi udara lagi dingin nih….” saat ini memang akhir dari musim gugur… “kamu pakai mantel kamu yang tadi saya liat digantung di belakang pintu ya….” nadanya solah2 khawatir aku bakal sakit kalau  tidak pakai mantel itu.”…oh ya…jangan pakai apa2 lagi selain mantel itu ya…”..aku seperti disambar petir…”apa maksud mas mantri…saya harus berjalan kemess mas Mantri cuma pakai mantel tanpa pakai apa2 lagi didalamnya…?” “..tidak saya tidak mau….bagaimana kalau ada yag lihat…” tiba2 dengan nada sedikit lebih keras “terserah kamu tapi saat ini si Hari lagi browsing di internet dia bilang mau meng upload film kamu sama Aries dan saya ke situs www.b*******.com“, itu adalah sebuah situs yang sangat saya kenal sebab saya pertama kali mengenal situs berbahasa indonesia yang menunjukan banyak foto2 gadis indonesia di forum itu.. ”biar orang2 di Indonesia pada lihat aksi kamu…” sontak saya berteriak..”jangannn…mas tolong jangan saya takut…” sulit melanjutkan saya takut terhadap apa…”kalau gitu turuti saya ….pakai mantelmu jangan dikancing…cukup di ikat tali pinggangnya…” “…dan dandan yang cantik….” saya terdiam….”bagaimana lonte…” “…baik mas….” sebelum selesai saya berbicara “…pangil saya tuan….ingat tuan…” “baik tuan….”seperti kerbau dicocok hidungnya saya mengikuti kata2nya”

Saya membulatkan tekat… saya berdandan yang cantik…kemudian tanpa membasuh bekas sperma tadi pagi saya mengenakan mantel, lalu berjalan keluar. Mess tempat tinggal mas Mantri.. dan mas Hari berjarak sekitar 2,5 kilo meter. Saya berjalan menuju kesana dengan perasaan was was, sebab mantel itu panjangnya tidak sampai lutut, dan bagian bawahnya sedikit mengembang walau di bagian pinggang aku sudah eratkan ikatannya.

beberapa orang berpapasan dengan saya mungkin berpikir atau mengira saya mengenakan rok supermini didalam cuaca dingin seperti inidengan hanya dilapisi sebuah mantel… padahal tidak ada apa2 yang dilapisi mantel selain tubuh bugil ku..

Jarak 2,5 Kilo  terasa sangat jauh.. Sampai akhirnya aku tiba didepan mess. Disana ketika sampai didepan pintu mess aku disambut oleh seorang security berkebangsaan India tau pakistan atau srilanka yang menanyakan tujuan ku, aku menjawab hendak ke mess mas Mantri… aku perhatikan mata security itu terus memandang kearah paha ku… yang terekspose…tapi kemudian dia memberi tahukan nomor kamar mas Mantri. dan yang kurang ajar tiba2 dia menepuk pantat ku… yang telanjang kemudian terkekeh…seolah aku seorang wanita panggilan murahan…aku hanya bisa menahan tagis ku sambil terus berjalan ke kamar mas Mantri…

