The Fallen Princess 3: Musuh Dalam Selimut

The Fallen Princess 3: Musuh Dalam Selimut

Putri

Sebulan telah berlalu, Putri dan Sapto semakin mesra setiap harinya, hampir tak bisa dipisahkan. Putri pun sudah menjelma menjadi penerus Reisha. Keahlian ranjangnya sudah setara dengan Reisha. Sangat cepat dia menyerap semua ajaran Sapto. 5x lebih cepat daya serap Putri dibanding Reisha. Tak heran kalau kerinduan Sapto akan keintimannya dengan Reisha, kini terobati dengan keintimannya bersama Putri. Putri juga sudah menerima Sapto dengan sepenuh hati, setiap bercinta dengan Sapto kini Putri lakukan dengan senang hati, tidak ada rasa terpaksa seperti dulu. Dan selama 1 bulan, Putri selalu sarapan sperma Sapto. Sejak menyantap sperma Sapto setiap pagi, Putri merasa ada perubahan. Di sekolah, dia tidak pernah merasa lemas dan ngantuk lagi. Dia jadi selalu bersemangat setiap harinya sehingga mudah menyerap pelajaran dan nilai ulangan hariannya sangat bagus. Mungkin karena sperma Sapto yang kaya protein membuat tubuhnya sehat dan terus bertenaga. Akhirnya, Putri pun jadi senang ‘memerah’ penis Sapto setiap pagi. Tapi, Putri tetap tidak mau berkeliaran di dalam rumah jika tidak memakai sehelai benang pun seperti kakaknya. Padahal, Sapto ingin sekali melihat Putri berlalu-lalang di sekitarnya tanpa pakaian. Memang, tubuh indah Putri sudah menjadi pemandangan Sapto sehari-hari, tapi melihat Putri telanjang selain di dalam kamarnya adalah fantasi liar Sapto.

“Mang Sapto..”, lirih Putri lembut berada di dalam rengkuhan Sapto setelah bercinta dengan sangat panas.

“iya non..ada apa?”.

“Mang Sapto mau bantuin Putri kan?”.

“iyalah mau non..emang mau minta tolong apa?”.

“Putri mau balas dendam..”, nada suara Putri berubah.

“beres non..Mang Sapto bakal bantuin non Putri..”. Lalu mereka berdua berpelukan lebih erat dari sebelumnya. Keduanya sama-sama tahu, mereka berdua akan saling menjaga dan membantu satu sama lain. Pembunuhan pasti tidak akan seru, Putri memikirkan cara untuk membuat target pertamanya malu seumur hidup dan kalau bisa, sampai hidup segan mati pun tak mau. Sapto dan Putri pun mulai menyusun rencana. Tapi, sedang asyik-asyiknya terus berduaan setiap hari, orang tua Putri pulang. Awalnya mereka berdua bingung, bagaimana caranya menghabiskan waktu bersama jika ada orang tua Putri. Dulu, orang tua Reisha dan Putri meski masih jarang ke luar kota, mereka terus pergi sehingga Reisha dan Sapto hanya tinggal memikirkan keberadaan Putri dan Reisha sampai sering bolos sekolah hanya untuk menghabiskan waktu bersama Sapto, tapi kini, orang tua Putri dan Reisha sering berada di rumah. Bukan Sapto namanya jika kehabisan akal. Sapto yang bertugas antar-jemput Putri, ‘menculik’ Putri setiap hari ke rumahnya. Tentu, Putri mau saja setiap hari ke rumah Sapto. Berbagai alasan, Putri utarakan ke kedua orang tuanya mulai dari pelajaran tambahan, ekskul, belajar kelompok, mengerjakan tugas, dll. Kedua orang tuanya percaya saja karena yang mereka tahu, Putri adalah anak yang baik dan pintar. Kini, Putri tidak pernah lagi makan malam bersama karena setiap malam dia selalu pulang dalam keadaan kenyang. Kenyang karena sperma Sapto. Dan untuk ‘sarapan’ pagi, Putri menguras penis Sapto selama perjalanannya ke sekolah.

***********************************

Nadya

“Nad..mau ke mana lo?”.

“gue mau balik ah Ta..bt gue..”.

“yaudah..terserah..”.

“Nit..gue balik duluan ya..”.

“oke..”.

Setelah cipika cipiki ke kedua temannya itu, Nadya keluar meninggalkan club favoritnya. Mobil Nadya melaju kencang menembus kegelapan malam karena dia memang sedang sangat bad mood. Tapi, lama-lama mobilnya terasa aneh. Mobilnya terasa berguncang-guncang sepanjang jalan. Nadya meminggirkan mobilnya di jalanan yang sudah sepi. Rupanya, ban belakang mobilnya kempes.

“mampus gue..pake kempes segala..”, Nadya kebingungan, bannya kempes di jalanan yang sepi, ditambah sekarang jam 2 pagi, mana ada bengkel yang masih buka. Teleponnya mati, lupa di cas olehnya. Tiba-tiba ada seseorang yang datang dari kejauhan.

“Pak…maaf..bisa bantu saya?”.

“oh iya..ada apa neng?”.

“ban saya kempes..”.

“yah neng..malem-malem gini..gak ada bengkel yang buka..”.

“tolong Pak…”.

“mm..bentar neng..saya coba ke bengkel teman saya dulu..mudah-mudahan masih bangun..”.

Dengan sabar, Nadya menunggu bapak tadi. Tidak ada pilihan lain, mau pulang dan kembali lagi, tak ada kendaraan yang lewat. Tak lama kemudian, ada empat orang laki-laki yang datang.

“wah..ternyata mobilnya neng cakep toh..pantes aja tadi gue mimpi ketiban duren..”.

“ngomong aje lo ! cepet dorong !! neng masuk ke mobil aja..”.

“gak apa-apa, Pak?”.

“iya gak apa-apa neng..deket ini..”. Nadya masuk ke dalam mobil, dan empat orang itu mendorong mobil Nadya sampai di depan sebuah bengkel.

“neng..kayaknya ban dalemnya sobek..harus diganti..ato neng punya ban cadangan?”.

“ban cadangan? gak ada Pak..gimana dong?”, Nadya bingung karena melihat bengkelnya sangat kecil, tak mungkin ada ban mobil.

“kemarin ada sih..ban yang ukurannya sama kayak gini..tapi punya orang..”.

“gak apa-apa deh, Pak..saya beli 2x lipat..tolong Pak..”.

“o yaudah kalo gitu neng..”.

“nah neng duduk aja dulu..”.

“iya Pak..makasih..”.

“nih neng..minum teh anget dulu…”.

“makasih..Pak..”.

“aahh..”. Tenggorokan Nadya terasa lega sekali, disiram teh manis hangat di malam yang dingin.

“oh iya neng namanya siapa?”.

“nama saya Nadya, Pak..”.

“oh Nadya..kalau saya Sapto..neng Nadya malem-malem gini..ada di luar?”.

“iya Pak..saya abis dugem..”.

“oh dugem..kalo saya sih gak pernah dugem neng..paling dangdutan..hehe..”. Sapto terus memancing-mancing Nadya hingga Nadya akhirnya merasa nyaman dan senang berbicara dengan Sapto. Tapi, Nadya merasa ngantuk, padahal biasanya dia ngantuk kalau sudah jam 4 pagi, tapi sekarang baru jam setengah 3. Berkali-kali Nadya menahan kantuk, tapi akhirnya pandangan Nadya gelap. Nadya terbangun di sebuah kamar yang kotor.

Nadya ngantuk

“siapa kalian ??!!!”, Nadya kaget ada 3 orang yang memakai topeng yang mengelilinginya.

“tenang aja neng cantik…kita cuma mau numpang buang peju di memek neng..wahahahaha !!!”.

“liat..bodynya mantep banget..bakalan puas nih..”.

Mendengar hal itu, Nadya langsung menyadari tubuhnya terlentang tanpa ditutup sehelai benang pun. Tubuhnya menjadi tontonan menarik bagi 3 pria bertopeng itu. 3 orang itu memandangi Nadya dengan pandangan lapar. Tak pernah di hadapan mereka ada seorang gadis cantik yang terlentang pasrah dengan tubuh yang sangat indah dan menggiurkan. Nadya langsung menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya.

“tenang aja neng..gak usah ditutup segala..hehe..”. Salah satu pria memegang dan menjauhkan kedua tangan Nadya.

“LEPASIN !! LEPASIN !!!”, satu orang lagi menahan kedua kaki Nadya yang tadi menendang-nendang. Satu orang lagi menggerakkan tangannya mendekati kedua payudara Nadya. Sebut saja dia Joko. Joko memilin-milin kedua puting Nadya. Desahan kecil keluar dari mulut Nadya di sela-sela kata-katanya yang menolak dan mengatai Joko. Joko hanya terkekeh dan terus memainkan kedua puting Nadya sebelum akhirnya Joko mengemuti dan menggigiti kedua puting Nadya bergantian.

“nnghh..gakkhhh…”. Pria yang memegang kedua tangan Nadya (sebut saja Jaja) pun melepas kedua tangan Nadya karena Nadya mulai ‘melemah’.

Jaja langsung menyedot-nyedot puting kanan Nadya yang nganggur. Kini, Jaja dan Joko seperti lintah yang menempel erat di payudara Nadya. Tak mau lepas dari payudara yang indah itu. Saatnya penyerangan terakhir. Jaja dan Joko mengangkat dan melebarkan kedua kaki Nadya. Vagina Nadya benar-benar terbuka untuk ‘serangan’.

“jangan..jangann..”. 3 orang itu hanya tersenyum licik, malah semakin bernafsu mendengar penolakan dari Nadya. Dan melihat daerah vagina Nadya yang bersih, terawat, dan rapih, orang yang ketiga, sebut saja Deni, langsung mengelus-elus vagina Nadya. Jari-jari Deni bergerak perlahan menyusuri vagina dan pangkal paha Nadya membuat Nadya secara tak sadar melirih pelan. Gairah Nadya semakin lama semakin naik seiring tangan Deni yang terus bergerak menelusuri daerah pribadinya. Tak bisa dipungkiri lagi, Nadya yang sudah 2 minggu tak disentuh pria karena baru putus dengan pacarnya mulai menikmatinya. Tubuhnya merespon positif sentuhan Deni.

“enak ya neng? kekeke..”. Muka Nadya agak memerah mendengar ejekan dan tawa Jaja dan Joko, tapi memang nikmat apalagi Jaja dan Joko kini juga ikut mengelus-elus vaginanya. Nadya sudah seperti pasien dengan 3 dokter yang siap ‘mengoperasi’nya. Tubuh Nadya terlentang pasrah untuk dijadikan ‘mainan’ 3 pria yang sama sekali tak dia kenal.

“eemmhhh…”, Nadya melirih pelan menikmati Deni yang kini menyapu belahan vaginanya berkali-kali. Jaja dan Joko pun kembali asik menyedot kedua puting Nadya dengan kuat sampai pipi mereka kempot seperti ingin menyedot susu dari payudara Nadya. Klitoris Nadya pun menjadi bulan-bulanan lidah Deni berikutnya. Nadya sudah tidak peduli sama sekali, yang penting dia merasa nikmat yang luar biasa.

“oohhh…mmmhhh…”.

“enak ya neng? hehehe..”.

“iyaa..hhh..terusshhh..bangghhh !!!”.

“beres neng..kekeke…”. Jaja tergoda dengan bibir Nadya yang kelihatan merah merekah. Jaja langsung memagut bibir Nadya habis-habisan dan Nadya yang sudah terbakar api birahi pun membalas Jaja sehingga mereka berdua berciuman dengan panas.

Sedangkan, Joko menikmati kedua buah payudara Nadya dengan serakah. Puas melumat bibir Nadya, Jaja iseng meludah ke mulut Nadya. Tanpa disangka, Nadya menelan ludah Jaja tanpa ragu-ragu.

“demen nelen ludah gue lo ye ?? nih gue kasih lagi…wahahaha…”. Jaja meludah berkali-kali ke mulut Nadya dan Nadya pun menelan ludah Jaja terus seperti orang kehausan. Sepertinya, Nadya sudah terlalu larut dalam kenikmatan sampai-sampai ia sudi dan tidak segan-segan menelan ludah pria yang sedang memperkosanya.

“gila !! nih cewek kuat juga..”, Deni kebingungan. Nadya belum orgasme padahal lidah Deni masih setia membelai vaginanya. Tapi akhirnya, Deni berhasil membuat Nadya mengejang dan mengucurkan cairan vaginanya yang manis itu yang langsung diseruput habis oleh Deni. Joko dan Deni bertukar posisi sementara Jaja masih senang melihat Nadya yang begitu lahap menelan ludahnya terus menerus. Tapi, Jaja pun ingin juga merasakan manisnya vagina gadis cantik ini. Setelah mereka bertiga mencicipi manisnya vagina Nadya, Deni, Jaja, dan Joko melucuti pakaian mereka masing-masing. Mereka menyuruh Nadya turun dari tempat tidur. Dengan patuhnya, Nadya turun lalu bertumpu dengan kedua lututnya di lantai yang kotor itu. Nadya yang sudah larut dalam birahi menjadi semakin patuh setelah melihat 3 ‘senjata’ besar yang sekarang mengelilinginya.