sesampai didepan kamar ke tekan bel kamar berulang2 dengan harapan lekas dibuka. Saya malu jika nanti ada orang lain lagi yang melihat ku… Pintu terbuka sedikit terlihat masih dikait dengan rantai kecil sebagai pengaman sehingga hanya terlihat sedikit wajah mas Mantri “hai lonte si Hari mau Upload tuh filmnya…” “…Jangannnn…” kataku aku benar2 takut dia melaksanakannya…”..kamu bisa cegah dia kalau kamu kedalam…” “kalau gitu saya mau masuk…”kata saya setengah memaksa hampir menangis…”boleh tapi….kamar ini nggak boleh ada lonte masuk…” “‘…tuan izinkan saya masuk….” setengah terisak saya memohon takut mas Hari keburu meng upload film ku..”..baiklah saya juga belum selesai bicara tadi…”katanya lagi “..disini lonte dilarang masuk kamar kecuali masuk dalam keadaan bugil..waktu masuk seluruh pakaiannya harus sudah dilepas diluar….”kata2 itu diucapkan dengan sangat kalem tapi membuat hati ku berdegup kencang…aku harus melepas pakaian ku diluar… dilorong mess … yang terdapat banyak atau setidaknya sembilan kamar lagi…bagaimana kalau ada yang melihat..”jangan tuan saya tidak mau …” mendengar itu tanpa banyak bicara pintu pun mulai  di tutup oleh mas Mantri…”mas jangan tutp pintunya izinkan saya masuk…” aku menahan pintu jangan sampai tertutup “…lepas dulu mantel kamu…. lagi pula tidak lamakan kamu lepas lalu aku bukakan pintunya …hanya beberapa detik…” aku berpikir …dan akhirnya aku mengalah…”baik mas aku  lepas disini…” aku pun melepas pakaian ku…telanjang di lorong sebuah mess khusus pria….”cepat berikan mantelmu sini..” katanya akupun memberikanya..kemudian pintu tertutup….biasanya kalau mau membuka rantai pintu memang pintunya harus ditutup dahulu ..rantai di lepas kemudian baru pintu dapat dibuka seluruhnya….tapi kali ini tidak stelah beberapa detik aku mendrngar mas Mantri dan mas Hari tertawa terkekeh seolah sedag berhasil menipu seseorang dan saya sadar sayalah sedang mereka tipu…. saya berdiri dalam keadaan bugil..berdandan antik namun tubuh penuh dengan bekas sperma…di tengah lorong mess khusus pria…tiba2 aku menjadi panik dan mulai menggedor2 pintu…. tapi beberapa menit sama sekai tidak ada reaksi kecuali suara tawa yang semakin keras…. karena suara ku dan suara gedoran ku ternyata mulai menarik perhatian penghuni mess seseorang terlihat menintip dibalik pintu di kamar sebelah, lalu aku lihat seseorang juga keluar..dan menhapiri diriku…tampaknya dia orang indonesia juga dia bertanya “ada apa ….apa kamu belum dibayar…?” saya langsung syok mendengarnya… sayapun mulai menangis….”mas adi…nggak ada apa2 kok tadi cewe ini minta bayaran dimuka… tapi ternyata pelayanannya asal2an terus mau kabur lagi ya udah saya ambil aja pakaiannya…” terdengar suara mas Mantri dari belakang… “wah mba ini nggak bisa gitu dong….kembalikan uangnya atau kasih service yang bagus ke pelanggan” kata orang itu lagi saya merasa sangat terhina mendengar itu “hei…lonte…gimana..mau service bener2 nggak…?” aku pun mengangguk dengan tangan berusaha menutupi dada dan vagina ku…”kalo gitu nggak usah ditutup tutupi pakai tangan aset kamu itu” katanya ….aku pun melepaskan tangan ku…kemudian mas Mantri sambil tersenyum penuh arti mempersilahkan aku masuk kekamar masih aku dengar orang tadi bertanya “mas Mantri berapa kok bagus barangnya….” “murahhhhh nanti abis gue kamu boleh pake dehhh all in loh…”jawab mas mantri. Saya hanya bisa tambah menunduk…bersukur akhirnya bisa masuk ke dalam sehingga tidak lebih malu lagi…

“lonte….haus nggak loe….” tanyanya, aku lihat mas hari sedang memegang handycam yang di shoot kearah diriku…” nih minum” katanya sambil menyodori penisnya, sayapun langsung menyambut dengan mulut terbuka….”kayanya musti kamu emut2 dulu deh hahaha” saya pun kembali mengoral penis mas Mantri…. tapi tiba2 saya lihat mas hari yang dari tadi memegang kamera tiba2 mendekat ditangannya membawa sesuatu saya kaget melihatnya dia membawa penjepit jemuran terbuat plastik… dan tanpa banyak ba bi bu…di langsung jepit puting susu saya… saya yangsedang meng oral mas Mantri kontan membeliak “eughhhhh sakittttt…” belum berhenti saya melenguh tiba2 sebuah lagi dijepitkan ke puting yang satunya….”….wauuuuuggghhhh suakittttt…eghht” saya baru mau mengerakan tangan saya untuk meraih penjepit tadi tapi tangan saya ditangkap dan dipegang dengan erat oleh mas Hari kemudian dengan sigap dia mengikat tangan saya…pergelangan tangan saya diikat dengan pangkal siku kiri sedang pergelangan kiri dengan pangkal siku kanan.. penis yang tadi saya oral sudah terlepas.. tapi saya liat mas Mantri tidak memaksakan untuk mengulum lagi… dia beringsut kemudian mengambil kamera yang sudah di tinggal oleh Hari…. saat ini saya duduk dengan lutut saya dengan posisi tangan terlipat ke belakang. hari lalu menciumi pipi lalu mengemut daun telinga saya sambil tangannya mengelus2 bongkahan pantat saya diperlakukan seperti itu saya hanya merasa merinding….. mas Hari wajahnya sangat mirip dengan Tukul yang populer di tanah air…. tapi yang ini terlihat dingin dan pendiam…tiba tiba”aughttt sakit masssss” aku berteriak kencang sebab Hari mengigit telinga saya…kemudian tiba2 diamendorong saya kedepan sehingga saya jatuh dengan kepala kelantai ….. saat ini  posisi saya menungging dengan bagian depan saya bertumpu pada pipi kanan saya… dengan kakinya kemudian dia menendang2 kaki saya memberi isyarat agar saya melebarkan kaki…karena posisi saya itu sedikit sulit saya lakukan sehingga saya jadi sedikit lambat…tampaknya dia tidak sabar dan langsung melepas ikat pinggang kulitnya dan ctarrrrrr…langsung digunakan menyabet pantat putih saya….”aghhhhhh sakittttt masss….”saya berteriak sekilas saya lihat wajah mas mantri dibalik kamera menegang… tapi mas Hari tetap dingin ….dengan jarinya kemudian dia menusuk2 lubang vagina saya…kemudian mencubit2 bibir vagina saya… dan tiba2″augggghhhhhh massss sakittttt” hampir saya pingsan ketika mas hari kembali mengunakan penjepit jemuran untuk menjepit bibir vagina saya…dikanan dan dikiri…dan kembali saya terkejut ketika sebuah lagi dia jepitkan di itil saya…dan kali ini karena itu bgian yang paling sensitif sakitnya jadi sangat tidak tertahan …sayapun berteriak sekuatnyaaa…”Auuuuuughhhhtttttttt massssssa saskiiiiitsssss” mata saya berkunang2 …dan mulai menagis…hampir saya pingsan…”sudah massss sakittttt….saya sudah tidak kuaaa…hepppp” belum selesai saya berteriak mulut saya telah disumpalnya…dan tampaknya disumpal denga celana dalam bekas milik mas hari…..