Deni menarik tangan kanan Nadya ke penisnya dan tangan kiri Nadya sudah menggenggam batang Jaja. Tanpa disuruh, Nadya mulai mengocok 2 penis di tangannya itu. Joko menyodorkan penisnya ke mulut Nadya. Nadya langsung menghangatkan penis Joko dengan mulutnya sambil terus mengocok 2 penis lainnya.

“Oohh…enaakhh…ajiibbhh..”. Joko mengerang keenakan, tak menduga gadis cantik ini begitu lihai mengulum penisnya. Nadya mengeluarkan penis Joko dan langsung berpindah ke penis Deni, Nadya mengocok penis Joko yang berlumuran air liurnya. Bosan dengan penis Deni, penis Jaja yang sekarang mendapat service mulut Nadya.

3 orang itu menikmati service Nadya. Sesuai informasi yang mereka dapat, gadis cantik yang sedang mengulum penis mereka ini memang sudah tidak perawan dan sering melakukan seks, tapi Jaja, Joko, dan Deni tak menyangka kalau korban mereka ternyata begitu lihai memanjakan penis mereka. Jaja dan Deni mengangkat dan menaruh tubuh Nadya di tempat tidur lagi. Mereka berdua melebarkan kedua kaki Nadya sementara Joko mengelus-eluskan penisnya ke belahan bibir vagina Nadya.

“hheengggkkhhh !!!!”, pekik Nadya kesakitan, Joko menghentakkan penisnya yang besar dan tebal itu dengan sekali hentakan.

“oogghhh..ajiiib…sempithh..mantephh..”. Joko berdiam menikmati jepitan dinding vagina Nadya di penisnya. Joko mulai menarik dan mendorong penisnya.

“hhnnhh..hhnnggghhh..”. Nadya masih agak ngilu merasakan penis besar itu terus bergesekkan dengan dinding vaginanya. Lalu Nadya pun disibukkan dengan 2 penis besar lainnya yang kini ada di depan wajahnya. Penis Joko terus merojoki vagina Nadya dengan brutal, keluar masuk seenaknya.

Tapi, lama kelamaan, vagina Nadya pun beradaptasi dengan ukuran penis Joko sehingga hanya rasa nikmat yang kini dirasakan Nadya. Jaja dan Deni kompak menggerakkan penisnya ‘melindas’ kedua puting Nadya bolak-balik sebelum mereka memukul-mukulkan penis mereka sendiri ke payudara Nadya. Payudara Nadya berguncang-guncang dipukul-pukul seperti itu.

“aaahhhh !!!”, tubuh Nadya menegang mendapat orgasmenya.

Hangat rasanya. Penis Joko terasa semakin hangat diguyur cairan vagina Nadya. Joko mencabut penisnya. Vagina Nadya hanya ‘kosong’ untuk beberapa detik karena penis Jaja langsung menyesaki vagina Nadya yang belum sempat beristirahat. Deni minggir sebentar untuk membiarkan Joko ‘mencuci’ batangnya ke mulut Nadya. Nadya pun orgasme lagi setelah diaduk-aduk Jaja. Selanjutnya, penis Deni gantian yang mengisi liang vagina Nadya. Mereka bertiga terus menggilir vagina Nadya sampai Nadya pun lemas karena orgasme terus menerus. Tubuh Nadya kini seperti boneka, hanya bergerak mengikuti gerakan penis yang mengait vaginanya. Penis Joko sekarang menancap di vagina Nadya untuk yang ketiga kalinya. Joko mengangkat tubuh Nadya. Kini, Nadya duduk di atas selangkangan Joko. Vaginanya terkunci dengan penis Joko. Tubuh Nadya tersentak ke atas menerima hentakan penis Joko.

“oouhhh…mmhhh…yeesshhh..Goddhh…”. Joko menghentikan gerakan penisnya.

Nadya tanpa sadar menggerakkan pinggulnya untuk tetap mengocok penis Joko. Nadya tidak peduli lagi jika dia seperti pelacur yang sedang keenakan bergoyang dengan liar di atas penis orang yang tak ia kenal. Joko pun tersenyum melihat gadis cantik yang sedang asik bergoyang di atas penisnya. Nadya terlihat begitu menikmati persetubuhan ini, belum pernah dia rasakan vaginanya penuh sesak seperti sekarang karena pacarnya tidak sebesar ini sehingga rasa malu dan hina yang Nadya rasakan kalah mutlak dengan hawa nafsu yang sudah mencapai ubun-ubunnya. Joko menarik Nadya dan mendekapnya dengan erat. Joko pun menghujami vagina Nadya sekuatnya sampai Nadya klimaks. Tak ada tenaga lagi yang tersisa di tubuh Nadya, tubuhnya bagai tak bertulang dan tak bersendi. Nadya menengok ke belakang saat merasa ada sesuatu di liang anusnya. Rupanya Deni sedang melebarkan lubang pantat Nadya dengan kedua jarinya. Deni menggesek-gesekkan penisnya ke belahan pantat Nadya dan memukul-mukul kedua bongkahan pantat Nadya.

Antara takut dan penasaran yang Nadya rasakan saat kepala penis Deni menempel di lubang pantatnya bersiap untuk masuk ke dalam. Takut saluran anusnya cidera dan berdarah dimasuki penis sebesar itu, tapi juga penasaran bagaimana rasanya.

“pengen tau gue..rasanya nyodok pantat cewek cakep..gwahaha !!!!”. Kepala penis Deni mulai menyundul masuk ke dalam liang anus Nadya.

“hnnnnhhh !!!”, lenguh Nadya merasakan lubang pantatnya terasa amat pedih dan panas.

Batang kejantanan Deni terus masuk menerobos liang anus Nadya dengan pelan tapi pasti, dan lubang pantat Nadya melar menyesuaikan diameter penis Deni. Penis Deni sudah 3/4 masuk ke ‘rumah’ barunya. Deni sengaja mendorong penisnya dengan perlahan. Deni tak ingin membuat lubang pantat Nadya luka karena dia ingin menyodomi Nadya dan merasakan pantat Nadya yang hangat dan sempit. Bagian bawah tubuh Nadya benar-benar terasa penuh sesak, bagaimana tidak, ada 2 penis yang besar yang sedang ‘menghuni’ vagina dan anus Nadya di saat yang bersamaan. Kedua penis itu mulai bergerak. Nadya mengerang kesakitan di sela-sela desahan kenikmatannya. Lama kelamaan Nadya tidak merasakan pedih lagi di lubang pantatnya, yang dia rasakan kini hanyalah kenikmatan yang bertambah 2x lipat dari sebelumnya. Tubuh Nadya yang indah, kuning langsat, dan mungil itu terhimpit di antara 2 pria berbadan besar. Nadya tidak mungkin lepas dari himpitan karena 2 penis yang mengait vagina dan pantatnya seperti mengunci posisi tubuhnya agar tidak bergerak kemana-mana. Di depan mata Nadya, terpampang kepala penis Jaja.

“daripada megap-megap gitu..mendingan makan kontol neng..wahahaha !!!!”. Jaja pun mencekoki Nadya dengan penisnya.

Kini, lengkap sudah, 3 lubang pada tubuh Nadya, semuanya sudah ada ‘penghuni’nya yang aktif keluar masuk. 3 penis itu hampir seirama dan selaras bergerak keluar masuk tubuh Nadya melalui 3 lubang yang berbeda. Nadya sudah tenggelam dalam kenikmatan, Nadya ingin 3 penis ini tetap keluar masuk tubuhnya selamanya karena nikmat luar biasa.

“OOKKKHHH !!”, Joko menghentakkan penisnya ke atas dan menyemburkan spermanya ke rahim Nadya. Begitu selesai, Jaja menarik penisnya dari mulut Nadya, Deni mengangkat tubuh Nadya dan Joko langsung turun dari ranjang karena penisnya sudah lemas setelah menumpahkan isinya ke dalam rahim Nadya.

Kini, Deni berada di bawah Nadya dengan penis yang tetap menancap di anus Nadya dengan kokoh. Jaja langsung mengisi vagina Nadya yang sedang ‘kosong’. Sesuai instingnya, Nadya melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jaja. Desahan-desahan Nadya begitu menggairahkan. Tak lama kemudian, Jaja tidak kuat menahan lama-lama, dia pun menyirami rahim Nadya dengan spermanya. Begitu selesai, Jaja mengangkat Nadya dan membuatnya tidur terlentang dengan kaki yang mengangkang dengan lebarnya. Jaja menyiapkan vagina Nadya untuk menerima penis terakhir yang belum membuang isinya yaitu penis Joko. Begitu penis Joko dan vagina Nadya sudah saling terkunci, Jaja meninggalkan mereka. Joko menciumi leher Nadya dengan bergairah sambil terus menggenjot vagina Nadya. Joko sangat mengagumi tubuh indah Nadya. Kulitnya halus dan wajah cantiknya membuat Joko ingin berlama-lama menikmati Nadya. Dan Nadya pun ingin Joko terus memompa vaginanya. Joko akhirnya menuntaskan hajatnya, benih-benihnya sudah tersebar di dalam rahim Nadya.

“ayo neng..dibersihin dong kontol gue..hwahaha !!”. Nadya pun membersihkan penis Joko dengan seksama seakan-akan dia berterima kasih kepada penis itu sudah ‘menyikat’ vaginanya dengan sangat baik.

“tenang aja neng..ntar kita balik lagi kok..kekeke…”, Joko terkekeh-kekeh dan tersenyum penuh kemenangan sambil ke luar kamar meninggalkan Nadya sendirian.

Nadya sendirian di kamar itu, telanjang, nafas tersengal-sengar, tubuh yang berlumuran air liur serta vagina yang seperti banjir sperma. Di dalam rahim Nadya, bermilyar-milyar sperma dari 3 orang yang berbeda tercampur rata dengan cairan vaginanya sendiri. Tidak tahu bagaimana jadinya jika dia sampai hamil. Nadya terbaring lemas tak berdaya di atas tempat tidur. Nadya sama sekali tak menyadari kalau ada beberapa kamera beresolusi tinggi yang diletakkan di berbagai angle di kamar itu merekam peristiwa tadi.

Sementara itu, di teras rumah yang sederhana Joko, Jaja, dan Deni sedang merokok, mengobrol sambil tertawa penuh kemenangan karena telah merasakan nikmatnya meniduri gadis cantik. Ada 3 orang yang mendekati rumah itu sebut saja Dadang, Parjo, dan Wawan.

“mana korbannye?”.

“tuh di dalem..baru aje selese kita pake..pake aje sono..”.

“cakep ‘n bohay gak?”.

“gak usah lo tanya..kontol gue aje ampe lemes saking nafsunye ngeliat muka ‘n bodynye..”.

“jadi gak sabar gue..”.

Mereka bertiga langsung masuk ke dalam kamar tempat Nadya terbaring lemas.

“alo neng..”. Nadya melihat ke 3 orang yang sudah telanjang bulat dengan matanya yang sudah sayup-sayup.

“yah memeknya udah belepotan gitu..”.

“udeh..kita langsung tancep aje..kapan lagi bisa ngerasain ngentotin cewek cakep kayak gini..hehe..”.

“yoi mamen..”. Nadya pun tidak bisa apa-apa dan pasrah menerima perlakuan 3 pria bertopeng itu. Sementara itu, di kamar sebelahnya, ada 2 orang yang sedang asik bermesraan.

“non..kayaknya si Nadya itu malah keenakan diperkosa ama temen-temennya Mang Sapto..”.

“ya Mang..kayaknya malah keenakan..”. Mereka berdua mendengar desahan-desahan yang terdengar dari kamar sebelah.

“tapi denger kamar sebelah..Mang Sapto jadi nafsu nih..hehe..”.

“ih..dasar Mang Sapto..”. Putri mengangkat kedua tangannya ke atas agar Sapto mudah menarik kaosnya. Kemudian, Putri tidur terlentang. Sapto membuka celana jeans Putri. Terpampanglah tubuh Putri yang putih mulus. Benar-benar pemandangan yang sangat indah dan diidam-idamkan para lelaki.

Sapto berada di atas Putri mendekati bibir Putri, tapi tiba-tiba pintu kamar terbuka. Spontan, pasangan itu melihat ke arah pintu.

“wah..enak banget lo To..sendirian aje..gue ikutan nape..”, Deni mengomentari melihat Sapto yang menindih gadis cantik dengan tubuh yang benar-benar mulus, tak ada cacat.

“enak aje lo..jatah lo di kamar sebelah..ini jatah gue..”. Sapto berjalan ke arah Deni.

“ayolah To..kayaknya neng Putri mau maen betiga? ya kan neng Putri?”. Deni memang lebih suka cewek mungil seperti Putri dibanding Nadya yang postur tubuhnya seperti model, jadi tak heran Deni ngiler berat melihat Putri yang telanjang.