Kemudian dia mengitari saya dan memencet hidung saya…dengan mulut tersumpal dan hidung saya di pencet sedemikian rupa hampir2 saya pingsan karena tidak dapat bernapas… tapi kemudian dia melepas jepitan tangannya di hidung saya…lalu membalikan tubuh saya sehingga tubuh saya terlentang dengan tangan terikat di punggung buah dada saya nampak mengacung keatas…seperti dua bongkah gunung yang indah dengan penjepit jemuran dimasing2 puncaknya…warnanya tidak lagi merah tetapi mulai keunguan…kemudian mas hari mulai mengambil tali dan dengan sedemikian rupa mengikat kaki saya masing2 sehingga betis dan paha saya menyatu.dan tidak bisa di luruskan

dan dibelakang lutut kedua kaki diselipakan sebuah batangan kayuyang diatur posisinya sehingga kaki saya mengangkang lebar….dan terlipat kebelakang …rasanya sakitt luar biasa…kemudian dengan tiba2 cletik…. dia mencabut penjepit di buah dada sebelah kiri begitu tiba2 sehingga menyakitkan…. setelah itu dengan cepat dipasangnya kembali seolah2 sedang mengetes kekuatan penjepit itu…. dan itu dilakukan ke semua penjepit yang terpasang sehingga saya merasa sangat kesakitan… setelah semua selesai di tiba2 bangkit dan seperti mencari2 sesuatu di lemari es… dan kembali dengan sebuah ketimun jepang yang besar… dan digesek2annya ke lubang vagina saya…ketimun itu terasa dingin…dan tanpa peringatan tiba2 sleppp “aughttttttt….” ketimun itu dimasukannya dengan paksa ke vagina saya sampai masuk 3/4 nya… kemudian dia mengalihkan pandangannya kelubang yang lain…lubang anus ku…segera aku menggeleng2 tapi dia malah tersnyum penuharti…diambilnya seuntai manik2 sebesar kelereng berjumlah 15 butir didalam untaiannya dan kemudian dengan paksa dia menekan masuk satu persatu setiap manik2 itu hingga tinggal 3 untai lagi… kemudian dia duduk memandangi diriku….semua adegan diambil gambarnya oleh mas mantri… kemudiann cetarrrrrr tiba2 mas hari kembali menyabet kan sabuknya ke tubuh ku yang putih sehingga membekas merah..dia kemudian mulai meraba2 tubuhku dan meciumiku sedemikan rupa…sehingga entah bagaimana gairah aneh tadi kembali terjadi…

Kemudian dia mengocok2 ketimun yang ad di vaginaku tadi… sehinggaaa”eghhhhhh eghhhhh …” hanya itu yang keluar dari mulut ku karena tersumpal celana dalam mas Hari.tiba2 tubuhku mengejang karena orgasme….sungguh perasaan yang aneh telah mendera diriku…dalam keadaan sakit dan lemas aku melihat mas hari sedang mengocok2 penisnya sendiri didekat ku dan crot crot…. rupanya dia terangsang hebat melihat keadaan diriku… semua air maninya ditumpahkan ke wajah dan tubuh ku…

setelah itu dia pun melepaskan semuanya penjepit dan ikatannya…Saya hanya bisa terbaring lemah…aku lihat kini kamera sudah berpindah tangan lagi…