“ng..”. Putri tidak menjawab, dia hanya menutup payudara dan daerah vaginanya dengan kedua tangannya. Putri tidak ingin payudara dan vaginanya dilihat orang lain selain orang tua, kakaknya, dan terakhir tentu saja Sapto.

“tuh..ditutupin kan? udeh lo sono akh !! ganggu aje lo !!!”, Sapto pun mendorong Deni keluar kamar.

“ah..pelit lo To !!”.

“ganggu aje..”. Sapto pun mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggu kebersamaannya dengan majikan tercintanya.

Yakin, tak ada yang mengganggu lagi, Putri menjauhkan kedua tangannya dari payudara dan vaginanya siap untuk Sapto. Deni masuk ke dalam kamar tempat Nadya sedang dikeroyok sambil ngedumel. Deni pun bergabung dengan 5 pria lainnya menggilir Nadya dan membuang sperma seenaknya ke dalam dan ke tubuh Nadya. Malam itu, meski tak sampai terdengar ke luar, rumah Sapto lebih ramai dari biasanya. Ramai karena desahan-desahan dari 2 gadis cantik yang sama-sama sedang tenggelam dalam kenikmatan ragawi meski dalam 2 kamar serta 2 kondisi yang berbeda. Di kamar yang satu, Putri dan Sapto sedang bercinta dengan penuh hasrat yang menggebu-gebu satu sama lain. Begitu intim, mesra, dan penuh kehangatan bagai pasangan suami istri yang baru saja menikah. Dan di kamar lain, ada Nadya yang sudah lemas digilir 6 pria dengan penis yang besar-besar yang bergiliran menyetubuhinya terus menerus.

Nadya terbangun, membuka matanya. Nadya benar-benar mengalami mimpi buruk, aneh, dan agak menyenangkan. Disetubuhi 6 pria semalaman suntuk, benar-benar mimpi yang aneh.

“Waaa !!”, teriak Nadya ketika membuka selimutnya.

Tubuhnya penuh noda-noda putih apalagi daerah vaginanya. Berarti yang dikiranya mimpi, ternyata benar-benar terjadi. Tapi, seberapa keras pun Nadya mengingat-ingat kejadian sebelum itu, sama sekali tidak ada bayangan. Yang dia ingat hanya ketika dia sudah disetubuhi beberapa pria secara bergantian. Sama sekali tak ada wajah yang terlintas di ingatan Nadya. Nadya hanya bisa merasakan akibat kejadian itu. Vagina dan pantatnya terasa sangat ngilu. Nadya berharap tidak ada yang tahu kejadian itu. Untung hari itu minggu dan juga hari seninnya libur, jadi Nadya tak khawatir harus masuk sekolah dengan jalan mengangkang karena ngilu. 2 hari itu, Nadya gunakan untuk menyembuhkan tubuhnya setelah dipakai 6 pria semalaman suntuk meski Nadya sama sekali tak ingat kecuali kenikmatan yang ia dapatkan. Nadya sekolah seperti biasa, 2 minggu menjelang UAN. Sepulang sekolah, ada sms yang masuk ke handphonenya.

“gimana Nadya?? kayaknya lo keenakan digilir 6 cowok??”. Nadya menelpon nomer asing itu.

“eh siapa lo??”.

“kalo lo mau tau gue siapa..lo dateng ke bioskop 22 di mal MM studio 1..jam 9 nanti..sendiri..”.

“eh tunggu..lo siapa?”. Hubungan telpon itu terputus, dan Nadya tidak bisa menelpon orang itu lagi, sepertinya orang itu mematikan hpnya. Jantung Nadya dag dig dug, rasanya berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang. Malamnya, Nadya datang ke tempat yang ditentukan sendirian tanpa ada yang menemaninya. Resminya, bioskop tersebut sudah tutup karena memang bioskop itu tidak mempunyai jadwal midnite, tapi pintu terbuka. Mal akan segera tutup, Nadya tahu itu, tapi rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya terkunci di dalam mal itu. Nadya masuk ke dalam studio 1, gelap tidak terlihat apa-apa dan tidak ada film yang sedang diputar.

Tiba-tiba layar itu menyala dan memainkan sebuah film.

“aahhh..ooohhh..terusshhh !!”. Nadya terbelalak, film yang diputar adalah dirinya sedang disetubuhi seorang pria.

“gimana Nad? bagus kan filemnya?”. Nadya menengok ke belakang, arah suara tadi. Cahaya dari film yang sedang diputar membuat wajah orang yang ada di belakang Nadya jadi kelihatan.

“Anita ??!!! ll..llo??”.

“gak nyangka gue Nad..lo demen juga di gangbang kayak gitu…”. Anita tersenyum licik.

“jjaa..di..lloo??”.

“iya..gue yang rencanain film itu..dari dulu gue benci ama tingkah lo ama Rena yang sok..”.

“tai lo, Nit !!! gue bakal laporin ke polisi !!”. Tiba-tiba ada yang menyelinap dan memegangi Nadya yang ingin mencekik Anita.

“ckck…”.

“LEPASIN !!!”.

“silahkan kalo lo mau lapor polisi..yang pasti lo bakal jadi bintang bokep terkenal se-Indonesia dengan film lo ini..”.

“sialan lo Nit !!!”. Sumpah serapah keluar dari mulut Nadya mengatai Anita. Anita hanya tersenyum saja.

“haha…terserah lo mau ngomong apa…yang pasti kalo lo gak mau film ini kesebar..lo mesti nurutin semua perintah gue..”.

Nadya memandang sosok Anita dengan tidak percaya. Adik kelasnya yang selama ini patuh kepadanya dan Renata, kini berdiri di depannya dan mengancamnya.

“gimana, Nad?”.

“NGGAK !!! GUE GAK TAKUT SAMA LO !!!!”.

“yaudah..terserah lo..yang pasti mulai besok…lo bakal jadi bintang bokep Indonesia dengan aksi panas lo itu…”. Anita berjalan menuruni tangga ingin keluar lewat pintu masuk studio.

“LEPASIN !! TUNGGU NIT !!!”. Orang yang memegangi Nadya melepaskannya.

Nadya langsung mengejar Anita dan memeluk kaki Anita.

“pleaasee..Nit..jangan Nit..please…”.

“kalo gitu lo bakal nurutin semua perintah gue?”.

“iya Nit..iya Nit..gue bakal lakuin semua perintah lo..tapi please jangan disebar…”.

“oke..mulai besok lo harus lakuin semua perintah gue..”.

“iya Nit..iya Nit..”. Anita pun keluar studio bioskop meninggalkan Nadya. Siapa tadi yang memegangnya?. Sama sekali tidak terlihat apa-apa saat Nadya mengecek setiap bangku bioskop karena film sudah berhenti sehingga gelap total.

Esok hari, Nadya mencari-cari Anita, tapi Anita sama sekali tidak terlihat. Nomer Anita dan nomer yang kemarin tidak tersambung. Berkali-kali Nadya coba di selang waktu yang berbeda tetap tidak tersambung. Tiba-tiba ada sms masuk ke hp Nadya.

“temuin gue di kelas XI-IS 3 jam 7 malem…”. Nadya pun tetap di sekolah sampai jam 7 dengan harap-harap cemas. Nadya menyalakan lampu kelas itu, duduk sendiri di kursi depan. Anita pun masuk ke dalam kelas. Bagai melihat guru killer, jantung Nadya berdegup kencang. Anita mematikan lampu. Terdengar banyak langkah masuk ke dalam kelas, bunyi kursi bergerak, dan terakhir pintu terkunci. Lampu kelas pun menyala lagi. Nadya kaget, tidak hanya dirinya dan Anita yang ada di kelas itu. Tapi, ada 4 orang pria yang duduk di kursi samping kanan dan kiri Nadya. Nadya kenal dengan 4 orang itu. Alex dan Jody, satpam sekolah. Udin, tukang sapu sekolah. Dan terakhir Jamal, salah satu pemilik tempat jajanan di kantin sekolah.

“ngapain mereka ada di sini ?!”.

“mereka cuma mau nonton..”.

“maksud lo ?!!”.

“nonton lo nari..”.

“hehe…iya neng Nadya…kita pengen banget ngeliat neng nari…”.

“ayo Nad..kasian penonton..”.

“sialan lo Nit..liat aja pembalasan gue…”, dalam hati Nadya. Nadya berjalan ke depan kelas.

Bunyi musik pun terdengar. Dengan segan, Nadya menggerakkan tubuhnya sekedarnya saja. Tapi lama kelamaan Nadya bergoyang dengan asiknya, larut dalam musik yang diputar. Anita sengaja memutar musik beraroma trance (bener gak? musik clubbing itu trance bukan sih?) karena Anita tahu Nadya yang dugem 5x dalam seminggu pasti akan tersihir untuk menari ketika mendengar musik ini.

“wooo…terus..terus…”. 4 pria itu menonton Nadya yang bergoyang dengan semangatnya hampir tak berkedip.

“buka ! buka !!”, teriak 4 pria itu memukul-mukul meja.

“denger kan lo Nad??”. Nadya tersadar dan berhenti bergoyang.

“nggak !! gue nggak mau !!!”.

“oh..lo mau terkenal, Nad??”.

“nngg…”.

“ayo !!”

Dengan terpaksa, Nadya mulai membuka satu kancing hemnya.

“sambil nari…”. Nadya pun sangat terpaksa menurutinya. Baru kali ini, Nadya melakukan tari striptease di depan 4 pria yang paruh baya dan semuanya jauh dari kata ganteng. Tinggal tanktop dan hotpants yang menempel di tubuh Nadya. 4 pria itu menelan ludah mereka sendiri melihat kulit Nadya yang kuning langsat itu.

“ayo buka tanktop ‘n hotpants lo sekalian !!”.

“please Nit !! jangan Nit !!”. Tiba-tiba Alex, Jody, Udin, dan Jamal bergerak mendekati Nadya dengan cepat. Alex memegangi kedua tangan Nadya ke belakang, Jody dan Jamal memegangi kedua kaki Nadya.

“LEPASIN GUE !!! GUE LAPORIN LO SEMUA KE POLISI !!!”.

“biarin..yang penting kita semua bisa ngerasain memek lo…hehe !!”, bisik Alex.

Udin memotong kedua tali tanktop Nadya. Tanktop Nadya pun jatuh ke lantai. Baru kali ini, Udin melihat payudara seindah itu. Besar, bulat, dan terlihat sangat kencang dan kenyal.

“LEPASIN !! LEPASIN !!”, Nadya memberontak tapi percuma saja. Tangan Nadya yang ada di belakang membuat payudaranya semakin membusung ke depan seolah menantang Udin. Udin langsung melahap payudara Nadya dengan buas.

“JANGAN !!! JANGAN !!”, Nadya berusaha menjauhkan kedua payudaranya dari Udin. Seperti lomba makan kerupuk, mulut Udin mengikuti gerakan payudara Nadya yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. Tak mau repot lagi, Udin menggenggam kedua payudara Nadya.

“EEGGGHHHH !!! SHITTHHH !!”. Kemarahan Nadya kini ada 2 macam. Marah pada Anita dan 4 orang yang sedang menjamah tubuhnya dan marah kepada dirinya sendiri, sentilan dan emutin yang Udin lakukan di kedua putingnya mulai terasa mengenakkan.

“JANGAN !!”. Nadya berusaha menutup dan menyilangkan kakinya untuk menyusahkan Jody yang ingin melorotkan hotpantsnya. Tapi, Jamal membuat kaki Nadya tak bisa bergerak lagi. Jody pun dengan mudah melorotkan hotpants Nadya.

“buset..ternyata..gini toh bentuknya memek cewek SMA…mantep..WAHAHAHA !!!”.

“enak buat disodok kayaknye Day(Jody maksudnya)..GAHAHAHAK !!”. Jody mengelus-elus vagina Nadya

Nadya mengulum bibir bawahnya agar tidak ada desahan yang keluar dari mulutnya. Alex membuat Nadya memiringkan kepalanya sehingga Alex pun bisa menikmati kelembutan bibir Nadya.

“kobel dikit ah..kekeke..”. Jody mengebor vagina Nadya dengan 2 jarinya.

“sii..allhh..hhhmmhhh !!”. Jamal juga ikut-ikutan melakukan pengeboran, tapi ‘tambang’ Jamal adalah liang anus Nadya. Tentu, Nadya tak bisa melawan lagi. Semua ‘titik’ vitalnya sudah dijamah oleh 4 pria yang tua dan jelek itu.

Nadya kesulitan bernafas, Alex mencumbunya dengan sangat bernafsu karena istrinya memang sedang pulang kampung, sudah 3 minggu Alex tak mendapat jatah. Jadi, tak heran kalau nafsu Alex begitu tinggi, apalagi yang sedang dicumbunya adalah ‘barang’ berkualitas tinggi. Tubuh Nadya pun menegang. Merasa dinding vagina Nadya yang berkedut-kedut, Jody mengeluarkan 2 jarinya.