Mas Mantri yang bertubuh gempal…besar… mengendong tubuh lemah saya ke atas tempat tidur..mulai menciumi diriku..memacu gairah diriku… dia mulai memainkan itilku dengan lidahnya….yang masih terasa sakit akibat perlakuan mas Hari….tapi “ughhhhhh nihkkmaaaahhhttt mas euanaaakkkk…ueghhhhhh” saya mulai mengelepar2 ketika lidah mas Mantri mulai menari nari di itil ku sambil kedua tangannya sesekali memilin milin puting ku… kemudian di sergapnya mulut dengan ciuman yang dasyat… lidahnya mempermainkan lidah ku memaksa lidah kuturus menari2 huahhh enak sekaliiii.. kemudian dia mulai

melepas pakaiannya sendiri … terlihat penisnya yang besar  mengacung ke atas membuat hati ku bergetar… ”lonte kamu suka ini…”sukaaa tuannn sukaa”hampir diluar sadar aku meracau kata2 yang sangat memalukan itu…. baik kamu harus memohon “tolong tuannnn….saya sudah tidak tahan..””tolong apa….”  “yang jelas…..” “tolong masukan batang tuan ke memek saya tuannnn tolonggg” ” baik saya akan menolong mu lonte”dan sleppp “eughhhhhh….”dia memasukan penisnya ke vaginaku kembali gairah aneh menguasai diriku….seolah liang vagina ku terasa sangat penuhhh dan padat denganh benda besar yang kerass dan kenyal…. “ohhhh… ”dia pun mulai memompa dengan cepatnya sehingga aku merasa itil dan bibir vagina ku ikut keluar masuk karena padatnya penis mas Mantri… menimbulkan sensasi luar biasa… kembali aku melihat mas Hari merekam dengan kamera di tangannya…..

Setelah beberapa menit aku tidak tahan lagi hingga tubuh ku terguncang2 hebat dan “ohhhhhh tuaaannnn saya kelauarrrrrrrr”  namun nampaknya mas Mantri belum mencapai klimaks dia tiba2 memangku tubuh saya dan dalam keadaan sambil di pangku berhadapan dengannya mulutnya bermain di buah dada saya dan terus memompa saya naik turun…”ahhhhhh tuaaaannnnnnn” saya benar sudah tidak tahaaaan dan kembali mengalami klimaks namun mas Mantri masih belum juga orgasme….. dia kemudian membalik tubuh saya dan…. dia menemukan 15  butir manik2 yang menancap dipantat saya dan lupa dicabut oleh mas Hari…. kemudian kembali dia menembus vagina saya dari belakang sambil tangannya pelan2 menarik manik2  keluar dari liang anus saya… sehingga menyebabkan saya segera mencapai klimakss beikutnya “eghhhhhhttttt ” saya lihat hari tersenyum penuh arti dibalik kameranya…. tidak lama kemudian tiba2 dengan kasar mas Mantri mencabut penis besarnya dari vagina ku dan membalik diriku sehingga terlentang. Dan crot crot…crottt mani menyembur ke tubuh dan wajah ku lalu dia memaksa diriku membersihkan penis miliknya dengan menggunakan mulut ku….

Kemudian masih dalam keadaan tubuh dan wajah penuh mani tiba2 mas mantri mengambil alat cukur kumis miliknya.. dan dia mulai mencukur bulu jembut ku ..awalnya aku meronta aku takut kalau mas aries sampai bertanya ada apa sampai aku mencukur botak jembut ku….tapi kemudian saya pasrah dicukur sampai habi…

Lalu mereka memberikan mantelku “pakai..kita jalan jalan…”kata mas Hari….terus terang setiap mendengar dia bicara bulu kuduk ku langsung merinding wajahnya yang kaya Tukul tidak membuat  dia menjadi sama lucunya…

kemudian dengan diapit ke dua orang itu aku berjalan keluar menuju ke tengah kota…

banyak orang yag nampak memperhatikan diriku aku merasa terutama disebabkan oleh mantel ku yang tidak terlalu panjang dan bawahnya lebar tidak dapat  menyembunyikan aku tidak memakai apa2 lagi didalamnya…. dan bau tubuh ku…benar2 bau air mani laki2… walau aku sudah merias kembali wajah ku wajah ’puas’  didiriku benar masih terlihat jelas…

Perjalanan masih panjang….