“gile..ngucur kayak keran…”, komentar Jody melihat vagina Nadya yang mengucurkan cairannya dengan deras.

“wah..asik….gak usah beli miras..kita bisa mabok…”, balas Jamal yang terus asik mengebor pantat Nadya.

“wahahaha..bener juga lo Mal…nyok..kita minum..ampe mabok..”.

“Din..nyedot mulu lo..beresin meja..”.

“oh..okeh..”. Udin langsung mengerti. Kedua puting dan seluruh payudara Nadya berlumuran air liur Udin.

“oi..ngorek-ngorek pantat orang terus..mendingan lo bantuin Udin..”.

“hehe..okeh okeh..”.

“nih juga atu…”, kata Jody memukul kepala Alex.

“adaw sakit..sialan lo..”.

“abisnye..lo mau ngerasain memek die gak? apa mau nyipok die doang lo? mending lo bantuin gue angkat die..”. Mereka berbicara bagaikan Nadya adalah sebuah barang yang tanpa perasaan padahal Nadya sudah malu bukan kepalang rasanya.

“pakh..pleaasehh..janganh..pakkhh..”, pinta Nadya memelas dengan suara lemah.

“tenang neng Nadya..kita cuma mau merkosa neng doang kok..GAHAHAHAK !!”, leceh Udin. Tubuh Nadya terbaring pasrah di atas 4 meja yang sudah dirapatkan tadi oleh Udin dan Jamal. Satu per satu, mereka menikmati daerah pribadi Nadya yang menggiurkan itu. Setiap kali orgasme, cairan vagina Nadya malah semakin banyak sehingga 4 orang itu pun semakin senang ‘menguras’ vagina Nadya secara bergiliran. Nadya diturunkan dari atas meja, dan berdiri dengan kakinya sendiri. Alex, Jody, Jamal, dan Udin menyodomi Nadya dari belakang. Mereka sangat bernafsu melihat pantat Nadya yang mulus dan bulat ditambah vagina dan lubang pantatnya terlihat sangat bagus dari belakang. Nadya pun sudah tidak menolak lagi, dia mulai bekerja sama menyelaraskan gerakan dengan penis siapa saja yang sedang menyodok vagina atau anusnya. Penis ditarik keluar, Nadya akan memajukan tubuhnya dan jika penis didorong masuk, Nadya akan memundurkan pinggulnya agar penis yang sedang ada di vagina atau anusnya terasa masuk dengan lebih maksimal.

“enak gak neng..gue sodok dari belakang?”.

“enaakkhhh…teruusshhh…entotin guee..ooohhhh !!!”, jawab Nadya tak memperdulikan harga dirinya lagi.

4 orang itu tertawa melecehkan Nadya karena gadis cantik dan kaya itu kini, tak malu-malu minta ke 4 pria jelek dan miskin untuk terus menggenjotnya. Nadya tak bisa berpikir lagi, dia hanya mengikuti insting tubuhnya. Nadya menggerakkan pinggulnya maju mundur saat penis yang sedang masuk ke dalam tubuhnya sengaja didiamkan oleh pemiliknya untuk melecehkan Nadya. Melihat Nadya yang begitu menikmati disetubuhi 4 pria secara bergiliran, birahi Anita yang sedang merekam kejadian itu pun terusik. Anita menutup matanya, tak ingin ‘terusik’ lebih jauh. Anita tahu, dia tidak boleh terangsang karena siapa tahu bisa jadi serangan balik untuknya. Anus dan vagina Nadya pun tak ubahnya seperti wadah sperma 4 orang itu. Udin dengan penisnya yang sudah loyo bagai tak bertulang karena sudah 4x menumpahkan spermanya ke dalam tubuh Nadya memotong-motong tanktop dan hotpants Nadya.

“MAMPUS LOO !!! OOKKHHH !!”. Alex menekan penisnya kuat-kuat ke dalam vagina Nadya. Akhirnya mereka semua sudah tak kuat lagi, penis mereka sudah tak mampu bangun lagi. Alex, Jody, Udin, dan Jamal memakai pakaian mereka lagi.

“makasih ya neng…hehe..”, bisik Udin.

“makanya neng..punya muka jangan cakep-cakep…bikin nafsu aja..hahaha..”, bisik Alex. Jamal tidak berkata apa-apa selain memukul kencang pantat Nadya.

“mudah-mudahan…neng Nadya hamil ya..WAHAHAHA !!!”, kata Jody. Mereka berempat bersama Anita meninggalkan Nadya yang belum bisa bergerak karena kedua kakinya masih gemetaran.

“bos..film kedua udah selesai..”, Anita berbicara lewat telpon.

“bagus…sekarang lo ke rumah gue…”.

“ok bos…”.

“neng Anita…kalo diliat-liat..neng Anita manis juga ya..”.

“alah…bisa aja Pak Alex..”.

“pasti enak kalo ditemenin ama neng Anita…”. Tangan Jamal menyusup masuk ke dalam rok Anita dan mengelus-elus pantat Anita yang tidak tertutup apa-apa.

“ditemenin ngapain dulu nih..”, goda Anita sambil mengeluarkan tangan Jamal dari dalam roknya.

“ya nemenin kita-kita di kasur..hehe…”.

“kapan-kapan aja ya Pak…udah dulu ya Pak..Anita mau ke rumah temen dulu…”. Anita pun pergi dengan mobilnya menuju rumah dalang semua ini.

Nadya memakai tanktop dan hotpantsnya lagi dengan agak bersusah payah karena masih lemas. Tanktop Nadya bolong tepat di bagian dadanya, sedangkan hotpants Nadya seperti terbelah dua karena bagian tengahnya bolong sampai ke belakang. Nadya mencari-cari seragam SMAnya, tapi tak ada. Nadya berjalan ke luar kelas dengan tertatih-tatih. Kedua tangannya, Nadya gunakan untuk menutupi payudara dan vaginanya. Sperma yang membanjiri liang vaginanya menetes dari vaginanya seiring gerakan Nadya seperti meninggalkan jejak. Di depan gerbang sekolah, Alex, Udin, Jamal, dan Jody sedang duduk sambil minum kopi dan merokok. Nadya tahu seragamnya pasti disembunyikan oleh salah satu dari mereka, tapi Nadya sudah malas dan ingin segera sampai rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya.

“wah..ini dia..jablay kita…ati-ati ya Blay pulangnya…GWAHAHAHA !!!!”.

“besok kita pinjem memeknya lagi..GAHAHAHA !!”. Nadya pun tidak menghiraukan ejekan dan lecehan mereka, Nadya hanya melintas di depan mereka diam tanpa kata.

Nadya masuk ke dalam mobil dan langsung menuju rumahnya. Sejak saat itu, Nadya resmi menjadi budak Anita. Anita sudah membuat jadwal tetap untuk Nadya. Senin sampai Jumat, Alex, Udin, Jody, dan Jamal bisa mendapatkan kenikmatan ragawi dari tubuh Nadya. Sabtu dan Minggu pun Nadya punya jadwal khusus. Dari Sabtu pagi sampai Sabtu sore, Anita membiarkan Nadya ‘bebas’, tapi Sabtu malamnya, Anita membawa Nadya ke areal kuburan lalu Anita menemui 2 orang penjaga kuburan yang kebetulan sedang istirahat di tempat seperti bale-bale dan bilang ke 2 orang itu kalau malam ini mereka sedang beruntung karena mereka diizinkan menyetubuhi Nadya oleh Anita.

“ah yang bener, neng? kita boleh ngentotin temen neng ini?”.

“iya..Pak..temen saya ini emang pengen banget ngerasain maen di kuburan..”.

“gak mungkin ah..masa cewek cakep kayak neng Nadya…mau dientot ama kita? di kuburan lagi? jangan-jangan neng berdua ini se..se..setan?”. Dua orang itu saling bertatapan dengan pucat pasi. Mereka ingin sekali kabur, tapi wajah cantik Nadya membuat mereka antara takut dan bernafsu.

Mereka kompak mengecek kedua kaki Anita dan Nadya, apakah menyentuh tanah atau tidak. Anita menuntun tangan kedua orang itu ke payudara Nadya.

“coba aja..empuk gak?”, tanya Anita tersenyum.

“iya empuk banget..biarin deh..mau manusia kek..mau setan kek..yang penting cakep..ehehe..”. 2 pria itu semakin asyik meremas-remas payudara Nadya yang sangat empuk dan kenyal itu. Nafsu melihat gadis cantik mengalahkan rasa takut mereka. Apalagi, Nadya tidak berusaha menjauhkan tangan mereka malah melirih pelan menikmati remasan di payudaranya. 2 penjaga kubur itu pun menelanjangi Nadya dan menelanjangi diri mereka sendiri dan mulai menikmati hangatnya tubuh Nadya. Begitu selesai, Anita membawa Nadya pulang ke rumahnya. Anita mengunci kamar Nadya. Sekitar jam 12 alias Minggu siang, Anita membawa Nadya pergi lagi setelah Nadya mandi. Dan kali ini, Nadya dibawa ke rumah sarang pengemis dan anak-anak jalanan biasa berkumpul hanya untuk disetubuhi oleh orang-orang kalangan bawah itu dengan bau badan yang tidak sedap. Tapi, layaknya pelacur sejati, Nadya tidak memperdulikan itu dan menikmati pria-pria jelek menyetubuhinya bergantian. Sabtu berikutnya, Anita membawa Nadya ke areal pemakaman yang sama, tapi kali ini ada 5 orang penjaga kubur. Sepertinya 2 orang kemarin menyebar kabar. Anita malah menyuruh 5 orang itu agar membawa teman lebih banyak minggu depan. Nadya tidak bisa apa-apa selain diam saja meski diperlakukan sangat rendah oleh Anita seperti itu. Seperti halnya di kuburan, tempat pengemis pun semakin ramai. Semakin ramai kuburan dan rumah pengemis itu. Kini, saking ramainya kuburan, Nadya tidak lagi disetubuhi di bale-bale melainkan di kuburan. Kadang Nadya berpegangan pada batu nisan untuk disodomi dari belakang secara bergiliran dan kadang Nadya ditidurkan di atas kuburan untuk disetubuhi secara bergantian oleh para penjaga kubur yang kini sudah lebih dari 20 orang. Anita senang melihat Nadya yang tidak berdaya tapi Anita membayar mereka semua yang ingin menyutubuhi Nadya agar tidak melukai tubuh Nadya.

Bukannya Anita kasihan ke Nadya, tapi Anita hanya ingin tubuh Nadya tetap mulus dan bagus agar laki-laki bernafsu melihatnya. Dan setiap hari Anita pun memberikan obat ke Nadya agar vagina dan anusnya tetap sempit dan kesat. Jadi, sebesar apapun penis yang menghantam vagina atau anus Nadya, keesokan paginya akan kembali seperti semula. Nadya sudah tidak tahan lagi. Selain, tidak tahan dengan Anita yang memperlakukannya seperti pelacur murahan, Nadya juga tidak tahan dengan dirinya yang mulai menikmati dan terbiasa disetubuhi orang-orang yang sangat jauh di bawah standarnya. Nadya merasa dirinya sudah sangat rendah. Tubuh Nadya kini bisa dinikmati siapa saja dengan mudah. Nadya pun melaporkan Anita ke polisi beserta Alex, Jody, Udin, dan Jamal tanpa memikirkan lagi ancaman Anita. Setelah Anita, dan lainnya ditangkap. Nadya pun kembali ke kehidupan normalnya, tidak ada yang tahu kejadian yang Nadya alami termasuk Renata. Kini, tak ada lagi lelaki yang mudah menyentuhnya, dan akibat perbudakan itu Nadya jadi lebih menghargai tubuhnya dan tak asal membiarkan dirinya disentuh seperti dulu. Sepertinya ‘perbudakan’ itu membawa manfaat tersendiri ke Nadya. Segala ujian dari rangkaian ujian akhir pun dilalui. Nadya mengerjakan semua UAN dengan lancar karena dapat bocoran. Dan UAS dia lalui dengan mencontek. Tapi, praktek Nadya lakukan sendiri meski dengan susah payah. Malam prom nite pun datang, Nadya dan Renata datang dengan gaun yang anggun tapi tetap sexy menggoda sehingga Nadya dan Renata menjadi pusat perhatian.

“Nad..gak nyangka..lo hot juga maennya..boleh dong..gue cobain body lo..hehe..”.

“apaan si lo Jo? ngomong ngasal…”.

“liat aja di dalem..film prom nitenya mantep..”. Nadya pun segera bergegas masuk ke ruangan karena tadi dia sedang mengobrol di luar.

“OOHHH !!! MMMMHHH..TERUSSHH Pakhh !!”. Mata Nadya terbelalak melihat film yang sedang diputar. Rekaman waktu Nadya digilir 6 pria di rumah Sapto waktu itu. Nadya melihat seorang gadis tersenyum ke arahnya di ujung meja makan.

“Anita??”.

Explore posts in the same categories: kisah seks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: